Senin, 22 April 2019

Bershodaqoh

AL-BAQARAH : 261-274

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh malai, dan masing-masing malai mebuahkan seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
(Qs. 2:261)

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Qs. 2:262)

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Qs. 2:163)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ


Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Qs. 2:264)

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (Qs. 2:265)

أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (Qs. 2:266)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَلا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (Qs. 2:267)

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Qs. 2:268)


Menafkahkan harta dijalan Alloh adalah memanfaatkan harta benda untuk berbagai kegiatan yang diijinkan Alloh/tidak melanggar perintah Alloh demi kebaikan diri sendiri atau orang lain baik dalam bentuk Zakat Maal, Infaq, maupun Shodaqoh
Orang yang membelanjakan harta di jalan Alloh diibaratkan menanam 1 butir padi yang tumbuh menjadi 7 batang dan masing-masing malai yang muncul daripadanya menghasilkan 100 biji. Artinya siapapun yang membelanjakan harta di jalan Alloh pasti panen berlipat ganda. Dalam gambaran ayat 261 surat Al-Baqarah tersebut dilipatkan pahalanya menjadi 700 kali lipat.

Persyaratan :
  1. Secara Fisik/Wujud : Harta/barang yang diberikan adalah barang yang baik, bukan barang yang kita sendiri tidak menyukainya (Qs. 2:267)
  2. Sikap dalam pemberian (a) Jika sudah disedekahkan tidak disebut-sebut, diberberkan kesana kemari (bersikap ikhlas), dan (b) Tidak menyingggung/menyakiti perasaan penerima (Qs. 2:262 dan 264)

Cara menafkahkan : (a) Terang-terangan, (b) Diam-diam, yang kedua-duanya diperbolehkan, tergantung sasaran yang menerimanya dan sitiuasi (Qs. 2: 271 dan 274)

Dampak positif  Membelanjakan Harta di jalan Alloh : (a) Nilai sedekah akan kembali kepada diri sendiri, mulai di dunia sampai akhirat, (b) Tidak akan mengurangi kekayaan, tapi malah menumbuhsuburkan nikmat Alloh (Qs. 2:265 dan 272)

Trenggalek, 23 April 2019

Mengkomunikasikan Gagasan

Gagasan atau ide adalah ibarat motor penggerak sebuah perubahan. Gagasan atau ide merupakan energi yang mampu menggerakkan tekad seseorang untuk melakukan tindakan, amal atau usaha dalam bentuk karya di semua bidang kehidupan.
Sebuah gagasan bisa berupa hal-hal yang baru yang melahirkan karya kreatif, perubahan cara melakukan sesuatu pekerjaan atau sering disebut dengan pembaharuan, atau bahkan hanya sebuah metode atau cara dalam mengerjakan sesuatu sehingga melahirkan efektivitas dalam kegiatan tersebut.
Dilihat dari lingkupnya, sebuah gagasan bisa hanya mempunyai lingkup pribadi, keluarga, lingkungan kecil, komunitas atau jamaah, sampai dengan gagasan dengan lingkup yang sangat luas.
Untuk gagasan yang hanya memiliki lingkup pribadi bisa dapat langsung langsung diwujudkannya sendiri menjadi sebuah karya atau tindakan. Tetapi gagasan yang menyangkut orang lain, mulai dari keluarga, jamaah, komunitas, sampai dengan masyarakat yang lebih luas perlu perjuangan untuk mewujudkannya. Bahkan ada juga tidak bisa terwujud karena kendala dari berbagai faktor.
Banyak gagasan yang baik, akan tetapi berhubung si pembawa gagasan kurang mampu mengkomunikasikannya maka bisa kandas di tengah perjalanan.
Di dalam Al-Qur'an, Allah SWT telah memberi tuntunan kepada ummat manusia bagaimana mengkomunikasikan sebuah gagasan. Secara garis besar dikemukakan bahwa sebuah gagasan harus berprinsip pada "fal yaqul-qaulan baligha" (disampaikan dengan bahasa yang komunikatif atau dimengerti oleh kelompok sasaran), "fal yaqul-qaulan syadida" (disampaikan dengan kata-kata yang menyentuh). Dan masih banyak lagi.
Apabila sebuah gagasan dapat dikomunikasikan dengan cara yang tepat maka akan terjadi kontak batin antara pemilik gagasan dengan orang lain yang.akan menerima dan mewujudkan gagasan tersebut atau tercipta wamaddah fil qurba (adanya jembatan rasa) yang menimbulkan pengertian dan keserasian.
Mengkomunikasikan gagasan dapat berhasil manakala dilakukan dengan berpedoman pada langkah praktis sebagai berikut:
  1. Rancanglah gagasan dengan baik, sehingga mudah dijelaskan kepada sasaran penerima gagasan. 
  2. Jelaskan gagasan dengan berhati-hati, pergunakan bahasa yang singkat, mudah ditangkap atau komunikatif (qaulan baligha), jelaskan dengan bahasa yang sedeehana sehingga orang dungupun dapat menerima, serta beri alasan yang tepat dan juga tidak mengancam kedudukan orang lain.
  3. Perhatikanlah waktu yang tepat dalam mengemukakan gagasan, sehingga penerima gagasan dapat mencernanya dalam suasana yang longgar dan tidak terganggu aktivitasnya atau apa yang sedang ditekuninya, termasuk juga suasana psikologis dari sasaran.
  4. Pergunakanlah prinsip daya guna gagasan bagi orang lain atau sasaran, upayakan bahwa gagasan itu tidak hanya berguna untuk diri sendiri atau bahkan sasaran penerima yang akan mendapat keuntungan dari gagasan anda
  5. Buatlah gagasan itu betul-betul meyakinkan, dengan prinsip berbicara terus terang tanpa menyembunyikan sesuatu atau menjanjikan sesuatu yang muluk-muluk 
  6. Pakailah penilaian sasaran penerima gagasan dengan tepat, yaitu dengan memahami terlebih dahulu siapa sasaran penerima gagasan.
  7. Ikutsertakan orang lain dalam pelaksanaan gagasan, dengan memberi kesempatan orang lain untuk ikut memperbincangkan gagasan anda. Dalam bahasa psikologi, dengan terlibatnya orang lain dalam perbincangan gagasan anda maka akan terjadi proses internalisasi gagasan sehingga gagasan itu menjadi milik orang uang anda libatkan
  8. Ujilah keampuhan gagasan anda sebelum orang lain menegur kelemahannya, dalam hal ini jika gagasan itu akan menyangkut masyarakat luas maka perlu diuji dulu keampuhannya untuk sasaran terbatas yang biasanya cukup kritis terhadap sebuah gagasan. Jangan takut dikritik dan.diberi masukan.
  9. Lakukan pembaharuan gagasan bilamana memang ada kritik atau evaluasi yang positif dan menunjukkan ada kebaikan.
  10. Bersikap tabah dan sabar dalam mewujudkan gagasan sebab menghadapi berbagai macam manusia tidak semuanya langsung dapat diajak untuk menyetujui gagasan anda. Sebuah gagasan bisa jadi disampaikan dengan bungkus yang disesuaikan dengan selera sasaran penerima atau bil hikmah.

Trenggalek, 22 April 2019
Bambang Nurmuis

Sabtu, 13 April 2019

Pendidikan Ummat Melalui Khotbah Jum'at

Bambang Nurmuis

Salah satu institusi ummat Islam adalah pelaksanaan kegiatan VShalat Jumat. Di situlah seminggu sekali ummat Islam mengadakan aktivitas yang terpusat  dalam radius yang lebih luas dari pada ibadah sholat berjamaah di masjid sehari-hari. Dengan demikian ummat Islam mengadakan kontak sosial  secara lebih luas di sela-sela kesibukan aktivitas rutin keseharian. Panggilan kewajiban pelaksanaan sholat jumat, khususnya bagi laki-laki itu secara langsung diserukan oleh Alloh SWT melalui Al-Qur’an.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jumat (sholat Jumat), maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (Qs. Al-Jumah : 9)
Begitu pentingnya panggilan itu sehingga Alloh SWT mengingatkan agar berbagai kegiatan yang berkaitan dengan profesi untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup, kegiatan ekonomi, bisnis yang bagaimanapun saat itu menawarkan keuntungan yang melimpah harus ditinggalkan terlebih dahulu. Dan Alloh SWT jelas memberikan jaminan bahwa meninggalkan kegiatan kehidupan rutin untuk mengingat Alloh melalui Sholat Jumat akan mempunyai nilai yang lebih baik. Nilai itu bukan hanya untuk nilai akhirat, tetapi nilai yang lebih baik dalam dimensi kehidupan dunia sampai akhirat.
Dan meninggalkan kegiatan rutin keseharian itupun tidak memakan waktu yang lama. Bahkan Alloh SWT memerintahkan agar setelah selesai menunaikan sholat Jumat segera meneruskan aktivitas rutin yang ditekuni, untuk mencari karunia Alloh SWT.
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (Qs. Al-Jumah : 10)

Memenuhi kewajiban sholat jumat dengan mengambil waktu di tengah hari dan harus dilakukan secara berjamaah secara pribadi  akan berfungsi sebagai penyegaran  kembali dalam mengingat Alloh diantara kesibukan mencari rizki, meski kegiatan rutin kehidupan dalam mencari rizki juga telah diniatkan sebagai pengabdian kepada Alloh. Sepertihalnya ibadah shalat lainnya, mengingat Alloh secara khusus dengan melepaskan diri dari keterlibatan langsung pada dimensi keduniaan dimaksudkan agar seorang mukmin memiliki kesempatan untuk menatap hakikat diri dan kehidupannya secara langsung di hadapan Alloh SWT.
Pelaksanaan ibadah Jumat sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW didahului dengan khuthbah, yang merupakan wahana seruan atau kegiatan wa tawa shoubil-haq wa tawa shoubish-shobr dengan metode one trafic communication  atau penyampaian pesan satu arah dari khitib kepada jamaah, yang dapat membatu audiance (jamaah) dalam memecahan problematika kehidupan, sehingga tetap bisa berada pada jalan kebenaran.
Larangan berbicara dan menegur orang lain yang sedang berbicara ketika khotib berkhothbah, disamping merupakan pendidikan ummat agar senantiasa disiplin dan taat kepada peringatan pemimpin yang sedang menyampaikan pesan-pesan kebenaran, juga menunjukkan betapa pentingnya betapa pentingnya pesan-pesan yang disampaikan itu harus diperhatikan. Tak syak lagi apabila tata cara seperti itu tidak dapat terpenuhi maka kehadirannya di dalam menunaikan ibadah jumat dinyatakan sia-sia, dan sebaliknya apabila tata cara seperti itu dapat terpenuhi secara sempurna maka akan dihapuskannya dosa-dosa kecil di antara dua jumat atau jumat pekan yang lalu dengan jumat pekan ini.
Pelaksanaan ibadah jumat yang selama ini ditunaikan ummat Islam, khususnya di Indonesia tetap menunjukkan suasana bergairah dan merupakan salah satu identitas kultural ummat. Bahkan nilai-nilai yang mengatur kegiatan kerja di kantor-kantor pemerintah maupun swasta serta di berbagai lembaga pendidikan cukup mendukung kesempatan penuaian pelaksanaan ibadah jumat, termasuk juga dilaksanakannya kegiatan ibadah jumat di lingkungan kerja maupun lembaga pendidikan. Itu semua tentu saja merupakan hasil proses instusionalisasi yang telah berlangsung lama sehingga tiada terasa  ada suatu paksaan.
Namun demikian kita harus melihat realitas bahwa dampak pelaksanaan ibadah jumat khususnya di Indonesia belum banyak dirasakan. Terurtama dalam hal ini adalah pesan-pesan khothbah yang disampaikan oleh para khotib. Hal ini dikarenakan sebagian besar ummat Islam, termasuk yang terpelajar selama ini mempunya persepsi bahwa ibadah jumat hanya untuk menggugurkan kewajiban semata-mata. Persepsi ini melahirkan sikap kurang diperhatikannya isi khothbah oleh para jamaah, sehingga banyak perilaku ngantuk saat mendengarkan khothbah jumah.
Di samping itu masih banyak pula dijumpai para khotib atau pengelola masjid mempersepsi bahwa khothbah hanya merupakan syarat wajib dari kegiatan ibadah jumah. Persepsi ini menimbulkan sikap bagi para khotib yang menyampaikan pesan tanpa mempertimbangkan isi yang sekiranya diperlukan oleh sebagian besar jamaah.
Oleh karena itulah perlu dilakukan reorientasi penyelenggaraan ibadah jumah sehingga benar-benar merupakan sarana untuk menumbuhkan kesadaran ummat dalam menunaikan tugas kehidupan. Dalam hal ini yang pertama-tama perlu diluruskan adalah persepsi ummat terhadap penunaian ibadah jumat.  Kita ummat Islam perlu segera menyadari bahwa sebenarnya ibadah jumat adalah merupakan institusi pendidikan formal atas dasar contoh Rasulullah Muhammad SAW. Institusi ini sebenarnya merupakan institusi yang sangat efektif bagi pengembangan kultur Islam yang dinamis. Ada empat hal pokok yang mendasari persepsi tersebut, yaitu (1) bahwa dalam pelaksanaan ibadah jumah disyaratkan ada ada penyampaian pesan  untuk amar maruf nahi munkar, (2) pelaksanaan ibadah jumat berlangsung secara rutin dan teratur pada tempat tertentu, (3) jamaah ibadah jumat relatif tetap dalam yang lebih luas dibanding ibadah sholat jamaah keseharian, dan (4) khotib yang bertugas relatif tetap oleh satu atau beberapa orang khotib.
Empat hal tersebut di atas selanjutnya dapat dijadikan acuan untuk melakukan reorientas penyelenggaraan ibadah jumat dalam mewujudkan dinamika kehidupan ummat berdasarkan syariat Islam. Dan mengingat bahwa ibadah jumat adalah merupakan institusi pendidikan formal ummat Islam, maka hal pokok yang perlu segera dilakukan adalah (1) adanya perencanaan khuthbah dengan tema-tema global untuk jangka waktu  tertentu sehingga mencerminkan frame yang terarah dan terprogram yang berfungsi mengarahkan perubahan sosial kearah dinamika kehidupan yang tetap berlandaskan pada garis kebenaran Illahi, (2) tema-tema khuthbah disusun secara sistematis sepertihalnya sebuah kurikulum, dan (3) pengelola masjid juga harus berupaya memiliki pandangan luas bahwa tugas yang diembannya bukan hanya menyusun jadwal khuthban, ceramah, membersihkan dan merencanakan perbaikan sarana fisik, dan sebagainya tetapi juga bertanggungjawab agar isi pesan keagamaan merupakan materi pembinaan kultural ummat.


Dikembangkan dari uraian penulis tahun 1990 yang pernah dimuat di Majalah Suara Masjid bulan Juni 1990

Jumat, 12 April 2019

Prinsip Dasar Pertanian dalam Al-Qur'an

Al-Quran sebagai kitab Allah terakhir yang diturunkan buat manusia melalui Rasulullah SAW memuat berbagai informasi mendasar dan lengkap yang dapat menuntun manusia menuju kesejahteraan hidup di dunia hingga di akhirat. Al-Quran memaparkan ayat-ayat  secara global yang dapat digali dan sekaligus mendorong manusia untuk menggalinya sesuai dengan perkembangan kemampuan yang dimiliki.  Ayat-ayat Al-Quran juga sesuai dengan fitrah kehidupan sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Di dalam pengelolaan sumberdaya tanaman Al-Quran memberikan prinsip-prinsip dasar, yang sebenarnya hal itu sesuai dengan salah satu kecenderungan manusia untuk mengelola sumberdaya tanaman.  Ini mengandung arti bahwa meskipun manusia tidak membaca Al-Quran  tetap mempunyai kecenderungan mengelola sumberdaya tanaman untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan pengelolaan pertanian disamping seirama dengan kecenderungan manusia juga mengadakan koreksi  dan membimbing agar pengelolaan pertanian benar-benar memiliki fungsi yang utuh  dalam mengantarkan pada kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat.
Di dalam pertanian, daya dukung pertama yang perlu diperhatikan adalah tanah (bumi) sebagai tempat tumbuhnya tanaman. Al-Quran memberikan penakanan agar manusia mempelajari dan meneliti masalah pembentukan tanah dan proses yang terjadi di dalamnya untuk selanjutnya dapat memperoleh manfaat seoptimal mungkin (QS, 2:164; 3:190; 14:32; 15:85; 16:3; 20:4; 21:16; 25:59). Bumi yang dijadikan sebagai hamparan (QS. 2:22; 15:19; 20:53) menyimpan berbagai sumberdaya yang harus digali dan dimanfaatkan untuk kepentingan hidup manusia.
Dari tanah yang terhampar luas akan di dapati berbagai jenis tanah atau bagian-bagian tanah yang antara satu bagian dengan bagian lainnya memiliki sifat fisik, kimiawi, dan biologis yang berbeda meski saling berdampingan (QS. 13:4) sehingga dapat menghasilkan keragaman jenis maupun tingkat produktifitas tanaman.
Kesuburan tanah merupakan prasarat yang harus diperhatikan di dalam budidaya pertanian. Sebab produksi tanaman berbanding lurus dengan tingkat kesuburan tanah. Produksi tanaman akan semakin tinggi sesuai dengan tingkat kesuburan tanah, dan akan cenderung menurun bilamana tingkat kesuburan tanah menurun (QS. 7:58).
Proses pembentukan tanah dan berbagai perubahan yang terjadi di dalamnya sangat tergantung dari komposisi dan dinamika komposisi bahan baku penyususn tanah, yang terdiri dari  bahan mineral, bahan organik, udara, dan air. Air dan udara merupakan faktor penentu hidup dan matinya tanah. Proses pembentukan dan pelapukan tanah tidak akan berlangsung tanpa adanya air dan udara. Keseimbangan air dan udara di dalam tanah akan menentukan kehidupan mikroorganisme yang membantu proses pelapukan dan pembentukan.
Air merupakan faktor yang menyebebkan alam raya, khususnya bumi menjadi hidup (QS. 21:30). Al-Quran juga menyatakan bahwa dengan adanya air itulah tanah akan dapat menyediakan unsur kehidupan atau mengalami proses pembentukan dan pelapukan sehingga dapat menyediakan unsur hara bagi tumbuhnya berbagai jenis tanaman (QS. 25:49; 30:24; 35:9; 41:39; 43:11, dan 50:11).
Selain berfungsi sebagai unsur pembentuk dan penyedia unsur-unsur kehidupan di dalam tanah, air juga berpengaruh langsung terhadap tanaman. Dalam pertumbuhan awal misalnya, air akan memperlunak tanah dan sekaligus memecah dormansi biji-bijian yang ditanam (QS. 36:33; 80:25-32). Di dalam pertumbuhan tanaman air sangat berperan dalam berbagai proses fisiologis. Sel-sel tanaman tidak akan dapat bekerja tanpa adanya air. Proses imbibisi dalam pengambilan nutrien dari dalam tanah misalnya, tidak akan berlangsung dengan baik apabila kandungan air pada sel-sel akar tidak memenuhi syarat optimal. Demikian pula dengan proses-proses fisiologis lainnya. Jadi dengan demikian proses pertumbuhan tanaman tidak akan terjadi tanpa adanya air (QS. 2:22; 6:95; 7:57; 14:32; 16:10; 20:53; 22:63; 23:19; 27:60; 31:10; 35:27; 45:5; 50:9; dan 78:15).
Mempelajari masalah air tidak bisa dipisahkan dengan mempelajari dan mengkaji proses klimatologis. Al-Quran menunjukkan dengan jelas bahwa terjadinya hujan sebagai sumber penyedia air berlangsung melalui proses perawanan. Uap air dari segala jenis makhluk yang ada di bumi naik sampai batas tertentu kemudian dibawa angin dan dengan proses kondensasi akhirnya membentuk awan (QS. 7:57). Dari gumpalan-gumpalan awan yang saling tarik menarik dan dipengaruhi pula oleh grafitasi bumi serta terjadinya perubahan tekanan udara maka terjadilah hujan (QS. 35:9). Proses terjadinya hujan serta manfaat langsung hujan terhadap pengelolaan sumberdaya pertanian diungkap secara tugas pula di dalam Al-Quran (QS. 2:164; 6:99; 14:32; 16:10; 18:45; 18:53; 23:19; 25:49; 27:60; 31:10; 35:27; 45:5; 50:9; 78:14-16; 80:25-32).
Air hujan disamping dimanfaatkan secara langsung oleh tanaman, juga harus dikelola dengan berbagai teknologi irigasi. Hal ini dikarenakan sebagian air hujan mengalir di permukaan bumi (run off), termasuk di berbagai lembah (QS. 13:17) dan sebagian juga meresap  (ilfiltrasi) ke dalam tanah yang akhirnya menetap sebagai air tanah (QS. 39:21) sampai membentuk sumber-sumber air  dan mata air yang terpancar (QS. 36:3; 79:31).
Tanaman sebagai obyek utama dalam pengelolaan pertanian (pertanian dalam arti sempit) diungkap secara jelas di dalam Al-Quran. Pengungkapan tentang pertumbuhan tanaman terkait langsung dengan pengungkapan masalah air dan tanah. Disamping itu pengungkapan tanaman menyangkut masalah produksi.  Beberapa ayat Al-Quran  menunjuk secara langsung tentang produksi mentimun, bawang putih, bawang merah, adas, dan berbagai jenis hortikultura lainnya (QS. 2:61). Demikian pula dengan jenis tanaman perkebunan seperti anggur, kurma, zaitun, delima, dan sebagainya (QS. 6:99; 13:4; 16:10-11; 18:32; 36:34; 80:25-32; 87:1-4; dan 95:1).
Penekanan secara khusus tentang produksi tanaman menunjukkan bahwa orientasi budidaya pertanian bukan hanya menanam tetapi lebih menekankan pada produksi. Dengan orientasi produksi itulah maka manusia akan mengembangkan teknologi pertanian, melakukan efiesiensi dalam pengelolaan, dan akhirnya akan dapat menikmatinya sebagai rizki Allah (QS. 14:32, 16:69).
Meskipun produksi merupakan orientasi atau tujuan dalam budidaya pertanian namun di dalam kaidah pengelolaan sumberdaya pertanian perlu memperhatikan batas kemampuan setiap sumberdaya yang ada sehingga dapat ditekan seminimal mungkin dampak kerusakan yang ditimbulkannya. Allah menginformasikan bahwa segala sesuatu ciptaan Allah memiliki batas kemampuan tertentu (QS. 25:2; 54:49) yang akan menimbulkan berbagai dampak kerusakan dan tidak memberikan tingkat produksi optimal manakala pengelolaannya melebihi kadar kemampuan yang dimiliki.
Pengolahan produksi pertanian menjadi barang industri, misalnya pembuatan minuman dari buah anggur (QS. 16:67), pengolahan minyak dari pohon zaitun (QS. 23:20) merupakan bahan kajian khusus tentang pengembangan industri hilir. Lebih jauh Al-Quran juga memberi pelajaran cukup berharga  bagaimana negara harus menyediakan stok pangan bagi seluruh warga seperti dalam kisah Nabi Yusuf as.
Zakat produksi pertanian merupakan merupakan kewajiban yang harus dipenuhi bagi setiap orang yang berusaha dalam produksi pertanian. Semua produksi pertanian yang telah sampai nasab wajib dikeluarkan zakatnya antara 5 % sampai 10 % pada saat panen. Dengan pembersihan harta dari produksi petanian itulah akan berpengaruh secara signifikan terhadap keberlangsungan usahatani. Sebab Allah jelas akan memberi berkah terhadap produksi, proses produksi, dan konsumsi hasil pertanian bila para petani dapat memenuhi kewajiban zakat.
Zakat pertanian juga akan lebih memiliki implikasi kesejahteraan bagi para petani dan masyarakat secara umum bilamana dijadikan landasan kebijakan pembangunan pertanian oleh pemerintah atau organisasi kemasyarakatan yang memiliki anggota dan simpatisan petani. Dan bagi para petani kecil dengan produksi pertanian belum samapi batas nisab dikembangkan pula model infaq atau shadaqah produksi pertanian.
Di dalam pendekatan Al-Quran, pengkajian dan aplikasi usaha di bidang pertanian bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik. Tetapi dengan pengakajian dan terjun langsung dalam bidang pertanian harus diarahkan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Karena realitas juga menunjukkan bahwa usaha bidang pertanian begitu banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor perubahan yang sangat sulit untuk diperkirakan.

Bambang Nurmuis

Potret Kecilku Sekitar Tahun 1974

 
Ayahku (Saeran), Moh. Syafi'udin (gendong), Titik Rochmiati, Ibuku (Soesiati)


Manusia dan Tugas Kekhalifahan


Kehadiran manusia di muka bumi sejak semula memang telah dititahkan oleh Allah sebagai khalifah (Qs. 2:30; 35:39). Sebagi khalifah, tentunya di bumi inilah manusia harus berkiprah. Fungsi kekhalifahan tidak bisa ditegakkan apabila manusia berada jauh dari tempat yang dikhalifahi. Bumi menjadi tempat pergulatan hidup manusia, yang daripadanya tersedia berbagai sumber penghidupan (Qs. 7:10). Karena itu tiada satu makhlukpun  yang didayagunakan manusia kemudian memiliki sikap konfrontatif  atau melawan secara berkepanjangan. Segala sesuatu telah ditundukkan-Nya buat kepentingan manusia (Qs. 13:2; 14:33; 16:12,14)
Tidak dapat dibayangkan apabila tanah yang diolah untuk  kegiatan pertanian, pertambangan, bangunan, dan berbagai kepentingan manusia mengadakan protes atau menentang, hewan yang diburu lebih dulu menyerbu, dan segala bentuk protes dari semua makhluk lainnya. Dapatkah manusia  melawan semuanya apabila Allah tidak mentakdirkan semua tunduk kepada manusia. Tentu manusia tidak akan berdaya. Dari pemaparan ayat-ayat Al-Quran baik  yang tersurat maupun tersirat serta dapat dilihat dlam realitas kehidupan, di alam raya ini terdapat  sepasang potensi makhluk  yang membawa keharmonisan, yaitu (1) manusia dengan potensi aktif, dan (2) alam dengan potensi pasif.
Potensi aktif  pada manusia dan potensi pasif pada alam tidak  terpisah secara tegas seperti halnya hitam dan putih. Akan tetapi sesuai dengan  sunatullah perubahan secara bertahap atau berlapis, seperti  halnya seberkas bianglala atau lapisan-lapisan tanah.  Manusia memiliki tingkat keaktifan yang berbeda antara satu dengan lainnya dengan mengikuti kaiadah tingkat perubahan bertahap, dari tingkat tertinggi sampai terendah. Demikian pula dengan makhluk selain manusia. Di alam ini juga terdapat  makhluk  yang memiliki tingkat kepasifan tertinggi hingga kepasifan terendah.  Antara manusia dengan tingkat keaktifan terendah dengan makhluk lain (hewan dan tumbuhan) yang memiliki tingkat  teaktifan tertinggi hampir mamiliki kesamaan; meski kita tidak boleh menyamakan.
Untuk sekedar memberi gambaran dapat dibandingkan antara gorilla dengan manusia ediot. Gorila mewakili  alam dengan tingkat kepasifan tinggi dan manusia ediot mewakili manusia dengan tingkat keaktifan rendah. Ini bukan membandingkan antara manusia dengan makhluk lain/binatang, tetapi  memang seperti itulah realitas kehidupan berbicara. Dan itulah salah satu tanda-tanda kebesaran Allah yang memang harus difikirkan dan dijadikan salah satu referensi kehidupan. Itulah salah satu ayat kauniyah yang memang oleh Allah dihadapkan pada orang-orang yang dapat menggunakan akalnya. Namun demikian serendah apapun tingkat potensi aktif  manusia ia tetap sebagai manusia dan masuk dalam jajaran khalifah. Hanya memang memerlukan peran yang tidak bisa disamakan dengan manusia yang memiliki tingkat keaktifan yang tinggi.
Untuk memperjelas pemahaman terhadap beberapa persepsi di atas dapat  diikuti melalui diagram grafis berikut.

Dari gambaran grafis tersebut  dapat dilihat  bahwa arah pendayagunaan berjalan searah dengan berkurangnya potensi aktif pada manusia sampai pada meningkatnya potensi pasif  pada alam/makhluk lain.  Hal ini mengandung makna bahwa manusia yang memiliki potensi aktif lebih tinggi akan mendayagunakan manusia lain yang memiliki potensi aktif di bawahnya dan makhluk-makhluk lain yang ada di alam ini. Bentuk pendayagunaan yang terjadi tentu bemacam-macam  dan sangat variatif sesuai dengan kegiatan hidup.
Bumi yang memiliki tingkat potensi pasif tertinggi akan didayagunakan oleh air, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk lainnya sampai pada manusia. Sedang manusia yang memiliki potensi aktif tertinggi akan mendayagunakan makhluk lainnya baik dalam bentuk kepemimpinan, penguasaan, sampai penjajahan; termasuk di dalamnya adalah pendayagunaan pada jin.
Mencermati lebih jauh terhadap rangkaian pengertian di atas dapat ditangakap sebuah makna tentang posisi manusia terhadap makhluk lain di alam raya ini. Manusia adalah khalifah di muka bumi.
Mengemban amanah kekhalifahan berarti mewujudkan tugas-tugas dalam menciptakan kesejahteraan hidup yang berorientasi pada rahmatan lil alamin. Oleh karena itu Allah menetapkan sebuah pengaturan bahwa manusia harus berusaha dan tidak boleh menganggur atau mengangankan sebuah kesejahteraan hidup yang datangnya tiba-tiba. Manusia harus menggunakan potensi aktifnya untuk mendayagunakan alam dalam mewujudkan sebuah kesejahteraan. Berusaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh adalah sebuah kemuliaan. Allah mengecam orang-orang yang hanya mementingkan semedi atau menyendiri dengan alasan membersihkan diri. Para Rasul-pun sebagai manusia pilihan juga bekerja dan berjuang keras untuk mencari kemuliaan di hadapan Allah (QS. 6:135).
Dan Allah juga tidak akan mengubah nasib suatu kaum bila kaum itu tidak bekerja keras untuk melakukan suatu perubahan yang berorientasi pada perbaikan hidup atau kesejahteraan (QS. 13:11). Selanjutnya prasyarat secara khusus agar manusia dapat benar-benar memfungsikan diri sebagai khalifah di muka bumi adalah harus senantiasa meneguhkan tingkat keimanan dan beramal shalih (QS. 24:21)
Bekerja dan berjuang dalam mengemban amanah kekhalifahan tidak hanya melalui pendayagunaan potensi alam, akan tetapi juga berusaha keras dalam memerangi semua bentuk kejahatan dan penyelewengan moral. Karena, jika penyelewengan dibiarkan terus berkembang maka yang terjadi adalah berbagai bentuk kerusakan yang akan membawa bencana besar bagi kehidupan umat manusia.
Dengan demikian dapat pula kita pahami bahwa ternyata memang antara amar maruf (perjuangan yang berorientasi pada terwujudnya kaidah-kaidah kebaikan) dan nahi munkar (perjuangan untuk mengatasi semua bentuk kejahatan) adalah merupakan bagian dari amanah kekhalifahan. Manusia harus berjuang keras untuk memenangkan tegaknya kebenaran  meskipun harus menelan berbagai kepahitan di dalam setiap langkah perjuangannya.
Suatu keunikan di dalam perjuangan tersebut adalah kecenderungan destruktif  hawa nafsunya sendiri  yang harus dikalahkan. Hawa nafsu adalah dorongan keinginan manusia yang berlebihan, yang menyimpang dari fitrah kehidupan. Perjuangan melawan hawa nafsu adalah perjuangan akbar.
Nafsu memang merupakan rahmat Allah dan merupakan perangkat hidup yang menyebabkan manusia dapat hidup secara dinamis. Nafsu adalah pendorong kehidupan untuk mencapai derajat tertentu dihadapan Allah maupun dihadapan  sesama manusia. Nafsu juga dapat membentuk manusia dalam mencapai hakikat kemanusiaannya. Bahkan apabila manusia  dapat mengarahkan nafsunya sesuai dengan fitrah dan prinsip kebenaran Illahiah (nafs al-muthmainah) maka ia akan menduduki posisi mulia. Sebaliknya bilamana nafsu diarahkan pada pengingkaran terhadap kebenaran maka ia akan kehilangan hakikat  kemanusiaannya atau ia turun pada posisi serendah-rendahnya makhluk (QS. 95:5).
Mengemban amanah kekhalifahan memang tidak seringan sepeti yang dibayangkan. Beratnya amanah itu juga telah disampaikan secara dialogis di dalam Al-Quran. Sebelum amanah kekhalifahan diserahkan kepada manusia, Allah telah menawarkan kepada seluruh benda yang ada di alam ini akan tetapi semuanya menolak. Dan akhirnya manusialah yang sanggup menerimanya (QS. 33:72).
Allah Maha Tahu tentang permasalahan manusia semenjak sebelum diciptakan. Berkaitan dengan rencana Allah  untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, maka diberikannya berbagi potensi perlengkapan yang lebih tinggi dibanding makhluk lainnya (QS. 17:70). Wujud potensi tersebut adalah potensi rohaniah, yang dengan potensi itu disempurnakan kejadiannya (QS. 7:28- 29; 38:71-72)
Manusia akan benar-benar  menjadi manusia sempurna manakala dapat melakukan optimalisasi potensi rohaniahnya, yaitu keseimbangan antara pengembangan daya pikir dengan pengembangan ketaatan pada prinsip kebenaran Illahi disertai dengan kondisi fisik yang mendukung. Pada kondisi seperti itu Malaikat-pun akan sujud pada manusia (QS. 7:11; 15:29-30; 38:72-73; 2:34).
Untuk menelaah lebih jauh tentang kedudukan makaikat terhadap manusia (Adam) perlu disimak kembali penjelasan Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 31-33, yang ayat ini diungkapkan antara ayat yang menegaskan titah kekhalifahan manusia (QS. 2:30)  dan ayat yang menjelaskan ketundukan malaikat pada manusia (QS. 2:34)
”Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-mana benda seluruhnya, kemudia Adam mengemukakannya kepada para malaikat. Kemudian Allah berfirman pada malaikat,Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu bila kamu memang orang-orang yangbenar. Malaikat menjawab,Maha Suci Engkau. Tiada kami kethui selain yang telah Engkau ajarkan. Sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman,Wahai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama benda-benda ini. Maka setelah Adam memberitahukannya, Allah berfirman ,Bukankah telah Aku jelaskan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui apa-apa yang engkau lahirkan dan yang engkau sembunyikan.
Secara eksplisit ayat tersebut menggambarkan kemampuan Adam dalam mengembangkan potensi dayafikir sehingga mampu mengidentifikasi berbagai macam benda yang ada di sekelilingnya. Kemampuan Adam mengidentifikasi  benda-benda yang ada melahirkan konsepsi penamaan yang berbeda-beda sesuai takdir dan sunnah yang ditunduki masing-masing benda  atau sesuai keadaannya.
Secara implisit dari penuturan ayat tersebut juga tergambar kemampuan Adam dalam mengembangkan ketaatan kepada Allah SWT. Atau dengan kata lain Adam telah mampu mengembangkan potensi rohaniah secara optimal.
Potensi rohaniah pada manusia merupakan perangkat utama yang dapat menjadikan manusia sebagai makhluk yang lebih tinggi kedudukannya dari makhluk-makhluk yang lain. Namun demikian perlu disadari bahwa potensi rohaniah tidak langsung berfungsi secara sempurna. Potensi rohaniah mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan secara bertahap dan teratur yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal.
Tingkat penyimpangan genetis sebagai faktor internal  dan juga pergeseran psiko-sosiologis sebagai faktor eksternal akan mempengaruhi tingkat optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan potensi rohaniah. Perbedaan tingkat penyimpangan masing-masing individu yang memang pasti terjadi menyebabkan perbedaan kemampuan.  Penyimpangan genetis dan pergeseran psiko-sosiologis yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia di bumi melahirkan kekurangan atau ketidaksempurnaan kehidupan manusia.
Sifat keluh kesah (QS. 70:19), menyombongkan diri (QS. 17:37), lupa, tergesa-gesa, dan sebagainya merupakan unsur yang melekat pada manusia akibat kurang berkembangnya secara optimal potensi rohaniah. Akibatnya muncul berbagai kerelatifan dalam berbagai aspek yang diputuskan.
Kerelatifan yang memang pasti terjadi pada manusia. Karena itulah maka diperlukan Kitab yang memperikan penjelasan dan peringatan dengan kebenaran mutlak. Sebab apabila manusia hanya berpegang pada berbagai kerelatifan keputusan manusia sendiri maka hidup dan kehidupan manusia akan terombang-ambing dan berlaku destruktif yang seringkali juga tidak disadari.
Pedoman kebenaran mutlak (Al-Quran) yang diturunkan Allah itupun juga tidak mampu ditangkap secara sempurna oleh seseorang (kecuali Rasulullah saw) karena berbagai keterbatasan dan kerelatifan yang ada. Perbedaan-perbedaan penafsiran, perbedaan-perbedaan pemahaman terhadap teks Al-Quran adalah sesuatu yang wajar. Karena itulah sebenarnya adanya perbedaan penafsiran atau pemahaman harus dijadikan acuan untuk memperluas cakrawala, meneruskan mata rantai pengkajian terhadap kebenaran, dan melahirkan sebuah kebersamaan.
Pengembangan potensi rohaniah dalam kehidupan bersama memang diperlukan kerjasama dan penegakan nilai-nilai kebenaran agar dapat diwujudkan fungsi kekahlifahan (QS. 5:2). Disamping itu diperlukan pula transformasi pengalaman dan pengetahuan antar generasi karena memang secara realitas kehadiran manusia memang tidak bersamaan.
Demikian kompleks kehidupan manusia di bumi. Makna kekhalifahan bukan hanya terkait  dalam pengelolaan alam raya untuk mewujudkan sebuah kemakmuran. Akan tetapi fungsi kekhalifahan juga terkait langsung dengan makna kehadiran manusia sebagai salah satu makhluk yang diciptakan untuk mengabdi pada Allah (QS. 51:56). Fungsi kehadiran manusia di bumi memiliki keterkaitan langsung dengan fungsi keakhiratan. Karena itu apapun dan seberapapun amal/perbuatan/tindakan  yang dilakukan manusia, baik itu berupa kebajikan maupun kejahatan, ketaatan maupun pengingkaran akan dipertimbangkan dan mendapatkan balasan (QS. 99:7-8).

Bambang Nurmuis

UNTUK ANAK-ANAKKU

perlahan dan pasti engkau akan sampai
saat-saat engkau harus menelusuri makna perjalanan diri
setelah engkau harus menjalani tebaran realita
atas dorongan cita
atas dorongan asa
yang engkau tahu lewat peredaran masa
anak-anakku
ada yang bermakna di balik bahagia
ada yang bermakna di dalam coba
adalah kekuatan diri di dalam menghadapi realita
dan perjalanan ayahmu mengajarkan
ada realita yang tak mampu ditembus dengan usaha
ada realita yang hanya bisa ditembus dengan doa
dan ada sebuah rahasia wahai anak-anakku
bahwa salah satu kunci suksesmu
adalah doa buat kedua orang tua
Allahummaghfir lii waliwaalidayya warhamhuma
kamaa rabbayaani shaghiira
hayati dan resapi
bahwa engkau wajib mohon maghfiroh
buat ibumu dan ayahmu
dengan itu, insya Allah
jalan kemudahan hidupmu akan membentang
dan bertekadlah wahai anak-anakku
engkau akan menjadi penghias hidupku
ketika aku beristirahat di alam barzah

nurmuis, oktober 2012

Fitrah Manusia

Pembahasan fitrah selama ini ditujukan pada sifat dasar manusia yang mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Tinjauan tauhid ini didasarkan pada pernyataan dalam Al-Quran  Surat Al-Araf ayat 172 yang menyatakan bahwa sebelum manusia diciptakan Allah telah mengambil kesaksian pada ruh manusia tetang pengakuan ke-Tuhan-an. Di samping itu di dalam hadits Rasulullah juga menegaskan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (mengakui keesaan Tuhan), dan orangtuanyalah yang menyebabkan ia menjadi nasrani, yahudi, ataupun majusi.
Dalam uraian ini pengertian fitrah diuraikan dalam bentuk implementatif yang lebih luas. Secara implementatif fitrah merupakan segala potensi dasar manusia yang apabila bisa ditegakkan maka manusia itu  akan dapat mengembangkan dirinya  sesuai dengan hakikat kemanusiaannya, yaitu sebagai hamba dan khalifatullah.
Sebagai potensi dasar maka fitrah manusia dapat dibangun yaitu manakala manusia benar-benar mengarahkan diri serta memperjuangkan secara terus menerus dalam mentaati prinsip-prinsip kebenaran Illahi, atau sebaliknya dapat hancur yaitu manakala manusia melakukan pengingkaran terhadap prinsip kebenaran Illahi (QS. 30:30).
Mengingat bahwa manusia merupakan salah satu makhluk Allah yang disamping berhubungan dengan Allah sebagai Sang Pencipta,  juga berada di antara makhluk-makhluk lain maka secara implementatif fitrah manusia dapat dibagi menjadi 4 (empat) bentuk interaksi, yaitu : (1) fitrah interaksi dengan Allah, (2) fitrah interaksi dengan sesama manusia, (3) fitrah interaksi dengan alam sekitar, serta (4) fitrah interaksi dengan jin dan malaikat.
Dalam interaksi dengan Allah pada dasarnya manusia mengakui bahwa Allah adalah Tuhan-nya. Atau dengan kata lain manusia  menyadari bahwa dirinya sebagai makhluk yang seharusnya tunduk dan taat pada-Nya (QS. 7:172) Hancurnya fitrah ini akan melahirkan sikap dan tingkah laku syirik dan bahkan sampai kafir (fitrah interaksi dengan Allah terdestruksi sempurna, sampai hilang dan menentang). Penyebab terdestruksinya fitrah interaksi dengan Allah terbentuk oleh kontak dengan lingkungan yang tidak mendukung dalam konteks kehidupan manusia yang panjang, atau akumulasi berbagai penyimpangan fitrah dalam dialektika kultural. Setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanyalah yang menyebabkan dia terjerumus menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR. Turmudzi). Pengaruh kontak dengan lingkungan  tersebut muncul dalam kesombongan, pembangkangan, sikap tidak kritis, minder, dan sebagainya. Sehingga dengan begitu manusia manusia lalai pada perjanjian dengan Allah  atas pengakuan ketuhanan-Nya (QS. 57:8).
Dalam fitrah interaksi dengan sesama manusia  pada dasarnya manusia mempunyai  kecenderungan untuk hidup harmonis dalam kebersamaan. Tetapi karena beberapa perbedaan yang kadang sulit dipertemukan maka timbullah konflik yang saling menghancurkan. Hal ini didukung pula oleh adanya nafsu yang berjalan bebas untuk dapat dipenuhi secara berlebihan. Muncullah iri, dengki, dendam dan kemudian terefleksi dalam bentuk perilaku memfitnah, mengumpat dan sebagainya. Untuk menjaga tegaknya fitrah hubungan sesama manusia Islam memberikan beberapa prinsip dasar seperti musyawarah (QS. 3:159), lapang dada atau mau memaafkan kesalahan orang lain serta dapat membalas budi baik (QS. 41:34-35, 42:40, 23:96), pemungutan zakat (QS. 9:103, 9:60) , dan sebagainya. Disamping itu adanya perintah untuk memerangi orang kafir dan berjuang memberantas segala bentuk kemungkaran juga merupakan cara yang harus ditegakkan dalam rangka menyelamatkan nilai-nilai fitrah hubungan dengan sesama manusia. Karena tanpa ada upaya memerangi kemunkaran maka yang terjadi adalah berbagai macam penindasan antar sesama manusia.
Fitrah interaksi manusia dengan alam sekitar (alam syahadah), baik yang dekat maupun yang sampai saat ini belum terjangkau adalah bahwa manusia mempunyai kecenderungan untuk menguasai sedangkan alam mempunyai kecenderungan untuk dikuasai. Fitrah ini berjalan secara  otomatis sehingga manusia dapat menjalani hidup dengan mudah dan rapi seperti tiada disadari kalau diatur oleh Allah dengan berlakunya takdir dan sunnah-Nya. Keotomatisan tersebut membuat manusia dengan mudah menikmati berbagai kemurahan Allah sekalipun dia seorang kafir dalam ketauhidan. Dalam realitas dapat kita saksikan bahwa seorang anak yang hidup di pedesaan dengan lingkungan pertanian, fitrah interaksi dengan alam akan cenderung terwujud dalam pengelolaan bidang pertanian. Keahliannya sebagai petani akan muncul karena dia, secara sadar atau tidak, telah mengarahkan fitrah hubungan dengan alam (menggeluti dunia sekelilingnya) dalam rangka mewujudkan kesejahteraan hidup. Apabila potensi dayafikir yang dimiliki dapat dikembangkan dengan baik maka dia akan mampu menunjukkan prestasi gemilang dalam bidang pertanian.Dan manakala potensi dayafikir dipadukan secara seimbang dengan potensi ketaatan pada Allah maka ia akan tampil sebagaai manusia yang mampu mewujudkan kesejahteraan hidup bersama.
Di dalam penegakan fitrah hubungan manusia dengan alam maka perlu dipahami bahwa (i) segala sesuatu yang ada adalah ciptaan dan milik Allah, sedangkan manusia hanya memiliki kewenangan mengelola, dan (ii) segala sesuatu diciptakan Allah mimiliki kadar tertentu, yang akan rusak bilamana dieksploitasi di luar batas kadar yang dimiliki. Hancurnya fitrah interaksi manusia dengan alam sekitar menyebabkan percepatan kehancuran alam. Kerusakan alam memang sesuatu yang pasti terjadi, tetapi kerusakan yang diluar batas kewajaran atau proses kerusakan yang begitu cepat adalah karena campur tangan manusia dalam eksploitasi alam di luar batas kemampuan alam itu sendiri. Allah juga telah menegaskan bahwa berbagai kerusakan alam ini adalah akibat ulah manusia sendiri (QS. 30:41).
Fitrah interaksi manusia dengan jin dan malaikat merupakan pola hubungan ghaibiah dalam bentuk netral, merongrong, atau mendukung bentuk fitrah yang lain. Malaikat dan kelompok jin mukmin akan mendukung manusia dalam menegakkan fitrah hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan alam sekitar (QS. 8:9). Keduanya bisa juga netral dan mengutuk manusia yang tidak mampu menegakkan fitrah tersebut. Sebaliknya kelompok jin kafir (memiliki sifat syaithaniah)  akan bekerjasama dan mendukung pengingkaran-pengingkaran fitrah oleh hawa nafsu manusia (QS. 72:6, 5:91). Meskipun secara kasad mata sulit untuk dibuktikan maka berdasarkan prinsip aqidah islamiyan maka kelompok jin kafir inilah yang turut membantu prnghacuran fitrah.

Bambang Nurmuis

Untukku


wahai diriku
siaplah menjadi biji berkualitas
yang siap tumbuh dalam setiap kondisi
yang siap terlempar
kemana angina kehidupan melempar
wahai diriku
bila suatu saat terlempar pada tanah subur
tumbuhlah mengayomi kehidupan
bila suatu saat terlempar pada tanah gersang
akar dan rontok daunmu siap mencipta kesuburan
agar orang lain menikmati kesuburanmu
dan ingat wahai diriku
hama dan penyakit terus mengincar
tangan-tangan manusiapun siap membabatmu
jangan gentar
tumbuh dan tumbuhlah
bila engkau memang berkualitas
engkau akan tumbuh besar
meski tak dibesarkan
dan orang lain mengecilkan arti kebesaranmu
tataplah kehidupan
dengan kejernihan hati dan kecerdasan pikiran
hanya Allah tempat bersandar


nurmuis, 1986

Lazuardi


lazuardi
cerah mengambang sebagai atap
membiru di atas tatap mata manusia
adalah cinta keabadian
lahir dari bias sinar Sang Surya
lazuardi
masih adakah manusia menatap cerahmu
atau semua telah lalai
terkesima pada bumi pijakan yang kian polusi
atau ada yang hanya menatap pada awan
dan menduga itu kecerahanmu
lazuardi cerah
adalah cermin kehidupan baka
adalah guratan idealisme
adalah cita keabadian
dan jarak yang melangit adalah citra kecantikan
menawarkan perjuangan kaffah
menyeleksi manusia menggapai cinta
yang istiqomah dalam perjalanan waktu
yang tegar dalam gelombang
yang perkasa dalam himpitan
dan melangkah dalam naungan Tuhan


malang, mei 1991
nurmuis

Kamis, 11 April 2019

Kesepian


kesepian itu bukan kesendirian
di tengah keramaian kesepian bisa terjadi
jiwa yang penuh ketentraman
diri yang penuh keyakinan
fikiran yang selalu hidup 
tak akan merasa kesepian meski dalam kesendirian
bahkan pribadi yang dinamis
perlu kesendirian
perlu keheningan
untuk menata langkah
untuk menghayati hakikat keadaan
ia perlu merenungkan 
ia perlu mencari alternatif
untuk kkemudian berkiprah
yang merasa kesepian dalam kesendirian
pertanda hatinya kosong
pertanda tidak kreatif
dan pertanda tak banyak alternatif
dan bila melepas kesepian dalam keramaian
adalah pelampiasan kosong
yang tak bermakna
yang bahkan menambah kepenatan


nurmuis, januari 1989

Selasa, 09 April 2019

Tumbuhan Berpasangan (Al-Qur'an tentang Pertanian)

QS. 43 : 12
وَالَّذِي خَلَقَ الأزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالأنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ
Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasang dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi.

QS. 36 : 36
سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ
Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

QS. 13 : 3
وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الأرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Atas Nama-Mu

atas  nama-Mu
hidup ini dalam kesejukan
jalan-jalan terbuka
dalam sorot mata-Mu yang mengiringi
gulita hidup yang silih berganti
terjawab satu demi satu
yang mestinya aku tak mampu dan 
kurenungkan aku tak mampu
atas nama-Mu
kesibukan selalu kurindu
untuk berfikir
untuk bicara
untuk berbuat
hingga untuk tidurpun  aku tak rela
tetapi atas nama-Mu
tidurkupun untuk-Mu
dan akan tetap aku jalani
hidup dan matiku buat-Mu

nurmuis, 1988

Pembelahan Biji (Al-Qur'an tentang Pertanian)

QS. 6:95
إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ذَلِكُمُ اللَّهُ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ
Sesungguhnya Allah yang telah membelah biji-bijan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling

Senin, 08 April 2019

Jendela itu Kembali Terbuka


vila kehidupan itu sudah terbangun lama
serumpun penghuni asyik berkerumun dan bercengkerama
sepanjang hari
sepanjang tahun
sepanjang kehidupan yang dilalui
suka
duka
sedih
gembira
pilu dan ceria
adalah seni yang tumbuh di taman kehidupan
ada rindu yang merayap untuk penyejuk suasana
kerinduan pada keteduhan
yang sering kucari
atau yang sedang mencariku
yang mungkin akan melampaui nuansanya sendiri
kerinduan pada rasa dan cinta
yang harus kutelusuri kembali
pada makna yang hakiki
maka 
jendela itu kembali terbuka
dan memang harus terbuka
kuberi ruang bebas agar hembusan alami merasuk
 mewarnai hidupku
kunikmati seadanya
agar hembusan cinta kasih mencari bentuknya


desember 2006
nurmuis

Perjalanan Akhir Ayahku

detik-detik akhir hayatmu
adalah nuansa ruhaniah yang penuh makna
hanya sembilan puluh satu jam  engkau berbaring
dari tujuhpuluh empat tahun hidupmu
hanya diakhir hayatmu
engkau butuh bopongan anak-anakmu
ayahku
dalam pembaringan akhir hayatmu
kutangkap cerita makna kepahlawanmu
meski hanya lewat kedip matamu
meski hanya lewat gigil tubuhmu
meski hanya lewat sengal nafasmu
dan hembusan nafas terakhirmu
ayahku
seperti sering aku lantunkan dalam doaku
semakin terpatri dalam tekad hidupku
bahwa aku harus jadi hiasan hidupmu
dalam penantian di alam barzah
tekad hidupku adalah
akan kutempa hidupku dalam keshalihan
kutaburkan doa setiap waktu di atas pusaramu
lewat pintu-pintu kesadaranku
lewat jejak-jejak hidupku
dan dibingkai oleh istri dan anak-anakku
ayahku
semoga dikau mendapat tebaran rahmat
semoga engkau mendapat tebaran maghfirah
di alam penantianmu
semoga kita kembali bersatu dalam surga-Nya

nurmuis, akhir maret 2011

Untaian Buat Ibu

ketika aku lahir ayahku tiada menungguimu
engkau berbaring di atas tikar dan satu bantal
dengan seorang dukun menunggui
setelah itu
tiap hari engkau bopong aku dengan jiwa gusar
mengarungi hari-hari penuh darah
ceceran darah manusia mengucur dari samurai jihad
dalam pertarungan ideologi negeri ini
ketika aku tumbuh
engkau titah aku berjalan
dengan geritan bambu di depan pintu bambu
kemudian aku  mampu berjalan
engkau ajari aku makan
kemudian aku mampu makan
aku mampu berjalan
aku mampu makan
satu setengah tahun aku mulai berumur
aku makan, berjalan ke tempat cuci piring
aku terpelanting
engkau gusar, kakiku gemetar
engkau bopong aku ke atas tikar
ayahku jauh
aku lumpuh
dan engkau bopong lagi aku setahun
mengarungi hari, berjalan kaki
aku hanya duduk di pinggangmu
aku hanya bisa merintih dan menangis
merintih, menangis
siang dan malam
engkau menjagaku 
duduk dan terkantuk
akhirnya 
kejelian dan panjat doamu berbuah pula 
aku bisa berjalan, meskipun aku pincang
ketika aku berkembang
engkau ajari aku menyanyi dan mengaji
engkau titah aku memegang pensil
engkau tuntun aku berdoa dan bicara
engkau jeli meneladani

ketika aku mampu berlari 
engkau titah aku melipat baju
engkau ajari aku menyapu
engkau tuntun aku sholat 
satu satu engkau ulang dan terpadu
dan setelah aku mampu berfikir
engkau selipkan gertak di antara tuntunan
ketika aku mampu berjuang engkau banyak diam
engkau ajari aku dengan gerakmu
yang meski tanpa kata tetapi cukup padu
dan mampu berbicara
ibu
lewat seuntai sajak
aku hanya mampu mengenang
aku hanya mampu mendoa
aku tak mampu berbuat apa-apa
aku hanya tertegun meniti jejak kepahlawananmu
yang mengantarkanku pada gelanggang manusia
yang menimangku kokoh pada gelombang manusia
ibu
lembut dan kerasmu bermakna

malang, desember 1985
nurmuis

Mutiara Malam

di lepas malam doa-doa mengantar kedamaian
usai melepas belaian air wudlu
melangkah duduk di ruang tengah
hening di antara ibu dan ayah
dan butir mutiara malam bersenandung di ulu hati
anakku
lihatlah dirimu dalam hidupmu
tak akan ada kehidupan yang datar
hidup selalu dalam gelombang
ujian dan cobaan
sedih dan gembira
kemenangan dan kekalahan
merayap menyelimuti diri
anakku
tempa dirimu dalam kesulitan
tegaklah pada prinsip hidupmu, dan 
tetap tersenyumlah dalam keadaan apapun
di situ engkau akan jaya
di situ letak nilai manusia
dan satu lagi yang kupesan, anakku
tataplah manusia dengan sempurna
tiap diri punya kelebihan dan kekurangan
jangan sanjung kelebihan manusia
jangan hina kekurangan manusia
lengkapi kekurangan dirimu dengan
kelebihan orang lain
tumpahkan kelebihanmu pada siapapun 
balaslah cela dan cerca dengan kebaikan
pancarkan sinar kebenaran dalam hidupmu
dan melangkahlah dalam sinar Illahi

nurmuis, 1989

Tanah dan Kesuburan (Al-Qur'an tentang Pertanian)

QS. 13:4
وَفِي الأرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

QS. 7:58
وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لا يَخْرُجُ إِلا نَكِدًا كَذَلِكَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ
Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.

Hubungan Air dan Tanaman (Al-Qur'an tentang Pertanian)


QS. 78 : 14-16
وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا  لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا وَجَنَّاتٍ أَلْفَافًا
dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat?

QS. 31:10
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَى فِي الأرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ
Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.

QS. 20:53-54
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلا وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّى  كُلُوا وَارْعَوْا أَنْعَامَكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لأولِي النُّهَى
Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ
Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.


QS. 14:32
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الأنْهَارَ
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.

QS. 2:22
وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.

Hubungan Air dan Tanah (Al-Qur'an tentang Pertanian)


QS. 43:11
وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا كَذَلِكَ تُخْرَجُونَ
Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).


QS. 16:45
وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ
Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).


QS. 22:63
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَتُصْبِحُ الأرْضُ مُخْضَرَّةً إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.


QS. 41:39
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الأرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَى إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

QS. 45 : 5
وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.

Minggu, 07 April 2019

Aliran Air Permukaan / Run Off (Al-Qur'an tentang Pertanian)



QS. 13 : 17
أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ
Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.

QS. 6:6
أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الأنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ
Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.

QS. 32:27
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَسُوقُ الْمَاءَ إِلَى الأرْضِ الْجُرُزِ فَنُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ أَنْعَامُهُمْ وَأَنْفُسُهُمْ أَفَلا يُبْصِرُونَ
Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami mengalirkan air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?

Infiltrasi Air dan Air Dalam Tanah (Al-Qur'an tentang Pertanian)


QS. 23 : 18
وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الأرْضِ وَإِنَّا عَلَى ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ
Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.

QS. 80 : 25-32
أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا ثُمَّ شَقَقْنَا الأرْضَ شَقًّا فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا وَعِنَبًا وَقَضْبًا وَزَيْتُونًا وَنَخْلا وَحَدَائِقَ غُلْبًا وَفَاكِهَةً وَأَبًّا مَتَاعًا لَكُمْ وَلأنْعَامِكُمْ
Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,  lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, kebun-kebun (yang) lebat, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.

QS. 79 : 30-31
وَالأرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا  أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا
Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya  Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.

QS. 39 : 21
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الأرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَامًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لأولِي الألْبَابِ
Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.

QS. 67 : 30
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?".

Hujan dan Proses Klimatologis (Al-Qur'an tentang Pertanian)


QS. 30:48-49
اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ  وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ
Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira. Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.

QS. 24:43
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالأبْصَارِ
Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian) nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.

QS. 35:9
وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَسُقْنَاهُ إِلَى بَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَحْيَيْنَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا كَذَلِكَ النُّشُورُ
Dan Allah, Dia-lah yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu.

QS. 7:57
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.

QS. 25:48-49
وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا   لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا
Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih,  agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.

QS. 30:24
وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.

QS. 2:164
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

QS. 16:10-11
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لَكُمْ مِنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ  يُنْبِتُ لَكُمْ بِهِ الزَّرْعَ وَالزَّيْتُونَ وَالنَّخِيلَ وَالأعْنَابَ وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu.  Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.

QS. 51:1-2
وَالذَّارِيَاتِ ذَرْوًا فَالْحَامِلاتِ وِقْرًا
Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan sekuat-kuatnya, dan awan yang mengandung hujan

QS. 86:11-12
وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلا كُفُورًا
Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (daripadanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat).

QS. 25:50
وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلا كُفُورًا
Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (daripadanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat).

QS. 42:28
وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الرَّجْعِ  وَالأرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ
Demi langit yang mengandung hujan, dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan,

QS. 8:11
إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَى قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الأقْدَامَ
(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu).

Air Sebagai Dasar Kehidupan (Al-Qur'an tentang Pertanian)

Bila kita mempelajari makhluk Alloh di seluruh alam raya, tentunya untuk sementara tidak termasuk jin, malaikat, dan aneka kejadian ghaib, maka kita akan mempelajari tentang proses kehidupan makhluk Alloh. Dalam ilmu pengetahuan yang telah kita kenal selama ini diklasifikasikan menjadi makhluk mati dan makhluk hidup.
Khusus dalam bidang pertanian, seorang ilmuwan maupun para praktisi bidang pertanian (petani, peternak, pekebun, pedagang tanaman, dan sebagainya) mesti berhadapan dengan masalah kehidupan.
Karena itu dalam bidang pertanian tidak bisa terlepas dengan kajian masalah air. Meskipun masalah air bukan hanya masuk dalam kajian pertanian.
Oleh karena bidang pertanian terkait erat dengan masalah air, maka perlu diketahui terlebih dahulu bahwa sebenarnya Alloh telah menginformasikan melalui beberapa ayat Al-Qur'an bahwa air adalah sebagai faktor utama terjadinya proses kehidupan.

QS. Al-Anbiya' (21):30
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Pada ayat 30 Surat Al-Anbiya' tersebut  digunakan kata 'ja'ala' yang menunjukkan sebuah proses atau kejadian yang melalui sebuah proses dimana air merupakan salah satu faktor berlangsungnya peoses kehidupan. Dengan demikian maka : (a) air berfungsi sebagai unsur yang menyebabkan unsur-unsur lainnya mengalami perkembangan atau kehidupan, dan bila air terlepas daripadanya maka unsur-unsur lain tersebut kembali menjadi mati, (b) kehidupan yang ada di alam raya ini, baik secara individual maupun secara makro tidak terjadi sekaligus, namun melalui proses pertumbuhan dan perkembangan secara linier maupun sirkuler.
Sebagai unsur penyebab kehidupan, air yang dimaksud adalah air yang memiliki sifat-sifat khusus sesuai dengan yang diperlukan oleh unsur-unsur lain. Di dalam kasus bidang pertanian misalnya, air yang digunakan dalam pembelahan sel-sel tanaman memerlukan sifat khusus yang tidak sama dengan air yang digunakan dalam pengembangan unsur-unsur yang ada pada tanah. Perbedaan ini terletak pada perbedaan kandungan kimia.
Apabila kita kaitkan dengan Ayat 95 Surat Al-An'am yang menyatakan bahwa "segala sesuatu yang hidup dijadikan-Nya dari yang mati, dan yang mati dijadikan-Nya dari yang hidup" maka sebenarnya ketersediaan air di bumi inipun awal mulanya merupakan akibat dari proses terciptanya alam raya. Air di bumi awalnya tidak muncul tiba-tiba, melainkan timbul secara berproses dalam rangkaian berkembang dan berkerutnya bola gas pembentuk bumi yang sebelumnya bersatu dengan matahari.

QS. Al-Hajj (22):05

 وَتَرَى الأرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ
Dan kamu lihat bumi ini dahulunya kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air padanya, maka hidup dan suburlah bumi itu dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. 

Ayat tersebut merupakan penggalan terakhir dari Ayat 5 Surat Al-Hajj yang panjang, yang sarat dengan pengungkapan masalah manusia, bumi dan kesuburannya.
Terkait dengan Ayat 30 Surat Al-Anbiya' sebagaimana telah diuraikan di atas, di dalam ayat ini Allah SWT memberikan penjelasan tentang proses kehidupan selanjutnya yaitu setelah bumi terbentuk yang pada mulanya kering kerontang, yang mana setelah Alloh menurunkan air maka bumi bergerak atau mengembang dan kemudian menjadi tanah yang subur. Tanah bergerak atau mengembang artinya tanah tersebut telah mengikat air sehingga ikatan antar butir tanah menjadi longgar, dan dengan demikian juga memungkinkan adanya udara yang masuk. Dalam kondisi seperti itulah maka tanah atau bumi menjadi siap untuk tempat tumbuhnya segala tumbuh-tumbuhan.
Jika di dalam Ayat 30 Surat Al-Anbiya' diungkapkan permasalahan secara umum, maka di dalam Ayat 5 Surat Al-Hajj ini lebih ditekankan pada kehidupan di bumi. Menyangkut uraian yang lebih luas, jika di dalam Ayat 30 Surat Al-Anbiya' ditekankan pada masalah pemisahan antara benda-benda langit dan bumi maka pada Ayat 5 Surat Al-Hajj ini tergambar bahwa bumi telah terpisah dengan benda-benda langit lain, yang kemudian sampai memprosesnya bumi menjadi siap ditumbuhi berbagai jenis tanaman.
Penekanan utama terkait dengan masalah air sebagai dasar kehidupan, khususnya ketika kita mempelajari masalah tanaman sebagai salah satu makhluk Alloh, merupakan kajian awal yang perlu mendapat perhatian karena permasalahan air menyangkut permasalahan malai paling kecil yaitu masalah normal atau tidaknya perkembangan sel tumbuhan.

Catatan Hati Seorang Dara

dalam cacatan kecil pada serpihan kertas yang tergeletak di antara tumpukan kertas seorang dara yang telah cukup usia  menuliskan episode pe...