Dalam konsepsi Islam setiap amal yang dilakukan oleh manusia yang telah memiliki kesempurnaan akal akan tercatat secara runtut dan rapi yang dilakukan oleh Malaikat Raqib dan Atid. Raqib sebagai pencatat setiap amal kebajikan dan Atid pencatat amal kejelekan. Tidak ada yang terlewat dalam cacatan kedua malaikat tersebut.
Catatan atau rekaman amal yang telah dilakukan oleh malaikat sebagai petugas Alloh SWT tersebut, di akhirat nanti akan ditunjukkan semuanya kepada setiap pribadi dan dijadikan bahan untuk menerima balasan dari Alloh SWT. Dengan demikian maka setiap amal (perbuatan) manusia, seberapapun kecilnya memiliki implikasi atau menentukan apakah ia mendapatkan balasan kebajikan (surga) ataupun balasan kejelekan (neraka).
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَه
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.
Az-Zalzalah: 7-8
Ayat-ayat lain yang senada, banyak tertera di dalam Al-Qur'an sebagai penguat kaidah tersebut. Di antara ayat-ayat tersebut adalah An-Naba' ayat 17-36 sebagai berikut:
إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا
يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا
وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا
وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا
إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا
لِلطَّاغِينَ مَآبًا
لابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا
لا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلا شَرَابًا
إِلا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا
جَزَاءً وِفَاقًا
إِنَّهُمْ كَانُوا لا يَرْجُونَ حِسَابًا
وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا
وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ كِتَابًا
فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلا عَذَابًا
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا
حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا
وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا
وَكَأْسًا دِهَاقًا
لا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلا كِذَّابًا
جَزَاءً مِنْ رَبِّكَ عَطَاءً حِسَابًا
Sesungguhnya, hari keputusan adalah waktu yang telah ditetapkanHari yang ditiupkan sangkakala, kemudian kamu datang berbondong-bondong
Dibukakan langit, ia berpintu-pintu
Dijalankan gunung-gunung, ia seperti fatamorgana
Sungguh neraka jahanampun telah disediakan
Untuk tempat kembali orang-orang yang durhaka
Mereka akan tinggal di dalamnya untuk beberapa masa
Mereka tiada akan mendapat kesejukan, dan tiada pula mendapatkan pelepas dahaga
Kecuali minuman dari air mendidih dan nanah
Sebagai balasan atas yang mereka perbuat
Serta tiada takut terhadap hisab (pembalasan)
Merekapun mendustakan ayat-ayat kami, dan benar-benar mendustakan
Segala amal telah Kami catat dalam suatu kitab
Maka rasakan siksa itu, Kami pun tiada menambah balasan kecuali sebatas yang mereka lakukan
Sesungguhnya, bagi orang yang bertaqwa akan memperoleh tempat kenyamanan
Yaitu taman-taman dan kebun-kebun anggur
Remaja-remaja yang sebaya
Dan gelas-gelas yang penuh minuman
Merekapun tiada mendengar perkataan sia-sia dan kedustaan
Sebagai balasan dari Tuhan mu dengan pemberian yang cukup
Kaidah ini berlaku untuk semua manusia sejak manusia pertama (Adam AS) sampai manusia terakhir, apakah ia mengaku sebagai muslim ataupun bukan. Ia meyakini kaidah ini ataupun tidak. Diakui atau tidak kaidah ini tetap akan berlaku karena memang hak Alloh semata untuk menentukannya.
Konsekuensi dari kaidah tersebut adalah bahwa setiap amal akan menentukan balasan yang akan diterima dari Allah SWT. Maka orang yang bijaksana adalah manakala ia mampu memilih amal (perbuatan) yang bernilai kebajikan.
Yang termasuk kategori amal kebajikan maupun kejahatan juga telah digariskan oleh Alloh SWT. Jadi bukan asal kebajikan yang telah digali dan dirumuskan manusia sendiri dari perjalanan hidupnya.
Landasan utama yang harus dijadikan pijakan bahwa manusia sengaja diciptakan Alloh (Sang Maha Pencipta) adalah untuk mengabdi kepada-Nya. Manusia sebagai tercipta memiliki kewajiban untuk mengabdi (menundukkan diri, beribadah) kepada Sang Pencipta (Alloh SWT).
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
Adz-Dzariyat: 56
Karena ibadah/pengabdian kepada Allah merupakan landasan utama sebagai kewajiban manusia (tercipta) kepada Sang Pencipta (Allah swt), maka amal kebajikan yang tanpa dilandasi dengan keimanan kepada Allah SWT maka tidak akan dihitung atau dikategorikan sebagai sebuah kebajikan meskipun sebuah amal kebajikan memiliki wujud secara lahiriah sama seperti amal yang tertera dalam panduan hidup yang telah ditetapkan Alloh (Kitab Suci).
Sebuah contoh ringan, tidur bagi manusia yang memiliki landasan hidup keimanan kepada Alloh SWT dengan manusia yang tidak memiliki landasan iman akan memiliki nilai yang berbeda. Bagi manusia yang sama sekali tidak memiliki landasan keimanan maka tidur yang dilakukan tidak memiliki nilai kebajikan. Sebaliknya bagi manusia yang hidupnya dilandasi keimanan pada-Nya, maka tidur yang dilakukannya bisa bernilai kebajikan dan bisa juga tidak bernilai kebajikan. Jika seorang yang telah menyadari bahwa tidurpun juga merupakan bagian dari amal yang juga akan mendapat balasan dari Allah, maka ia akan tidur sesuai dengan prinsip ajaran Rasulullah Muhammad saw
Karena ibadah/pengabdian kepada Allah merupakan landasan utama sebagai kewajiban manusia (tercipta) kepada Sang Pencipta (Allah swt), maka amal kebajikan yang tanpa dilandasi dengan keimanan kepada Allah SWT maka tidak akan dihitung atau dikategorikan sebagai sebuah kebajikan meskipun sebuah amal kebajikan memiliki wujud secara lahiriah sama seperti amal yang tertera dalam panduan hidup yang telah ditetapkan Alloh (Kitab Suci).
Sebuah contoh ringan, tidur bagi manusia yang memiliki landasan hidup keimanan kepada Alloh SWT dengan manusia yang tidak memiliki landasan iman akan memiliki nilai yang berbeda. Bagi manusia yang sama sekali tidak memiliki landasan keimanan maka tidur yang dilakukan tidak memiliki nilai kebajikan. Sebaliknya bagi manusia yang hidupnya dilandasi keimanan pada-Nya, maka tidur yang dilakukannya bisa bernilai kebajikan dan bisa juga tidak bernilai kebajikan. Jika seorang yang telah menyadari bahwa tidurpun juga merupakan bagian dari amal yang juga akan mendapat balasan dari Allah, maka ia akan tidur sesuai dengan prinsip ajaran Rasulullah Muhammad saw
Tidak ada komentar:
Posting Komentar