Minggu, 25 Agustus 2019

AQIDAH ISLAM 1

AQIDAH ISLAM
(ILMU TAUHID)








Oleh
SAYID SABIQ
GURU BESAR DI UNIVERSITAS AL-AZHAR






Diterjemahkan oleh:
Moh. Abdai Rathomy











Penerbit
C.V. DIPONEGORO BANDUNG
Jl. Mohammad Toha 44-46 Telp. 50395

Cetakan III Tahun 1982




Diketik Ulang oleh:
Bambang Nurmuis

(Pengantar Penerbit tertanggal 6 Maret 1974 tidak ditulis)


PENGANTAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Alhamdulillahi rabbil’alamiin, dengan kesempatan dan dorongan kemauan yang telah Engkau limpahkan dapat kumanfaatkan untuk menulis ulang terjemahan Kitab Aqidah Islam (Ilmu Tauhid) ini.
Kitab Aqidah Islam yang diterjemahkan oleh Moh. Abdai Rathomy dari tulisan Sayit Sabiq ini diterbitkan oleh Penerbit CV. Diponegoro Bandung pada tahun 1982 (Cetakan ke III), dan telah saya miliki sejak akhir tahun 1984 ketika saya masih di Semester I Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.
Penulisan ulang kitab ini bukan untuk kepentingan komersial, tetapi untuk mendekatkan pada pembaca, terutama pada anak-anakku (Muhammad Saiful 'Alim, Mughni Abdul Aziz, Iza Lu'luatul Mahmudah, dan Nuril Abshor al- Amin) yang memang saat ini lebih jarang membaca buku dan cenderung lebih banyak membaca melalui media elektronik. Dan terlebih khusus saya persembahkan untuk Iza Lu'luatul Mahmudah (anak ke-3) yang tahun 2019 ini diterima di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Dengan demikian bilamana suatu saat diperlukan, akan bisa dijadikan referensi saat kegiatan berlajar.
Penulisan ulang ini sengaja akan saya muat dalam blog pribadi saya, dan manakala ada pihak yang ingin menjadikan referensi, termasuk anak saya, agar tetap menelusuri pada buku terjemahan asli atau bahkan kitab yang asli.
Selanjutnya perlu diketahui bahwa penulisan ulang ini : (1) halaman tidak sesuai dengan halaman asli pada buku terjemahan, karena format kertas yang berbeda, (2) terdapat beberapa penyesuaian terutama penulisan yang masih kurangh sesuai tata bahasa, karena saya sesuaikan dengan tata bahasa yang baku, (3) jika terdapat kesalahan huruf bukan kesalahan pada buku asli, tapi karena kesalahan saya yang terkadang salah tekan saat mengetik, (4) saya akan menampilkan penulisan ini per bab atau per bagian sebagaimana buku terjemahannya agar mudah bagi saya sendiri, anak-anak saya, dan mungkin orang lain untuk mengaksesnya, (5) untuk penulisan hadits hanya saya foto scan, karena belum mempunyai referensi hadits yang bisa dicopy.
Mohon maaf saya sampaikan kepada penerbit dan penterjemah kitab ini, saya tidak bermaksud melanggar hak cipta, tetapi hanya sekedar turut mendakwahkan. Terimakasih.

Wassalam
Bambang Nurmuis







PENGANTAR DARI MUKTAMAR ISLAM

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Penyayang”

Alhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa’ala alihi wa man walah.
Amma ba’du
Sebenarnya segala kenikmatan yang oleh Tuhan dikaruniakan kepada ummat manusia, baik yang berupa kenikmatan materi atau kebendaan serta kenikmatan rohaniah atau kesucian jiwa itu rasanya baiklah dikembalikan saja kepada para pahlawan yang secara gagah perkasa sekali telah berjuang untuk menegakkan kebanaran dan keadilan, sebab mereka itulah yang nyata-nyata telah mengeyamnya.
Pahlawan-pahlawan itu hatinya telah dipenuhi dengan keimanan, jiwanya diisi padat-padat dengan keyakinan. Mereka malahan gemar melibatkan dirinya dalam berbagai perjuangan, baik jihad terhadap nafsu ataupun terhadap musuh-musuh yang sesungguhnya. Di samping itu merekapun tidak henti-hentinya memberikan pengorbanan-pengorbanan untuk mencapai taraf kehidupan yang baik dan layak setapak demi setapak maju ke muka.
Amat mingkin sekali bahwa kenikmatan-kenikmatan yang telah dicapai itu akan makin berlipatganda, yang sebuah disusul dengan yang lainnya, andaikata akidah yang dimiliki itu tetap tidak berubah sebagaimana keadaannya semula, tinggi, luhur, bersih dan suci. Juga masih dipertahankan kemurniannya oleh golongan yang benar-benar ikhlas, sekalipun amat kecil jumlahnya.
Tetapi sayangnya akidah itu telah dicampuri  secara keseluruhan  oleh pemikiran-pemikiran yang diada-adakan oleh manusia, bahkan ada yang dinodai oleh sekumpulan pendapat yang tidak mencerminkan keyakinan yang haq. Oleh sebab itu, lalu tidak dapat mendalam sampai ke dasar jiwa dan tidak dapat pula mengarahkan ke jurusan yang bermanfaat dalam kehidupan ini, juga tidak dapat memberi pertolongan untuk dijadikan pendorong guna menempuh jalan yang suci yang mencerminkan kemurnian peri kemanusiaan serta keluhuran rohaniah.
Sementara itu kemajuan materi sudah merayap ke segala penjurui dari seluruh bidang kehidupan, sehingga kesannya amat terasa sekali dalam akal dan jiwa. Sampai-sampai akidah keagamaan  sebagaimana keadaannya yang sudah kami uraikan di atas  tidak tahan lagi berhadapan dengan kekuatan ilmu pengetahuan yang terus mendesak, agaknya silau berhadapan dengan berbagai pemecahan ilmiah yang datang bertubi-tubi setiap hari.
Akhirnya akidah yang sedemikian itu dihinggapi oleh suatu tekanan yang keras sekali, digoncangkan secara dahsyat, dan ditusuk dengan berbagai pendapat yang runcing yang hampir-hampir akan menyebabkan kebinasaan dan lenyapnya. Di lain fihak, di sana-sini terdengarlah suara yang memanggil-manggil untuk mengajak kembali ke pokok pangkal agama yang asli, berpegang erat-erat kepada akidah  yang diwariskan oleh para nabi dan rasul Tuhan, sebelum kegelapan materi itu merajalela di segenap sudut kehidupan di alam semesta ini dan juga sebelum kesesatan bersitegang urat leher di seluruh penjuru dunia, sehingga tidak seorangpun akan dapat melawannya nanti. Namun sangat disayangkan sekali bahwa suara-suara itu belum dapat mencapai sasarannya, belum dapat merealisasikan tujuannya dan belum kuasa mentahkikkan apa yang dicita-citakannya. Sebabnya ialah karena suara-suara itu tidak mempunyai pendukung ya ng berdiri sekokoh-kokohnya, yang dapat benar-benar memuaskan, juga berkekuatan teguh dan pula alat-alat yang cukup sempurna. Sebab andaikata kekuatan teguh dan pula alat-alat yang cukup sempurna itu ada, tentunya dapat mengeluarkan suara yang nyaring, keras, didengarkan, diikuti, dan diperhatikan secara nyata. Selain itu, para penganjur yang memberikan dakwah dan penerangan dalam hal-hal yang berhubungan erat dengan akidah-akidah itu tidak mampu menunjukkan mutu yang tinggi dan nilai yang berharga dan murni yang dapat menanamkan kesan yang meresap dalam akal fikiran serta hati nurani umat manusis.
Dalam pada itu ilmu pengetahuan moderen dengan penemuan-penemuannya yang serba baru menempuh jalannya sendiri dan agaknya dapat memberikan kenyataan kepada ummat manusia perihal kelezatan-kelezatan materi yang segera dapat dikenyam, juga dapat menyempurnakan kesenangan mereka dengan mengeluarkan sebanyak mungkin kemanfaatan yang terkandung dalam benda-benda yang ada  di alam semesta ini. Digalilah berbagai kegunaan, kebaikan dan penghasilan dari apa-apa yang maujud itu dengan berdasarkan ilmu pengetahuan yang moderen tersebut.
Namun demikian, sekalipun ilmu pengetahuan tadi sudah melangkah terlampau jauh menempuh berbagai jalan untuk memperkembangkan pengaruhnya, tetapi masih juga  tidak dapat memberikan kepuasan ummat manusia dalam hal keamanan dan kesejahteraan, tidak pula dapat melimpahkan kemesraan dan kecintaan, kesayangan dan keibaan, sikap tolong-menolong dan mendahulukan kepentingan masyarakat ramai, bahkan tidak kuasa pula mengisi didikan dalam jiwa atau meluruskan akhlak yang sudah rusak. Oleh sebab itu hal-hal yang sedemikian ini, lalu ummat manusia dihinggapi oleh suatu kelumpuhan yang menguatirkan sekali akibat berlebihnya keluasan akal fikiran di samping kesempitan hati nurani.
Sebenarnya ummat manusia seluruhnya di dunia pada zaman kita sekarang ini, memiliki ilmu pengetahuan yang berlimpah ruah dan akal fikiran yang amat luas, tetapi boleh dikatakan masih dalam periode kanak-kanak yang baru tumbuh, dan oleh karena itu mungkin akan merupakan suatu bahaya terhadap jiwa perikemanusiaan bahkan bahaya itu mungkin akan mengenai seluruh manusia pada umumnya.
Oleh sebab itu, maka sangat penting sekali mengadakan perubahan secara radikal terhadap jiwa manusia itu dengan jalan menanamkan akidah yang benar dan sehat yang tidak tercampur dengan pemikiran-pemikiran yang dibuat-buat oleh siapapun dan tidak pula diselundupi oleh pendapat dan pengaruh hawa nafsu.
Benar-benar suatu karunia dan keutamaan Allah Taala bahwa akidah ini masih dapat  berwujud tetap dalam kemurnian, kesucian, kelengkapan dan kebersihannya.
Sesungguhnya yang menjamin untuk tetap terang benderangnya  akidah itu, sesuai dengan wahyu yang benar-benar dari Tuhan adalah Kitab Suci Al-Quran sendiri yang tidak dihinggapi oleh kebatilan, baik dari manapun datangnya, dari muka atau belakang. Disamping itu juga dijamin kesuciannya oleh hadits-hadits sholih yang memberikan ketetapan dan kemantaban yang tidak mungkin disusupi oleh sangkaan-sangkaan atau perkiraan-perkiraan belaka.
Sebagian dar i keistimewaan-keistimewaan akidah yang kekal ini ialah bahwa ia adalah pusaka yang ditinggalkan oleh sekalian rasul Tuhan, juga bahwa akidah itulah yang mnerupakan penghimpun yang mengikat erat antara seluruh kaum muslimin dengan satu agam yang datang dari Allah Yang Maha Esa yang tidak mungkin akan berbeda, baik di masa atau di tempat manapun juga. Selain itu akidah itu adalah suatu kepercayaan yang tidak memaksa, tidak sukar diterima oleh akal fikiran, tetapi kuasa untuk mengarahkan setiap manusia untuk menuju ke arah kemuliaan dan keluhuran dalam kehidupan ini.
Hanya saja untuk menyuburkan akidah itu tadi sangat diperlukan sekali tenaga yang militant, kegiatan yang sungguh-sungguh untuk menyebarkannya, meratakannya, dan menyampaikannya ke seluhun ummat manusia. Tenaga yang kokoh yang berdidi di belakangnya mutlak perlu untuk usaha ini, sehingga mempunya tempat yang wajar dalam kalbu dan akal fikiran ummat, juga agar dapat menguasai pengaruh kehidupan dan masyarakat ramai.
Oleh karena risalah Muktamar Islam adalah suatu risalah yang mempunyai kewajiban untuk menyirnakan kegelapan dan meratakan sinar cahaya, juga memajukan cara berfikir, mensucikan hati, meluruskan sepak terjang  untuk menuju ke arah keluhuran akhlak, ketinggian budi dan kelurusan langkah dan jejak, maka dipandang perlu untuk menyajikan kitab ini ke seluruh ummat manusia, yakni kitab yang diberi nama:
AQAID ISLAMIYAH
Oleh Ustadz : Sayid Sabiq
Sebagai suatu saham dari Muktamar Islam untuk merealisasikan risalatnyua.
Penyusun kitab ini berusaha sekuat tenaga untuk menampkkan dan membeberkan akidah-akidah Islam itu sesuai dengan yang tercantum dalam kitab-kjitab suci Tuhan seru sekalian alam, juga yang dakwahkan oleh semua nabi dan rasul alaihimushshalatu wassalam. Isinya dibersihkan sama sekali dari segala noda yang mencampurinya, disucikan dari pengaruh hawa nafsu yang mengotorinya sejak bertahun-tahun dan berabad-abad yang lalu.
Tidak satupun usaha yang ditinggalkan oleh penyususn kitab ini untk mengemukakan penjelasan-penjelasan hakikat yang sebebnarnya dari akidah-akidah itu agar mudah diterima oleh akal fikiran yaitu dengan  menggunakan apa-apa yang sudah ditemukan oleh ilmu pengetahuan moderen. Hal ini dilakukan sedapat mungkin. Selain itu juga memakai cara pemikiran yang berdasarkan akal yang telah memperoleh hidayat yang kiranya akan lebih mengokohkan tertanamnya akidah-akidah agama itu.
Dengan cara sebagaimana di atas itu akan dapat bertemulah wahyu Rabbani dengan akal fikiran Insani secara bersamaan guna mengangkat taraf kehidupan serta menyampaikan manusia ke tinghkat tertinggi yang mungkin dapat dicapainya yakni yang berbentuk kesempurnaan materi dan rohani, kebendaan dan kebudayaan sejati.
Muktamar Islam, dengan menyajikan hidangan yang berupa kitab ini, dapatlah dianggap sebagai satu bagian dari sekian banyak beban risalah yang dipikulnya, disamping memohonkan kepada Alloh Taala agar mengaruniakan tambahan ilmu yang bermanfaat dan amal perbuatan yang shalih kepada penyusunnya ini.
Sebagaimana juga Muktamar Islam memohon kepada Alloh Subhanahu wa taala agar karya penyusun kitab ini dijadikan suatu alam yang dengan ikhlas ditujukan untuk mengharapkan keridloan Dzat-Nya Yang Maha Mulia. Semogalah kemanfatan akan merata  dengan tersiarnya kitab ini dan dicatac sebagai suatu karya yang diterima di sisi-Nya. Tuhan kiranya satu-satunya pelindung kita dan Dia-lah sebaik-baiknya Dzat.
MUKTAMAR ISLAMI









































بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لا شَرْقِيَّةٍ وَلا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
S. An-Nur : 35













1
MUKADDIMAH
ISLAM ADALAH KEIMANAN DAN PERBUATAN

Islam adalah agama Alloh yang diwakyukan kepada Nabi Muhammad  Shalawatullah wa salamuhu alaih  dan ia adalah agama yang berintikan keimanan dan perbuatan (amal).
Keimanan itu merupakan akidah dan pokok, yang di atasnya berdiri syariat Islam. Kemudian dari pokok itu keluarlah cabang-cabangnya.
Perbuatan itu merupakan syariat dan cabang-cabang yang dianggap sebagai buah yang keluar dari keimanan serta akidah itu.
Keimanan dan perbuatan, atau dengan kata lain akidah dan syariat, keduanya itu antara satu dengan yang lain sambung-menyambung, hubung-menghubungi dan tidak dapat berpisah yang satu dengan lainnya. Keduanya adalah sebagai buah dengan pohonnya, sebagai musabbab dengan sebabnya atau sebagai natijah (hasil) dengan mukaddimahnya (pendahuluannya).
Oleh karena adanya hubungan nyang sangat erat itu, maka amal perbuatan  selalu disertakan penyebutannya dengan keimanan dalam sebagian besar ayat-ayat Al-Qur’an Al-Karim.
Sebagai misal dapatlah dikemukakan firman-firman Alloh Ta’ala :

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ

“Berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, bahwasanya  mereka itu  akan memperoleh surga yang di bawahnya  mengalir beberapa sungai.”
S. Al-Baqarah : 25

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan, baik ia laki-laki atau perempuan dan ia seorang yang beriman, maka pastilah Kami (Allah) akan memberinya  kehidupan yang baik dan pasti Kami beri balasan dengan pahalanya, menurut yang dikerjakan sebaik-baiknya.”
S. An-Nahl : 97

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka Tuhan Yang Pengasih akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.
S. Maryam : 96



PENGERTIAN KEIMANAN ATAU AKIDAH

Pengertian keimanan atau akidah itu tersusun dari enam perkara:
Ma'rifat kepada Allah, marifat dengan nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang tinggi. Juga marifat dengan bukti-bukti wujud atau ada-Nya serta kenyataan sifat keagungan-Nya dalam alam semesta atau di dunia ini.
Ma'rifat dengan alam yang ada di balik alam semesta ini, yakni alam yang tidak dapat dilihat. Demikian pula kekuatan-kekuatan kebaikan yang terkandung di dalamnya yakni yang berbentuk malaikat, juga kekuatan-kekuatan jahat yang berbentuk iblis dan sekalian tentaranya dari golongan syaithan. Selain itu juga ma'rifat dengan apa yang ada di dalam alam yang lain lagi seperti jin dan ruh.
Ma'rifat dengan kitab-kitab Allah Ta'ala yang diturunkan oleh-Nya kepada para rasul. Kepentingannya ialah dijadikan sebagai batas untuk mengetahui antara yang haq dan yang bathil, yang baik dan yang jelek, yang halal dan yang haram, juga antara yang bagus dan yang buruk.
Ma'rifat dengan nabi-nabi serta rasul-rasul Allah Ta'ala yang dipilih-Nya untuk menjadi pembimbing ke arah petunjuk serta pemimpin seluruh makhluk guna menuju kepada yang haq.
Ma'rifat dengan hari akhir dan peristiwa-peristiwa  yang terjadi di saat  itu seperti kebangkitan dari kubur (hidup lagi sesudah mati), memperoleh balasan, pahala atau siksa, surga atau neraka.
Ma'rifat kepada takdir (qadla dan qadar) yang di atas landasannya itulah berjalannya peraturan segala yang ada di alam semesta ini, baik dalam penciptaan atau cara mengaturnya.


KESATUAN AQIDAH

Inilah yang merupakan pengertian pokok dalam keimanan, yakni akidah yang untuk menyiarkannya itulah Allah Ta'ala menurunkan kitab-kitab suci-Nya, mengutus semua rasul-Nya dan dijadikan sebagai wasiat-Nya, baik untuk golongan awwalin (orang-orang dahulu) dan golongan akhirin (orang-orang belakangan).
Itulah akidah yang merupakan kesatuan yang tidak akan berubah-ubah karena pergantian zaman atau tempat tidak pula berganti-ganti karena perbedaan golongan atau masyarakat.
Allah Ta’ala berfirman :

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا

“Allah telah mensyariatkan agama untukmu semua yaitu yang diwasiatkan kepada Nuh yang Kami wahyukan kepadamu, juga yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa,  hendaklah kamu semua menegakkan agama itu dan jangan berselisih di dalam melaksanakannya."
S. Asy-Syura : 13

Jelaslah dari ayat di atas itu bahwa agama yang disyariatkan Allah Ta'ala kepada kita itu adalah sebagaimana yang pernah diwasiatkan kepada rasul-rasul-Nya yang dahulu-dahulu, yakni agama yang merupakan pokok-pokok akidah dan tiang-tiang atau rukun-rukun keimanan. Jadi bukannya cabang-cabangnya agama atau syariat-syariatnya yang berupa amalan. Sebabnya ialah kerena setiap ummat itu tentu memiliki syariat-syariat amaliah yang sesuai dengan mereka sendiri, hal ikhwal serta jalan fikiran serta kerohanian mereka itu pula.
Hal ini terang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala :

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Untuk masing-mnasing dari  kamu semua itu Kami buatkan aturan dan jalan yang harus di tempuh"
S. Al-Maidah: 48



APA SEBABNYA AKIDAH ITU SATU DAN KEKAL

Akidah sebagaimana yang diuraikan di muka itu oleh Allah Ta"ala dijadikan umum dan merata untuk seluruh ummat manusia, kekal sepanjang masa, sebab sudah nyatalah bekas-bekas kemanfaatan dan keperluannya, baik dalam kehidupan perorangan maupun perkembangan masyarakat ramai.
Marilah kita kupas secara terperinci:
Pertama marifat kepada Allah Ta'ala yang akan memancarkan berbagai perasaan yang baik dan dapat dibina di atasnya semangat untuk menuju ke arah perbaikan. Ma'rifat ini dapat pula memberi didikan kepada hati untuk senantiasa menyelidiki dan meneliti mana-mana yang salah dan tercela, malahan dapat menumbuhkan kemauan untuk mencari keluhuran, kemuliaan dan ketinggian budi dan akhlak dan sebaliknya juga menyuruh  seseorang supaya menghindarkan dirinya dari amal perbuatan yang hina rendah dan tidak berharga sedikitpun.
Kedua adalah ma'rifat kepada malaikat Allah Ta'ala. Hal ini dapat mengajak hati sendiri untuk mencontoh dan meniru mereka yang serba baik dan terpuji itu, juga dapat tolong menolong dengan mereka untuk mencapai yang haq dan luhur. Selain itu mengajak pula untuk memperoleh penjagaan yang sempurna, sehingga tidak satupun yang timbul dari manusia itu melainkan yang baik-baik dan segala tindakannyapun tidak akan ditujukan melainkan untuk maksud yang mulia belaka.
Ketiga ialah marifat kepada Kitab-kitab Suci Allah Taala. Ini adalah suatu ma'rifat yang memberikan arah untuk menempuh jalan yang lurus, bijaksana dan diridloi oleh Tuhan, yang tentunya sudah digariskan oleh Allah Taala agar seluruh ummat manusia itu mentaatinya. Sebabnya ialah karena hanya dengan melalui jalan inilah maka seseorang itu dapat sampai ke arah kesempurnaan yang hakiki, baik dalam segi kebendaan (materi) atau segi kerohanian dan akhlak (adab).
Keempat ialah marifat kepada rasul-rasul Allah Ta'ala. Dengan ma'rifat ini dimaksudkan agar setiap manusia itu mengikuti jejak langkahnya, memperhias diri dengan meniru akhlak para rasul itu. Selain itu juga bersabar dan tabah hati dalam mencontoh sepak terjang beliau-beliau itu sebab jelaslah bahwa tindak langkahnya para rasul itu mencermikan suatu teladan yang tinggi nilainya dan yang bermutu baik sekali, bahkan itulah yang merupakan kehidupan yang suci dan bersih yang dikehendaki oleh Allah Ta'ala agar dimiliki oleh seluruh ummat manusia.
Kelima ialah ma'rifat kepada hari akhir, dan ini akan menjadi pembangkit yang terkuat untuk mengajak manusia itu berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan.
Keenam ialah marifat kepada takdir, dan ini akan memberikan bekal kekuatan dan kesanggupan kepada seseorang untuk menanggulangi segala macam rintangan, siksaan, kesengsaraan dan kesukaran. Sementara itu akan dianggap kecil sajalah segala penghalang dan cobaan sekalipun bagaimana juga dahsyat dan hebatnya.
Hal-hal sebagaimana di atas itu tampak dengan jelas bahwa akidah itu tujuan utamanya memberi didikan yang baik dalam menempuh jalan kehidupan, mensucikan jiwa lalu mengarahkannya ke jurusan yang tertentu untuk mencapai puncak dari sifat-sifat yang tinggi dan luhur dan lebih utama lagi supaya diusahakan agar sampai tingkatan ma'rifat yang tertinggi.
Menempuh jalan yang dilandasi oleh didikan yang murnidan utama yang dilakukan oleh seseorang dengan melalui penanaman akidah kegamaan adalah  suatu saluran  yang terbesar yang paling tepat dalam memperoleh  cita-cita pendidikan terbaik.
Sebabnya demikian itu ialah karena agama itu nyata-nyata mempunyai suatu kekuasaan yang tertinggi dalam hati dan jiwa juga memberikan kesan yang mendalam pada perasaan, bahkan rasanya tidak ada kekuasaan atau pebngaruh atau kesan yang dapat ditimbulkan oleh hal-hal lain yang lebih dapat menghasilkan ari pada agama itu sendiri, baik yang sudah dicoba oleh para cerdik cendekiawan, para ahli kebijaksanaan ataupun para sarjana pendidikan.
Jadi teranglah bahwa penanaman akidah atau kepercayaan  di dalam hati dan jiwa itu adalah setepat-tepatnya jalan yang wajib dilalui untuk menimbulkan unsur-unsur kebaikan yang dengan bersendikan itu akan terciptalah kesempurnaan kehidupan, bahkan akan memberikan saham yang paling banyak untuk membekali jiwa seseorang dengan sesuatu yang lebih bermanfaat dan lebih sesuai dengan petunjuk Tuhan.
Bentuk pendidikan yang semacam ini akan memberikan hiasan kehidupan itu dengan baju keindahan, kerapihan dan kesempurnaan, juga menanunginya dengan naungan kecintaan dan kesejahteraan.
Manakala kecintaan sudah terpateri dalam kalbu dan berkuasa untuk menimbulkan tindakan, maka pastilah permusuhan akan lenyap, pertengkaran akan sirna, persepakatan akan diperoleh sebagai ganti percekcokan, dan persahabatan akan muncul sebagai ganti permusuhan. Dengan demikian seluruh manusia akan saling dekat-mendekati, hubung-menghubungi dan muncullah kerukunan, persatuan serta ikatan yang seerat-eratnya. Setiap orang akan berusaha memberikan sumbangan sebanyak-banyaknya guna kebaikan ummat dan masyarakat, dan sebaliknya ummat dan masyarakat itupun berusaha keras untuk memberikan kebahagiaan kepada setiap perorangan serta menyumbangkan tenaganya untuk kebaikan siapapun.
Dari segi ini tampaklah betapa besar hikmatnya, mengapa keimanan  itu dijadikan umum dan kekal, tidak berbeda keimanan yang diajarkan oleh Tuhan di zaman dahulu dan di zaman sekarang, bahkan di masa dan di tempat manapun. Semua sama dan satu macam.
Tidak suatu generasi atau ummatpun yang dibiarkan kosong oleh Allah Taala tanpa mengutus rasul-Nya kepada mereka itu yang diberi tugas untuk mengajak kepada keimanan yang sedemikian ini serta menancapkan dalam-dalam akarnya akidah itu dalam hati.
Sebagian besar dakwah untuk pembaharuan akidah itu diberikan oleh Allah Taala setelah rusaknya hati ummat manusia dan tersesatnya kepercayaan yang mereka miliki, juga runtuhnya semua akhlak dan perikemanusiaan. Di saat itu pasti nyata sekali kebutuhan manusia kepada suatu kekuasaan yang ampuh yang dapat mengembalikan mereka kepada fitharah asli mereka yang benar dan sejahtera. Bimbingan semacam itu mutlak diperlukan oleh ummat agar secara langsung dapatlah menusia itu meneruskan perbaikan kemakmuran bumi dan agar kuat pula untuk membawa amanat kehidupan di alam semesta ini.
Akidah ini merupakan ruh dari setiap orang; dengan berpegang teguh padanya itu akan hidup dalam keadaan yang baik dan menggembirakan, tetapi dengan meninggalkannya itu akan matilah semangat kerohanian manusia. Ia adalah bagaikan cahaya yang apabila seseorang itu buta dari padanya, maka pastilah ia akan tersesat dalam liku-liku kehidupannya, malahan tidak mustahil bahwa ia akan terjerumus dalam lembah-lembah kenistaan yang amat dalam sekali.
Dalam hal ini Allah ta’ala berfirman :

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا

“Adakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami (Allah) hidupkan dan Kami berikan padanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam gelap gulita yang ia tidak dapat keluar dari situ?
S. Al-Anam : 122

Memang akidah adalah sumber dari rasa kasih sayang yang terpuji, ia adalah tempat tertanamnya perasaan-perasaan yang indah dan luhur, juga sebagai tempat tumbuhnya akhlak yang mulia dan utama. Sebenarnya tidak suatu keutamaanpun, melainkan ia pasti timbul dari situ dan tidak suatu kebaikanpun, melainkan bersumber dari padanya.
Al-Quran Al-Kariim, diwaktu memperbincangkan perihal kebaikan, maka disebutkanlah bahwa akidah itulah yang menjadi perintis  atau pendorong dari amal-amal perbuatan yang shalih itu. Jadi akidah diumpamakan sebagai pokok yang dari situlah munculnya beberapa cabang atau fundamen yang di atasnyalah bengunan didirikan. Allah Subhanahu wa Taala berfirman :

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىحُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ 

“Bukanlah kebiakan itu juka kamu semua menghadapkan mukamumu ke arah timur dan barat, tetapi yang disebut kebaikan itu ialah kebaikan orang yang beriman kepada Allah, hari akhir (hari kiamat), malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, memberikan harta yang dicintainya itu kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang terlantar dalam perjalanan,  orang-orang yang meminta-minta, dan melepaskan perbudakan, mendirikan salat,  menunaikan zakat, memenuhi janji apabila berjanji, orang-orang sabar dalam kesengsaraan, kemelaratan dan juga di waktu peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan merekalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah."
S. Al-Baqarah : 177


JALAN YANG DITEMPUH PARA RASUL
DALAM MENANAMKAN AKIDAH

Sekalian rasul Tuhan memberitahukan kepada masing-masing ummatnya, akidah sebagaimana yang tersebut di muka dan mereka menempuh cara yang semua itu dapat dikatakan mudah, ringan dan gampang. Juga semuanya itu mudah dimengerti , difahamkan dan diterima. Beliau-beliau alaihimus salam itu menyuruh ummatnya supaya mengarahkan pandangan mereka ke kerajaan langit dan bumi, digerakkanlah akal fikiran mereka itu supaya suka mengenang-ngenangkan serta memikir-mikirkan tanda-tanda kekuasaan Tuhan, fitrahnya dibangunkan agar jiwanya dapat menerima tanaman dengan mempunyai perasaan yang teguh lagi cocok dalam beragama, dan selain itu diajaknya pula merasakan suatu alam lain yang ada di balik alam semesta yang dapat di lihat ini.
Di atas landasan-landasan sebagaimana di atas itu pulalah Rasulullah  shalawatullah wa salamuhu alaih  menanamkan akidah itu di dalam hati dan jiwa ummatnya, ummat Muhammad yang terbesar ini.
Beliau saw menyuruh agar pandangan merreka diarahkan dan pemikiran mereka ditujukan ke jurusan ini. Akal mereka digerakkan dan fithrah mereka dibangunkan sambil mengusahakan penanaman akidah itu dengan memberikan didikan, lalu disuburkan dan dikokohkan, sehingga dapat mencapai puncak kebahagiaan yang dicita-citakan.
Rasulullah saw dapat mengubah ummat yang asal muklanya sebagai penyembah berhala dan patung, yang dahulunya melakukan syirik dan kufur, menjadi ummat yang berakidah tauhuid, mengesakan Tuhan seru sekalian alam. Hati mereka dipompa dengan keimanan dan keyakinan. Sementara itu beliau saw dapat pula membentuk sahabat-sahabatnya menjadi pemimpin-pemimpin yang harus diikuti dalam hal perbaikan budi dan akhlak, bahkan menjadi pembimbing-pembimbing kebaikan dan keutamaan. Bahkan lebih dari itu lagi, karena beliau saw telah membentuk generasi dari ummatnya itu sebagai suatu bangsa yang menjdi mulia dengan sebab adanya keimanan dalam dada, mereka berpegang teguh pada haq dan kebenaran. Maka pada saat itu ummat yang langsung di bawah pimpinannya adalah bagaikan matahari dunia, disamping sebagai pengajak kesejahteraan dan keselamatan pada seluruh ummat manusia.
Allah Ta’ala membuat kesaksian sendiri pada generasi itu bahwa mereka itu benar-benar memperoleh ketinggian dan keistimewaan yang khusus, sebagaimana firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu semua adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan untuk manusia;  menyuruh kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah “
S. Ali Imran : 110

Keimanan yang dimiliki oleh sahata-sahabat beliau saw itu sampai mencapai suatu tingkat yang dapat dikatakan : Andaikata tabirpun disingkapkan, tidaklah bertambah keyakinanku. Maksudnya ialah sudah penuh dan ada di puncak yang tertinggi, maka sekalipun tabir keghaiban terbuka, keyakinan itu tidak dapat tambah lagi.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Harits bin Malik Anshori ra, terdapat suatu gambaran yang gamblang untuk memberikan pengertian kepada kita, betapa dahsyatnya keimanan yang dimiliki oleh sebagian sahabat beliau saw. Inilah gambaran yang cemerlang sekali mengenai keimanan seseorang.
Diceriterakan bahwa Haritsah berjalan melalui tempat Rasulullah saw, lalu beliau saw bertanya dengan sabdanya:

“Bagaimanakah engkau berpagi-pagi ini, hai Haritsah ?
Haritsah menjawab, Saya sebagai seorang mukmin yang sungguh-sungguh.
Rasulullah saw bersabda lagi, Fikirkanlah baik-baik apa uang kau katakan itu, sebab segala sesuatu itu pasti ada kenyataannya. Maka dari itu, apakah kenyataan dari keimananmu?
Haritsah menjawab, Jiwaku tidak memperhatikan lagi keduniaan. Waktu malam saya berjaga dan waktu siangnya saya haus (berpuasa). Seolah-olah saya melihat arsy Tuhan-ku yang tampak jelas. Seolah-olah saya melihat para ahli surga saling zizrah-menziarahi dan seolah-olah saya melihat para ahli neraka sama berteriak-teriak di dalamnya.
Rarulullah saw lalu bersabda, Engkau sudah benar-benar mengerti itu, hai Haritsah. Kalau begitu tetaplah."

Hadits ini diriwatkan oleh Tabrani dengan sanad dlaif.


PENYELEWENGAN DARI JALAN YANG DITEMPUH PARA RASUL
DAN AKIBATNYA

Semenjak kedaulatan Negara Tauhid berdiri di bawah pimpinan Rasul Tuhan yang terakhir, yakni Nabi Besar Muhammad saw keadaan akidah masih tetap dalam kesuciannya yang berasal dari wahyu Illahi dan ajaran-ajaran yang diberikan dari langit. Dasar utamanya yang dijadikan pedoman adalah Al-Quran dan As-Sunnah. Pada tingkat permulaan arah yang dituju ialah memberikan didikan dalam watak dan tabiat, meluhurkan sifat-sifat yang bersangkutan dengan gharizah kalbu dan cara didikan yang harus dilalui dan ditempuh. Masudnya ialah agar setiap manusia dari kalangan masyarakat itu dapat memperoleh keluhuran yang sesuai dengan kehormatan dan kemuliaan dirinya, dan dengan demikian akan tumbuhlah suatu kekuatan secara otomatis yang amat kokoh dalam kehidupan.
Selanjutnya setelah masa kekhalifahan yang banyak bersendikan soal siasat dan politik, apalagi setelah ada hubungannya dengan cara-cara pemikiran yang ditimbulkan berbagai madzab yang berdasarkan filsafat atau yang dibawa oleh agama-agama lain kemudian memaksa otak manusia supaya menyelami sesuatu yang ia tidak kuasa mencapainya, maka itulah yang menjadi sebab pokok sehingga terjadinya pergantian atau penyelewengan dari jalan yang lazim ditempuh oleh para nabi dan rasul. Ini pula yang merupakan sebab utama mengapa keimanan yang asalnya cukup luas dan mudah diterima, tetapi yang amat tinggi nilainya itu lalu menjadi berbagai macam pemikiran yang berisikan filsafat atau menjadi bahan kiasan yang banyak diperselisihkan menurut ketentuan mantik atau ilmu bahasanya, juga menjadi pokok perdebatan dan perselisihan pendapat yang kiranya hampir menyerupai persengketaan bizantiah, yang tidak berujung dan tidak berpangkal sama sekali.
Ajaran keimanan yang sudah berubah itu akhirnya tidak lagi mencerminkan keimanan yang dengannya dapatlah jiwa menjadi suci, amal perbuatan menjadi mulia dan baik ataupun yang dapt memberi semangat gerak pada perorangan atau yang dapat memberi daya hidup pada ummat dan bangsa.
Sebagai bekas adanya perselisihan dalam persoalan-persoalan siasat dan politik itu dan disebabkan pula adanya penyelewengan dari jalan yang lazim ditempuh oleh para rasul Tuhan sebagai fithrah, bahkan ditambah pula dengan kesan-kesan pemikiran-pemikiran secara madzab dan aliran yang baru datang dan dilanjutkan pula oleh pemaksaan akal untuk menyelidiki yang bukan semestinya, sehingga akhirnya penganjur-penganjur akidah itu berpecahbelah menjadi beberapa golongan yang memberikan pengajaran yang berlain-lainan, bnerbeda antara yang satu dengan lainnya. Setiap ajaran atau madrasah mencerminkan suatu corak tersendiri dari cara pemikiran yang tertentu. Masing-masing fihak menganggap bahwa apa yang dimiliki dan dipegang itu sajalah yang benar, sedang yang tidak cocok dengan pendapatnya adalah salah belaka. Demikianlah anggapan setiap golongan itu. Malahan ada anggapan yang lebih kejam lagi dari itu, yakni siapa saja yang tidak mesuk dalam golongan kelompoknya maka menurut pandangannya dianggap sudah keluar dari Islam.
Oleh karena itu maka di sana timbullah madrasah untuk ahli hadits, di situ ada madrasah kaum Asyariyah, di sini ada pula madrasah bagi kaum Mutazilah, madrasah kaum Syiah, madrasah kaum Jamiah, dan masih banyak lagi madrasah-madrasah yang berlain-lainan dan berbeda-beda aliran dan madzabnya, malahan berselisih pula pendapat-pendapatnya antara yang segolongan dengan golongan lainnya.
Ada seorang ahli syair berkata:

Setiap orang mengaku
Ada hubunganku dengan puteri Laila
Tetapi laila sendiri membisu
Tidak ikut di sini staupun di sana
Dikala air mata sudah bertimbun
Membasahi seluruh pelupuk mata
Nyatalah nanti siapa yang sebenarnya menangis
Dan siapa pula yang berpura-pura

Di antara perselisihan yang tersohor yang memperluas jurang antara ummat Muhammad yang satu ini ialah yang terjadi antara kaum Asyariah dan kaum Mutazilah.
Pokok-pokok utama yang menyebabkan timbulnya pertengkaran dan perbedaan pendapat itu ialah yang berkisar dalam hal-hal di bawah ini:
Apakah keimanan itu sebagai kepercayaan saja ataukah kepercayaan dan amal perbuatan ?
Apakah sifat-sifat Allah Taala yang dzatiah itu kekal padanya ataukah dapat lenyap dari padanya ?
Manusia itu musayyar atau mukhayyar ?
Tentang musayyar atau mukhayyar, harap diperiksa dalam bab Takdir
Apakah wajib atas Allah Taala itu mengerjakan yang baik atau yang terbaik ataukah tidak wajib ?
Apakah baik atau buruk itu dapat dikenal dengan akal atau dengan syariat ?
Apakah Allah Taala itu wajib memberi pahala kepada orang yangh taat dan menyiksa pada orang yang bermaksiat, ataukah tidak wajib yang sedemikian itu ?
Apakah Allah Taala itu dapat dilihat di akhirat nanti ataukah hal itu mustahil sama sekali ?
Bagaimakah hukumnya seorang yang menumpuk-numpuk dosa besar dan sehingga matinya tidak bertaubat ?
Dan masih banyak lagi persoalan-persoalan yang merupakan bahan perselisihan pendapat antara berbagai golongan kaum muslimin dan itu pula yang menyebabkan tersobek-sobeknya ummat Islam menjadi berbagai-bagai golongan dan partai.
Benar-benar menyedihkan, sebab sebagai hasil dari pada pertengkaran yang tidak berujung pangkal ini, juga sebagai bekas perpecahan itu, lalu kaum muslimin membuat suatu kesalahan yang amat besas sekali, suatu kekeliruan yang amat berbahaya.
Apakah itu ? Yaitu bahwa akidah yangasalnya teguh dan mantab telah menjadi goyah dan guncaung dalam hati, keimananpun tidak meresap tertanamnya di dalam jiwa, sehingga akidah itu tidak lagi menguasai pada jalan kehidupan yang harus ditempuh oleh setiap manusia muslim dan bahkan keimanan itu sendiri tidak dapat lagi menjadi pusat pemerintahan yang menjiwai segala tindak dan langkahnya orang yang mengaku sebagai pemeluknya.
Sebagai kelanjutan dari akidah yang telah lemah itu, lalu kelemahan  itu merata pulapada pribadi perorangan, seluruh keluarga, masyarakat dan negara dan bahkan pengaruh kelemahan itu tadi mengenai pula segala segi kehidupan ummat manusia. Kelemahan itu merayap di segenap penjuru sehingga ummat itu akhirnya tidak kuasa lagi bangun dan bergerak sampai menurun kepada generasi-generasi yang berikutnya, tidak dapat pula memberikan pertanggungan jawabnya baik ke dalam maupun ke luar.
Ummat Islam tidak lagi menetapi sebagaimana yang dikehendaki Allah Subhanahu wa Taala menjadi pribadi  yang cukup cakap untuk menjadi pemimpin ummat serta pemberi petunjuk kepada seluruh bangsa di dunia. Ini akibat dari kelemahan yang datang bertubi-tubi sebagaimana diuraikan di atas itu.


PENTINGNYA KEMBALI KE ARAH PEMBAHARUAN DAKWAH
KEPADA KEIMANAN

Setelah kita semua menyadari bahwa sebab kemunduran ummat dari tujuannya yang terbesar itu adalah karena kelemahan akidah, maka yang menjadi kewajiban kita semua pada saat sekarang ini  dan kini kitapun telah memulai bekerja untuk mengembalikan kejayaan ummat kita  yaitu bekerja keras tanpa mengenal lelah untuk menanamkan akidah yang sebenar-benarnya itu  dalam kalbu dan jiwa kita. Hendaknya pula kita menempuh jalan yang sudah digariskan Rasulullah saw dalam memberikan tuntunan dan mempropagandakannya itu. Caranya ialah dengan pendidikan dan pengajaran yang sistematis serta kemudian merawatnya sampai hidup subur, sehingga akhirnya akidah itu dapat mencapai puncak tertinggi yakni tertanam kokoh kuat dan tidak mungkin terobohkan lagi. Selain itu juga dapat mencapai titik terakhir yang berbentuk keyakinan yang mendorong kita semua untuk maju ke depan dalam menempuh kehidupan yaqngh jaya,,  yang kelak akan dapat mengangkat kita  ke langit  yang utama yang berupa kemegahan dan kemuliaan.
Kitab ini tidaklah lain hanyalah sebagai suatu daya upaya yang timbul karena desakan akidah itu dan ingin menampakkan bekas-bekanya dalam jiwa dan dalam kehidupan.
Dalam penyusunannya kami berpedoman pada sumber-sumber pokok dan asli, yakni Kitabullah Al-Quran Al-Kariim serta Sunnah Rasulullah saw.
Harapan kami kepada Allah Taala amat besar sekali agar supaya tersebarnya ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya itu akan diterima dengan penuh kegembiraan dan tangan terbuka seluas mungkin, sehingga kita seluruh ummat Islam dapat memiliki suatu akidah yang dengannya dapatlah kita semua menjadi pemimpin danpenuntun ummat manusia sedunia, dan disamping itu kitapun akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat.
Allah Taala jualah yang mrmberikan petolongan kepada kita sekalian.
Hasbunallah wa nimal wakil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Hati Seorang Dara

dalam cacatan kecil pada serpihan kertas yang tergeletak di antara tumpukan kertas seorang dara yang telah cukup usia  menuliskan episode pe...