dalam cacatan kecil pada serpihan kertas
yang tergeletak di antara tumpukan kertas
seorang dara yang telah cukup usia
menuliskan episode perjalanan hidupnya
"teman-temanku selalu mentertawai
aku terlampau jauh melambungkan mimpi
karena hatiku begitu lekat dengan lelaki beristri
teman-temanku selalu menasihati
hati-hati lekat dengan lelaki beristri
karena akan membuat hidup bercerai berai"
di antara lembar kesibukannya
seringkali melenusuri jejak perjalanannya
dan bertanya pada dirinya
"akankah tawa dan nasihat akan kudengar
ataukah kubiarkan ia bagai kicauan
dan aku tetap pada suara hati sejati"
di setiap menukar kelelahan dengan malam
dan di ujung sujudnya
gulana menghantui dirinya
"salahkah suara hati aku nyatakan sejujurnya
sehingga aura hidupku bergitu ceria
ataukah kuingkari dan aku membelenggu diri"
lama ia merendam dalam getirnya malam
lama ia merenungi di antara terik matahari
lagi-lagi ia tak mampu melepas suara hati
dan iapun mematri yang diyakini
"hari ini aku tetap pada jalan ini
dengan tetap menjaga diri
seperti sikap hidup lelaki yang kuintai
yang tetap menjaga agar harga diriku tak ternoda"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar