Pembahasan fitrah selama ini ditujukan pada sifat dasar manusia yang mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Tinjauan tauhid ini didasarkan pada pernyataan dalam Al-Quran Surat Al-Araf ayat 172 yang menyatakan bahwa sebelum manusia diciptakan Allah telah mengambil kesaksian pada ruh manusia tetang pengakuan ke-Tuhan-an. Di samping itu di dalam hadits Rasulullah juga menegaskan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (mengakui keesaan Tuhan), dan orangtuanyalah yang menyebabkan ia menjadi nasrani, yahudi, ataupun majusi.
Sebagai potensi dasar maka fitrah manusia dapat dibangun yaitu manakala manusia benar-benar mengarahkan diri serta memperjuangkan secara terus menerus dalam mentaati prinsip-prinsip kebenaran Illahi, atau sebaliknya dapat hancur yaitu manakala manusia melakukan pengingkaran terhadap prinsip kebenaran Illahi (QS. 30:30).
Mengingat bahwa manusia merupakan salah satu makhluk Allah yang disamping berhubungan dengan Allah sebagai Sang Pencipta, juga berada di antara makhluk-makhluk lain maka secara implementatif fitrah manusia dapat dibagi menjadi 4 (empat) bentuk interaksi, yaitu : (1) fitrah interaksi dengan Allah, (2) fitrah interaksi dengan sesama manusia, (3) fitrah interaksi dengan alam sekitar, serta (4) fitrah interaksi dengan jin dan malaikat.
Dalam interaksi dengan Allah pada dasarnya manusia mengakui bahwa Allah adalah Tuhan-nya. Atau dengan kata lain manusia menyadari bahwa dirinya sebagai makhluk yang seharusnya tunduk dan taat pada-Nya (QS. 7:172) Hancurnya fitrah ini akan melahirkan sikap dan tingkah laku syirik dan bahkan sampai kafir (fitrah interaksi dengan Allah terdestruksi sempurna, sampai hilang dan menentang). Penyebab terdestruksinya fitrah interaksi dengan Allah terbentuk oleh kontak dengan lingkungan yang tidak mendukung dalam konteks kehidupan manusia yang panjang, atau akumulasi berbagai penyimpangan fitrah dalam dialektika kultural. Setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanyalah yang menyebabkan dia terjerumus menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR. Turmudzi). Pengaruh kontak dengan lingkungan tersebut muncul dalam kesombongan, pembangkangan, sikap tidak kritis, minder, dan sebagainya. Sehingga dengan begitu manusia manusia lalai pada perjanjian dengan Allah atas pengakuan ketuhanan-Nya (QS. 57:8).
Dalam fitrah interaksi dengan sesama manusia pada dasarnya manusia mempunyai kecenderungan untuk hidup harmonis dalam kebersamaan. Tetapi karena beberapa perbedaan yang kadang sulit dipertemukan maka timbullah konflik yang saling menghancurkan. Hal ini didukung pula oleh adanya nafsu yang berjalan bebas untuk dapat dipenuhi secara berlebihan. Muncullah iri, dengki, dendam dan kemudian terefleksi dalam bentuk perilaku memfitnah, mengumpat dan sebagainya. Untuk menjaga tegaknya fitrah hubungan sesama manusia Islam memberikan beberapa prinsip dasar seperti musyawarah (QS. 3:159), lapang dada atau mau memaafkan kesalahan orang lain serta dapat membalas budi baik (QS. 41:34-35, 42:40, 23:96), pemungutan zakat (QS. 9:103, 9:60) , dan sebagainya. Disamping itu adanya perintah untuk memerangi orang kafir dan berjuang memberantas segala bentuk kemungkaran juga merupakan cara yang harus ditegakkan dalam rangka menyelamatkan nilai-nilai fitrah hubungan dengan sesama manusia. Karena tanpa ada upaya memerangi kemunkaran maka yang terjadi adalah berbagai macam penindasan antar sesama manusia.
Fitrah interaksi manusia dengan alam sekitar (alam syahadah), baik yang dekat maupun yang sampai saat ini belum terjangkau adalah bahwa manusia mempunyai kecenderungan untuk menguasai sedangkan alam mempunyai kecenderungan untuk dikuasai. Fitrah ini berjalan secara otomatis sehingga manusia dapat menjalani hidup dengan mudah dan rapi seperti tiada disadari kalau diatur oleh Allah dengan berlakunya takdir dan sunnah-Nya. Keotomatisan tersebut membuat manusia dengan mudah menikmati berbagai kemurahan Allah sekalipun dia seorang kafir dalam ketauhidan. Dalam realitas dapat kita saksikan bahwa seorang anak yang hidup di pedesaan dengan lingkungan pertanian, fitrah interaksi dengan alam akan cenderung terwujud dalam pengelolaan bidang pertanian. Keahliannya sebagai petani akan muncul karena dia, secara sadar atau tidak, telah mengarahkan fitrah hubungan dengan alam (menggeluti dunia sekelilingnya) dalam rangka mewujudkan kesejahteraan hidup. Apabila potensi dayafikir yang dimiliki dapat dikembangkan dengan baik maka dia akan mampu menunjukkan prestasi gemilang dalam bidang pertanian.Dan manakala potensi dayafikir dipadukan secara seimbang dengan potensi ketaatan pada Allah maka ia akan tampil sebagaai manusia yang mampu mewujudkan kesejahteraan hidup bersama.
Di dalam penegakan fitrah hubungan manusia dengan alam maka perlu dipahami bahwa (i) segala sesuatu yang ada adalah ciptaan dan milik Allah, sedangkan manusia hanya memiliki kewenangan mengelola, dan (ii) segala sesuatu diciptakan Allah mimiliki kadar tertentu, yang akan rusak bilamana dieksploitasi di luar batas kadar yang dimiliki. Hancurnya fitrah interaksi manusia dengan alam sekitar menyebabkan percepatan kehancuran alam. Kerusakan alam memang sesuatu yang pasti terjadi, tetapi kerusakan yang diluar batas kewajaran atau proses kerusakan yang begitu cepat adalah karena campur tangan manusia dalam eksploitasi alam di luar batas kemampuan alam itu sendiri. Allah juga telah menegaskan bahwa berbagai kerusakan alam ini adalah akibat ulah manusia sendiri (QS. 30:41).
Fitrah interaksi manusia dengan jin dan malaikat merupakan pola hubungan ghaibiah dalam bentuk netral, merongrong, atau mendukung bentuk fitrah yang lain. Malaikat dan kelompok jin mukmin akan mendukung manusia dalam menegakkan fitrah hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan alam sekitar (QS. 8:9). Keduanya bisa juga netral dan mengutuk manusia yang tidak mampu menegakkan fitrah tersebut. Sebaliknya kelompok jin kafir (memiliki sifat syaithaniah) akan bekerjasama dan mendukung pengingkaran-pengingkaran fitrah oleh hawa nafsu manusia (QS. 72:6, 5:91). Meskipun secara kasad mata sulit untuk dibuktikan maka berdasarkan prinsip aqidah islamiyan maka kelompok jin kafir inilah yang turut membantu prnghacuran fitrah.
Bambang Nurmuis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar