Jumat, 12 April 2019

Prinsip Dasar Pertanian dalam Al-Qur'an

Al-Quran sebagai kitab Allah terakhir yang diturunkan buat manusia melalui Rasulullah SAW memuat berbagai informasi mendasar dan lengkap yang dapat menuntun manusia menuju kesejahteraan hidup di dunia hingga di akhirat. Al-Quran memaparkan ayat-ayat  secara global yang dapat digali dan sekaligus mendorong manusia untuk menggalinya sesuai dengan perkembangan kemampuan yang dimiliki.  Ayat-ayat Al-Quran juga sesuai dengan fitrah kehidupan sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Di dalam pengelolaan sumberdaya tanaman Al-Quran memberikan prinsip-prinsip dasar, yang sebenarnya hal itu sesuai dengan salah satu kecenderungan manusia untuk mengelola sumberdaya tanaman.  Ini mengandung arti bahwa meskipun manusia tidak membaca Al-Quran  tetap mempunyai kecenderungan mengelola sumberdaya tanaman untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan pengelolaan pertanian disamping seirama dengan kecenderungan manusia juga mengadakan koreksi  dan membimbing agar pengelolaan pertanian benar-benar memiliki fungsi yang utuh  dalam mengantarkan pada kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat.
Di dalam pertanian, daya dukung pertama yang perlu diperhatikan adalah tanah (bumi) sebagai tempat tumbuhnya tanaman. Al-Quran memberikan penakanan agar manusia mempelajari dan meneliti masalah pembentukan tanah dan proses yang terjadi di dalamnya untuk selanjutnya dapat memperoleh manfaat seoptimal mungkin (QS, 2:164; 3:190; 14:32; 15:85; 16:3; 20:4; 21:16; 25:59). Bumi yang dijadikan sebagai hamparan (QS. 2:22; 15:19; 20:53) menyimpan berbagai sumberdaya yang harus digali dan dimanfaatkan untuk kepentingan hidup manusia.
Dari tanah yang terhampar luas akan di dapati berbagai jenis tanah atau bagian-bagian tanah yang antara satu bagian dengan bagian lainnya memiliki sifat fisik, kimiawi, dan biologis yang berbeda meski saling berdampingan (QS. 13:4) sehingga dapat menghasilkan keragaman jenis maupun tingkat produktifitas tanaman.
Kesuburan tanah merupakan prasarat yang harus diperhatikan di dalam budidaya pertanian. Sebab produksi tanaman berbanding lurus dengan tingkat kesuburan tanah. Produksi tanaman akan semakin tinggi sesuai dengan tingkat kesuburan tanah, dan akan cenderung menurun bilamana tingkat kesuburan tanah menurun (QS. 7:58).
Proses pembentukan tanah dan berbagai perubahan yang terjadi di dalamnya sangat tergantung dari komposisi dan dinamika komposisi bahan baku penyususn tanah, yang terdiri dari  bahan mineral, bahan organik, udara, dan air. Air dan udara merupakan faktor penentu hidup dan matinya tanah. Proses pembentukan dan pelapukan tanah tidak akan berlangsung tanpa adanya air dan udara. Keseimbangan air dan udara di dalam tanah akan menentukan kehidupan mikroorganisme yang membantu proses pelapukan dan pembentukan.
Air merupakan faktor yang menyebebkan alam raya, khususnya bumi menjadi hidup (QS. 21:30). Al-Quran juga menyatakan bahwa dengan adanya air itulah tanah akan dapat menyediakan unsur kehidupan atau mengalami proses pembentukan dan pelapukan sehingga dapat menyediakan unsur hara bagi tumbuhnya berbagai jenis tanaman (QS. 25:49; 30:24; 35:9; 41:39; 43:11, dan 50:11).
Selain berfungsi sebagai unsur pembentuk dan penyedia unsur-unsur kehidupan di dalam tanah, air juga berpengaruh langsung terhadap tanaman. Dalam pertumbuhan awal misalnya, air akan memperlunak tanah dan sekaligus memecah dormansi biji-bijian yang ditanam (QS. 36:33; 80:25-32). Di dalam pertumbuhan tanaman air sangat berperan dalam berbagai proses fisiologis. Sel-sel tanaman tidak akan dapat bekerja tanpa adanya air. Proses imbibisi dalam pengambilan nutrien dari dalam tanah misalnya, tidak akan berlangsung dengan baik apabila kandungan air pada sel-sel akar tidak memenuhi syarat optimal. Demikian pula dengan proses-proses fisiologis lainnya. Jadi dengan demikian proses pertumbuhan tanaman tidak akan terjadi tanpa adanya air (QS. 2:22; 6:95; 7:57; 14:32; 16:10; 20:53; 22:63; 23:19; 27:60; 31:10; 35:27; 45:5; 50:9; dan 78:15).
Mempelajari masalah air tidak bisa dipisahkan dengan mempelajari dan mengkaji proses klimatologis. Al-Quran menunjukkan dengan jelas bahwa terjadinya hujan sebagai sumber penyedia air berlangsung melalui proses perawanan. Uap air dari segala jenis makhluk yang ada di bumi naik sampai batas tertentu kemudian dibawa angin dan dengan proses kondensasi akhirnya membentuk awan (QS. 7:57). Dari gumpalan-gumpalan awan yang saling tarik menarik dan dipengaruhi pula oleh grafitasi bumi serta terjadinya perubahan tekanan udara maka terjadilah hujan (QS. 35:9). Proses terjadinya hujan serta manfaat langsung hujan terhadap pengelolaan sumberdaya pertanian diungkap secara tugas pula di dalam Al-Quran (QS. 2:164; 6:99; 14:32; 16:10; 18:45; 18:53; 23:19; 25:49; 27:60; 31:10; 35:27; 45:5; 50:9; 78:14-16; 80:25-32).
Air hujan disamping dimanfaatkan secara langsung oleh tanaman, juga harus dikelola dengan berbagai teknologi irigasi. Hal ini dikarenakan sebagian air hujan mengalir di permukaan bumi (run off), termasuk di berbagai lembah (QS. 13:17) dan sebagian juga meresap  (ilfiltrasi) ke dalam tanah yang akhirnya menetap sebagai air tanah (QS. 39:21) sampai membentuk sumber-sumber air  dan mata air yang terpancar (QS. 36:3; 79:31).
Tanaman sebagai obyek utama dalam pengelolaan pertanian (pertanian dalam arti sempit) diungkap secara jelas di dalam Al-Quran. Pengungkapan tentang pertumbuhan tanaman terkait langsung dengan pengungkapan masalah air dan tanah. Disamping itu pengungkapan tanaman menyangkut masalah produksi.  Beberapa ayat Al-Quran  menunjuk secara langsung tentang produksi mentimun, bawang putih, bawang merah, adas, dan berbagai jenis hortikultura lainnya (QS. 2:61). Demikian pula dengan jenis tanaman perkebunan seperti anggur, kurma, zaitun, delima, dan sebagainya (QS. 6:99; 13:4; 16:10-11; 18:32; 36:34; 80:25-32; 87:1-4; dan 95:1).
Penekanan secara khusus tentang produksi tanaman menunjukkan bahwa orientasi budidaya pertanian bukan hanya menanam tetapi lebih menekankan pada produksi. Dengan orientasi produksi itulah maka manusia akan mengembangkan teknologi pertanian, melakukan efiesiensi dalam pengelolaan, dan akhirnya akan dapat menikmatinya sebagai rizki Allah (QS. 14:32, 16:69).
Meskipun produksi merupakan orientasi atau tujuan dalam budidaya pertanian namun di dalam kaidah pengelolaan sumberdaya pertanian perlu memperhatikan batas kemampuan setiap sumberdaya yang ada sehingga dapat ditekan seminimal mungkin dampak kerusakan yang ditimbulkannya. Allah menginformasikan bahwa segala sesuatu ciptaan Allah memiliki batas kemampuan tertentu (QS. 25:2; 54:49) yang akan menimbulkan berbagai dampak kerusakan dan tidak memberikan tingkat produksi optimal manakala pengelolaannya melebihi kadar kemampuan yang dimiliki.
Pengolahan produksi pertanian menjadi barang industri, misalnya pembuatan minuman dari buah anggur (QS. 16:67), pengolahan minyak dari pohon zaitun (QS. 23:20) merupakan bahan kajian khusus tentang pengembangan industri hilir. Lebih jauh Al-Quran juga memberi pelajaran cukup berharga  bagaimana negara harus menyediakan stok pangan bagi seluruh warga seperti dalam kisah Nabi Yusuf as.
Zakat produksi pertanian merupakan merupakan kewajiban yang harus dipenuhi bagi setiap orang yang berusaha dalam produksi pertanian. Semua produksi pertanian yang telah sampai nasab wajib dikeluarkan zakatnya antara 5 % sampai 10 % pada saat panen. Dengan pembersihan harta dari produksi petanian itulah akan berpengaruh secara signifikan terhadap keberlangsungan usahatani. Sebab Allah jelas akan memberi berkah terhadap produksi, proses produksi, dan konsumsi hasil pertanian bila para petani dapat memenuhi kewajiban zakat.
Zakat pertanian juga akan lebih memiliki implikasi kesejahteraan bagi para petani dan masyarakat secara umum bilamana dijadikan landasan kebijakan pembangunan pertanian oleh pemerintah atau organisasi kemasyarakatan yang memiliki anggota dan simpatisan petani. Dan bagi para petani kecil dengan produksi pertanian belum samapi batas nisab dikembangkan pula model infaq atau shadaqah produksi pertanian.
Di dalam pendekatan Al-Quran, pengkajian dan aplikasi usaha di bidang pertanian bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik. Tetapi dengan pengakajian dan terjun langsung dalam bidang pertanian harus diarahkan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Karena realitas juga menunjukkan bahwa usaha bidang pertanian begitu banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor perubahan yang sangat sulit untuk diperkirakan.

Bambang Nurmuis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Hati Seorang Dara

dalam cacatan kecil pada serpihan kertas yang tergeletak di antara tumpukan kertas seorang dara yang telah cukup usia  menuliskan episode pe...