Jumat, 12 April 2019
Manusia dan Tugas Kekhalifahan
Kehadiran manusia di muka bumi sejak semula memang telah dititahkan oleh Allah sebagai khalifah (Qs. 2:30; 35:39). Sebagi khalifah, tentunya di bumi inilah manusia harus berkiprah. Fungsi kekhalifahan tidak bisa ditegakkan apabila manusia berada jauh dari tempat yang dikhalifahi. Bumi menjadi tempat pergulatan hidup manusia, yang daripadanya tersedia berbagai sumber penghidupan (Qs. 7:10). Karena itu tiada satu makhlukpun yang didayagunakan manusia kemudian memiliki sikap konfrontatif atau melawan secara berkepanjangan. Segala sesuatu telah ditundukkan-Nya buat kepentingan manusia (Qs. 13:2; 14:33; 16:12,14)
Tidak dapat dibayangkan apabila tanah yang diolah untuk kegiatan pertanian, pertambangan, bangunan, dan berbagai kepentingan manusia mengadakan protes atau menentang, hewan yang diburu lebih dulu menyerbu, dan segala bentuk protes dari semua makhluk lainnya. Dapatkah manusia melawan semuanya apabila Allah tidak mentakdirkan semua tunduk kepada manusia. Tentu manusia tidak akan berdaya. Dari pemaparan ayat-ayat Al-Quran baik yang tersurat maupun tersirat serta dapat dilihat dlam realitas kehidupan, di alam raya ini terdapat sepasang potensi makhluk yang membawa keharmonisan, yaitu (1) manusia dengan potensi aktif, dan (2) alam dengan potensi pasif.
Potensi aktif pada manusia dan potensi pasif pada alam tidak terpisah secara tegas seperti halnya hitam dan putih. Akan tetapi sesuai dengan sunatullah perubahan secara bertahap atau berlapis, seperti halnya seberkas bianglala atau lapisan-lapisan tanah. Manusia memiliki tingkat keaktifan yang berbeda antara satu dengan lainnya dengan mengikuti kaiadah tingkat perubahan bertahap, dari tingkat tertinggi sampai terendah. Demikian pula dengan makhluk selain manusia. Di alam ini juga terdapat makhluk yang memiliki tingkat kepasifan tertinggi hingga kepasifan terendah. Antara manusia dengan tingkat keaktifan terendah dengan makhluk lain (hewan dan tumbuhan) yang memiliki tingkat teaktifan tertinggi hampir mamiliki kesamaan; meski kita tidak boleh menyamakan.
Untuk sekedar memberi gambaran dapat dibandingkan antara gorilla dengan manusia ediot. Gorila mewakili alam dengan tingkat kepasifan tinggi dan manusia ediot mewakili manusia dengan tingkat keaktifan rendah. Ini bukan membandingkan antara manusia dengan makhluk lain/binatang, tetapi memang seperti itulah realitas kehidupan berbicara. Dan itulah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah yang memang harus difikirkan dan dijadikan salah satu referensi kehidupan. Itulah salah satu ayat kauniyah yang memang oleh Allah dihadapkan pada orang-orang yang dapat menggunakan akalnya. Namun demikian serendah apapun tingkat potensi aktif manusia ia tetap sebagai manusia dan masuk dalam jajaran khalifah. Hanya memang memerlukan peran yang tidak bisa disamakan dengan manusia yang memiliki tingkat keaktifan yang tinggi.
Untuk memperjelas pemahaman terhadap beberapa persepsi di atas dapat diikuti melalui diagram grafis berikut.
Dari gambaran grafis tersebut dapat dilihat bahwa arah pendayagunaan berjalan searah dengan berkurangnya potensi aktif pada manusia sampai pada meningkatnya potensi pasif pada alam/makhluk lain. Hal ini mengandung makna bahwa manusia yang memiliki potensi aktif lebih tinggi akan mendayagunakan manusia lain yang memiliki potensi aktif di bawahnya dan makhluk-makhluk lain yang ada di alam ini. Bentuk pendayagunaan yang terjadi tentu bemacam-macam dan sangat variatif sesuai dengan kegiatan hidup.
Bumi yang memiliki tingkat potensi pasif tertinggi akan didayagunakan oleh air, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk lainnya sampai pada manusia. Sedang manusia yang memiliki potensi aktif tertinggi akan mendayagunakan makhluk lainnya baik dalam bentuk kepemimpinan, penguasaan, sampai penjajahan; termasuk di dalamnya adalah pendayagunaan pada jin.
Mencermati lebih jauh terhadap rangkaian pengertian di atas dapat ditangakap sebuah makna tentang posisi manusia terhadap makhluk lain di alam raya ini. Manusia adalah khalifah di muka bumi.
Mengemban amanah kekhalifahan berarti mewujudkan tugas-tugas dalam menciptakan kesejahteraan hidup yang berorientasi pada rahmatan lil alamin. Oleh karena itu Allah menetapkan sebuah pengaturan bahwa manusia harus berusaha dan tidak boleh menganggur atau mengangankan sebuah kesejahteraan hidup yang datangnya tiba-tiba. Manusia harus menggunakan potensi aktifnya untuk mendayagunakan alam dalam mewujudkan sebuah kesejahteraan. Berusaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh adalah sebuah kemuliaan. Allah mengecam orang-orang yang hanya mementingkan semedi atau menyendiri dengan alasan membersihkan diri. Para Rasul-pun sebagai manusia pilihan juga bekerja dan berjuang keras untuk mencari kemuliaan di hadapan Allah (QS. 6:135).
Dan Allah juga tidak akan mengubah nasib suatu kaum bila kaum itu tidak bekerja keras untuk melakukan suatu perubahan yang berorientasi pada perbaikan hidup atau kesejahteraan (QS. 13:11). Selanjutnya prasyarat secara khusus agar manusia dapat benar-benar memfungsikan diri sebagai khalifah di muka bumi adalah harus senantiasa meneguhkan tingkat keimanan dan beramal shalih (QS. 24:21)
Bekerja dan berjuang dalam mengemban amanah kekhalifahan tidak hanya melalui pendayagunaan potensi alam, akan tetapi juga berusaha keras dalam memerangi semua bentuk kejahatan dan penyelewengan moral. Karena, jika penyelewengan dibiarkan terus berkembang maka yang terjadi adalah berbagai bentuk kerusakan yang akan membawa bencana besar bagi kehidupan umat manusia.
Dengan demikian dapat pula kita pahami bahwa ternyata memang antara amar maruf (perjuangan yang berorientasi pada terwujudnya kaidah-kaidah kebaikan) dan nahi munkar (perjuangan untuk mengatasi semua bentuk kejahatan) adalah merupakan bagian dari amanah kekhalifahan. Manusia harus berjuang keras untuk memenangkan tegaknya kebenaran meskipun harus menelan berbagai kepahitan di dalam setiap langkah perjuangannya.
Suatu keunikan di dalam perjuangan tersebut adalah kecenderungan destruktif hawa nafsunya sendiri yang harus dikalahkan. Hawa nafsu adalah dorongan keinginan manusia yang berlebihan, yang menyimpang dari fitrah kehidupan. Perjuangan melawan hawa nafsu adalah perjuangan akbar.
Nafsu memang merupakan rahmat Allah dan merupakan perangkat hidup yang menyebabkan manusia dapat hidup secara dinamis. Nafsu adalah pendorong kehidupan untuk mencapai derajat tertentu dihadapan Allah maupun dihadapan sesama manusia. Nafsu juga dapat membentuk manusia dalam mencapai hakikat kemanusiaannya. Bahkan apabila manusia dapat mengarahkan nafsunya sesuai dengan fitrah dan prinsip kebenaran Illahiah (nafs al-muthmainah) maka ia akan menduduki posisi mulia. Sebaliknya bilamana nafsu diarahkan pada pengingkaran terhadap kebenaran maka ia akan kehilangan hakikat kemanusiaannya atau ia turun pada posisi serendah-rendahnya makhluk (QS. 95:5).
Mengemban amanah kekhalifahan memang tidak seringan sepeti yang dibayangkan. Beratnya amanah itu juga telah disampaikan secara dialogis di dalam Al-Quran. Sebelum amanah kekhalifahan diserahkan kepada manusia, Allah telah menawarkan kepada seluruh benda yang ada di alam ini akan tetapi semuanya menolak. Dan akhirnya manusialah yang sanggup menerimanya (QS. 33:72).
Allah Maha Tahu tentang permasalahan manusia semenjak sebelum diciptakan. Berkaitan dengan rencana Allah untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, maka diberikannya berbagi potensi perlengkapan yang lebih tinggi dibanding makhluk lainnya (QS. 17:70). Wujud potensi tersebut adalah potensi rohaniah, yang dengan potensi itu disempurnakan kejadiannya (QS. 7:28- 29; 38:71-72)
Manusia akan benar-benar menjadi manusia sempurna manakala dapat melakukan optimalisasi potensi rohaniahnya, yaitu keseimbangan antara pengembangan daya pikir dengan pengembangan ketaatan pada prinsip kebenaran Illahi disertai dengan kondisi fisik yang mendukung. Pada kondisi seperti itu Malaikat-pun akan sujud pada manusia (QS. 7:11; 15:29-30; 38:72-73; 2:34).
Untuk menelaah lebih jauh tentang kedudukan makaikat terhadap manusia (Adam) perlu disimak kembali penjelasan Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 31-33, yang ayat ini diungkapkan antara ayat yang menegaskan titah kekhalifahan manusia (QS. 2:30) dan ayat yang menjelaskan ketundukan malaikat pada manusia (QS. 2:34)
”Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-mana benda seluruhnya, kemudia Adam mengemukakannya kepada para malaikat. Kemudian Allah berfirman pada malaikat,Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu bila kamu memang orang-orang yangbenar. Malaikat menjawab,Maha Suci Engkau. Tiada kami kethui selain yang telah Engkau ajarkan. Sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman,Wahai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama benda-benda ini. Maka setelah Adam memberitahukannya, Allah berfirman ,Bukankah telah Aku jelaskan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui apa-apa yang engkau lahirkan dan yang engkau sembunyikan.
Secara eksplisit ayat tersebut menggambarkan kemampuan Adam dalam mengembangkan potensi dayafikir sehingga mampu mengidentifikasi berbagai macam benda yang ada di sekelilingnya. Kemampuan Adam mengidentifikasi benda-benda yang ada melahirkan konsepsi penamaan yang berbeda-beda sesuai takdir dan sunnah yang ditunduki masing-masing benda atau sesuai keadaannya.
Secara implisit dari penuturan ayat tersebut juga tergambar kemampuan Adam dalam mengembangkan ketaatan kepada Allah SWT. Atau dengan kata lain Adam telah mampu mengembangkan potensi rohaniah secara optimal.
Potensi rohaniah pada manusia merupakan perangkat utama yang dapat menjadikan manusia sebagai makhluk yang lebih tinggi kedudukannya dari makhluk-makhluk yang lain. Namun demikian perlu disadari bahwa potensi rohaniah tidak langsung berfungsi secara sempurna. Potensi rohaniah mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan secara bertahap dan teratur yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal.
Tingkat penyimpangan genetis sebagai faktor internal dan juga pergeseran psiko-sosiologis sebagai faktor eksternal akan mempengaruhi tingkat optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan potensi rohaniah. Perbedaan tingkat penyimpangan masing-masing individu yang memang pasti terjadi menyebabkan perbedaan kemampuan. Penyimpangan genetis dan pergeseran psiko-sosiologis yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia di bumi melahirkan kekurangan atau ketidaksempurnaan kehidupan manusia.
Sifat keluh kesah (QS. 70:19), menyombongkan diri (QS. 17:37), lupa, tergesa-gesa, dan sebagainya merupakan unsur yang melekat pada manusia akibat kurang berkembangnya secara optimal potensi rohaniah. Akibatnya muncul berbagai kerelatifan dalam berbagai aspek yang diputuskan.
Kerelatifan yang memang pasti terjadi pada manusia. Karena itulah maka diperlukan Kitab yang memperikan penjelasan dan peringatan dengan kebenaran mutlak. Sebab apabila manusia hanya berpegang pada berbagai kerelatifan keputusan manusia sendiri maka hidup dan kehidupan manusia akan terombang-ambing dan berlaku destruktif yang seringkali juga tidak disadari.
Pedoman kebenaran mutlak (Al-Quran) yang diturunkan Allah itupun juga tidak mampu ditangkap secara sempurna oleh seseorang (kecuali Rasulullah saw) karena berbagai keterbatasan dan kerelatifan yang ada. Perbedaan-perbedaan penafsiran, perbedaan-perbedaan pemahaman terhadap teks Al-Quran adalah sesuatu yang wajar. Karena itulah sebenarnya adanya perbedaan penafsiran atau pemahaman harus dijadikan acuan untuk memperluas cakrawala, meneruskan mata rantai pengkajian terhadap kebenaran, dan melahirkan sebuah kebersamaan.
Pengembangan potensi rohaniah dalam kehidupan bersama memang diperlukan kerjasama dan penegakan nilai-nilai kebenaran agar dapat diwujudkan fungsi kekahlifahan (QS. 5:2). Disamping itu diperlukan pula transformasi pengalaman dan pengetahuan antar generasi karena memang secara realitas kehadiran manusia memang tidak bersamaan.
Demikian kompleks kehidupan manusia di bumi. Makna kekhalifahan bukan hanya terkait dalam pengelolaan alam raya untuk mewujudkan sebuah kemakmuran. Akan tetapi fungsi kekhalifahan juga terkait langsung dengan makna kehadiran manusia sebagai salah satu makhluk yang diciptakan untuk mengabdi pada Allah (QS. 51:56). Fungsi kehadiran manusia di bumi memiliki keterkaitan langsung dengan fungsi keakhiratan. Karena itu apapun dan seberapapun amal/perbuatan/tindakan yang dilakukan manusia, baik itu berupa kebajikan maupun kejahatan, ketaatan maupun pengingkaran akan dipertimbangkan dan mendapatkan balasan (QS. 99:7-8).
Bambang Nurmuis
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Catatan Hati Seorang Dara
dalam cacatan kecil pada serpihan kertas yang tergeletak di antara tumpukan kertas seorang dara yang telah cukup usia menuliskan episode pe...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar