AQIDAH ISLAM
(ILMU TAUHID)
Oleh
SAYID SABIQ
GURU BESAR DI UNIVERSITAS AL-AZHAR
Diterjemahkan oleh:
Moh. Abdai Rathomy
Penerbit
C.V. DIPONEGORO BANDUNG
Jl. Mohammad Toha 44-46 Telp. 50395
Cetakan III Tahun 1982
Diketik Ulang oleh:
Bambang Nurmu’is
(Pengantar Penerbit tertanggal 6 Maret 1974 tidak
ditulis)
PENGANTAR
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillahi
rabbil’alamiin, dengan kesempatan dan dorongan kemauan yang telah Engkau
limpahkan dapat kumanfaatkan untuk menulis ulang terjemahan Kitab Aqidah Islam
(Ilmu Tauhid) ini.
Kitab
Aqidah Islam yang diterjemahkan oleh Moh. Abdai Rathomy dari tulisan Sayit
Sabiq ini diterbitkan oleh Penerbit CV. Diponegoro Bandung pada tahun 1982
(Cetakan ke III), dan telah saya miliki sejak akhir tahun 1984 ketika saya
masih di Semester I Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.
Penulisan
ulang kitab ini bukan untuk kepentingan komersial, tetapi untuk mendekatkan
pada pembaca, terutama pada anak-anakku (Muhammad Saiful ‘Alim, Mughni Abdul
Aziz, Iza Lu’luatul Mahmudah , dan Nuril Abshor Al-Amin) yang memang saat ini
lebih jarang membaca buku dan cenderung lebih banyak membaca melalui media
elektronik. Dan terlebih khusus saya persembahkan untuk Iza Lu’luatul Mahmudah
(anak ke-3) yang tahun 2019 ini diterima di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.
Dengan demikian bilamana suatu saat diperlukan, akan bisa dijadikan referensi
saat kegiatan berlajar.
Penulisan
ulang ini sengaja akan saya muat dalam blog pribadi saya, dan manakala ada
pihak yang ingin menjadikan referensi, termasuk anak saya, agar tetap
menelusuri pada buku terjemahan asli atau bahkan kitab yang asli.
Selanjutnya
perlu diketahui bahwa penulisan ulang ini : (1) halaman tidak sesuai dengan
halaman asli pada buku terjemahan, karena format kertas yang berbeda, (2)
terdapat beberapa penyesuaian terutama penulisan yang masih kurangh sesuai tata
bahasa, karena saya sesuaikan dengan tata bahasa yang baku, (3) jika terdapat
kesalahan huruf bukan kesalahan pada buku asli, tapi karena kesalahan saya yang
terkadang salah tekan saat mengetik, (4) saya akan menampilkan penulisan ini
per bab atau per bagian sebagaimana buku terjemahannya agar mudah bagi saya
sendiri, anak-anak saya, dan mungkin orang lain untuk mengaksesnya, (5) untuk
penulisan hadits hanya saya foto scan, karena belum mempunyai referensi hadits
yang bisa dicopy kecuali beberapa hadits yang memang bisa saya temukan via
internet.
Mohon
maaf saya sampaikan kepada penerbit dan penterjemah kitab ini, saya tidak
bermaksud melanggar hak cipta, tetapi hanya sekedar turut mendakwahkan.
Terimakasih
Wassalam
Bambang
Nurmu’is
2
MA’RIFAT
KEPADA ALLAH
Ma’rifat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah
seluhur-luhur ma’rifat dan bahkan yang semulia-mulianya, sebab ma’rifat kepada
Allah Ta’ala itulah yang merupakan azaz atau fondamen yang di atasnya
didirikanlah segala kehidupan kerohanian.
Dari ma’rifat
kepada Allah itulah bercbangnya ma’rifat kepada para nabi dan rasul serta
hal-hal yang berhubungan dengan beliau-beliau itu, mengenai terlindungnya dari
dosa dan kemaksiatan, tugas-tugasnya, sifat-sifatnya, hajat ummat manusia
terhadap diutusnya beliau-beliau itu, juga yang dimasukkan sebagai persoalan
yang erat hubungannya dengan para nabi dan rasul itu seperti masalah mu’jizat,
kewalian, kekeramatan, dan kitab-kitab suci yang diturunkan dari langit.
Bahkan dari
ma’rifat kepada Allah Ta’ala itu juga cabangnya ma’rifat dengan alam yang ada
di balik alam semesta ini seperti malaikat, jin dan ruh.
Juga dari
ma’rifat kepada Allah itu pulalah timbulnya ma’rifat perihal apa yang akan
terjadi setelah kehidupan di dunia ini berakhir, juga mengenai kehidupan di
alam barzakh, kehidupan di alam akhirat yang berupa ba’ats (kebangkitan dari
kembali dari kubur), hisab (perhitungan amal), pahala, siksa, surga, dan
neraka.
CARA
BERMA’RIFAT
Untuk
berma’rifat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala itu mempunya dua cara, yaitu:
Pertama :
Dengan menggunakan akal fikiran dan memeriksa secara teliti apa-apa yang
diciptakan oleh Alloh Ta’ala yang berupa benda-benda yang beraneka ragam ini.
Kedua : Dengan
mema’rifati nama-nama Allah Ta’ala serta sifat-sifat-Nya.
Maka dengan
menggunakan akal fikiran dari satu sudut dan dengan mema’rifati nama serta
sifat-sifat Allah dari sudut lain akan dapatlah seseorang itu berma’rifat
kepada Tuhan-nya dan ia akan memperoleh petunjuk ke arah itu.
Baiklah kami
uraikan sekedar penerangan untuk mengetahui setiap macam dari dua cara ini :
BERMA’RIFAT
DENGAN FIKIRAN
Sesungguhnya
setiap anggota itu ada tugasnya, sedang tugas akal ialah mengangan-angankan,
memeriksa, memikirkan, dan mengamat-amati. Jikalau kekuatan-kekuatan semacam
ini menganggur maka hilang pulalah pekerjaan akal, juga menganggurlah tugasnya
yang terpenting baginya dan ini pasti akan diikuti oleh terhentinya kegiatan
hidup. Jikalau ini sudah terjadi akan menyebabkan pula adanya kebekuan,
kematian dan kerusakan akal itu sendiri.
Agama Islam
menghendaki agar akal itu bergerak dan melepaskan kekangannya, segera bangun
dari tidur nyenyaknya, kemudian mengajak untuk mengadakan perenungan dan
pemikiran. Pekerjaan yang sedemikian ini termasuk inti peribadatan kepada Tuhan.
Allah Ta’ala
berfirman :
قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ
Katakanlah: "Periksa olehmusemua apa yang ada di langit dan di bumi.”
S.Yunus : 101
Allah Ta’ala berfirman pula :
قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا
Katakanlah: "Aku hendak mengajarkan kepadamu
semua suatu perkara saja, yaitu hendaklah kamu semua berdiri dihadapan Allah dua-dua orang atau sendiri-sendiri, kemudian kamu berfikirkan kamu semua (gunakanlah akal fikiranmu)”
S. Saba’ : 46
Barangsiapa
yang menginngkari kenikmatan akal dan tidak suka menggunakannya untuk sesuatu
yang mestinya dikerjakan oleh akal itu, bahkan melalaikan ayat-ayat dan
bukti-bukti tentang ada dan kuiasanya Allah Ta’ala, maka orang semacam itulah
yang patut sekali mendapat cemoohan dan hinaan. Malahan Allah Ta’ala sendiri
telah mencela sekali orang semacam itu dengan firman-Nya :
وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ
“Alangkah banyaknya ayat (tanda kekuasaan Tuhan)
di langit dan di bumi yang mereka lalui, tetapi mereka semua membelakanginya
saja (tidak memperhatikannya)”
S. Yusuf : 105
Allah Ta’ala berfirman pula :
وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ
“Tidakkah datang datang kepada mereka itu suatu
ayat dari ayat-ayat Allah, melainkan mereka itu membelakanginya saja (tidak
memperhatikannya)”
S. Yasin : 46
Menganggurkan
akal dari tugas yang semestinya itu akan menurunkan manusia itu sendiri ke
suatu taraf yang lebih rendah dan lebih hina dari taraf binatang. Keadaan
seperti itulah yang merupakan penghalang besar bagi ummat yang dahulu untuk
langsung menembus kepada hakikat-hakikat yang ada di dalam diri, jiwa dan alam
semesta.
Allah Ta’ala
berfirman :
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka
Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, yang mempunyai hati tetapi tidak
memahamkan dengan hatinya, mempunyai mata tetapi tidak melihat dengan matanya,
dan mempunyai telinga tetapi tidak mendengarkan dengan telinganya. Orang-orang
itu seperti ternak, bahkan mereka lebih sesat. Itulah orang-orang yang lalai
(dari kebenaran).”
S. Al-A’raf : 179
TAKLID
ADALAH PENUTUP AKAL FIKIRAN
Taklid itu
adalah sutu penghalang besar untuk kemerdekaan akal. Itulah pengekang utama
terhadap kebebasan berfikir dan oleh sebab itu maka Allah Ta’ala memuji sekali
kepada orang-orang yang dapat menjernihkan sesuatu tentang hakikatnya,
disisihkannya dari benda-benda lain, dibedakan dan dimurnikan benda-benda itu
setelah dibahas, diperiksa, diteliti dan disaring oleh akal fikirannya.
Selanjutnya lalu diambillah mana-mana yang dianggapnya terbaik dan
ditinggalkanlah yang lainnya.
Allah Ta’ala
berfirman :
فَبَشِّرْ عِبَادِي # الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الألْبَابِ
“Maka berikanlah kabar gembira kepada
hamba-hamba-Ku yang mendengarkan ucapan lalu mengikuti mana-mana yang terbaik dari
ucapan itu. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh petunjuk Allah dan mereka
itu pulalah orang-orang yang mempunyai akal fikiran.”
S. Az-Zumar : 17-18
Allah Ta’ala benar-benar mencela dan mengejek serta menyalahkan kepada
orang-orang yang suka mengekor, mengembik yakni ahli taklid yang tidak suka
menggunakan akal fikirannya sendiri. Yang mereka ikuti hanyalah akal
orang-orang lain. Mereka betul-betul beku, sebab hanya mengikuti alam fikiran
kuno yang sudah terbiasa dan berlangsung sejak dulu di sekitarnya, sekalipun
yang baru itu sebenarnya lebih tepat, lebih cocok, lebih sesuai dan lebih dapat
dipertanggungjawabkan karena sejalan dengan petunjuk dari Tuhan.
Allah Ta’ala berfirman :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka:
"Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka lalu berkata:
"Tidak, kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari ayah-ayah kami".
Padahal ayah-ayah mereka itu tidak mengerti sedikitpun, dan tidak pula
mengikuti petunjuk yang benar"
S. Al-Baqarah : 170
BIDANG-BIDANG
PEMIKIRAN
Agama Islam mengajak seluruh ummat
manusia supaya berfikir dan menggunakan akalnya dan bahkan demikian hebatnya
anjurannya ke arah itu tetapi yang dikehendaki itu bukanlah pemikiran secara
tidak terkendalikan lagi kebebasannya. Semua itu dimaksudkan oleh Islam agar
dilakukan dalam batas yang tertentu yang memang merupakan lapangan bagi manusia
dan yang dapat dicapai oleh akal manusia itu.
Maka yang dianjurkan oleh Islam untuk
difikirkan itu ialah dalam hal ciptaan Allah Ta’ala yakni apa-apa yang ada di
langit, di bumi, dalam dirinya sendiri, dalam masyarakat manusia dan lain-lain.
Tidak sebuah pemikiranpun yang dilarang-Nya melainkan memikirkan Dzat Allah
Subhanahu wa Ta’ala, sebab soal yang satu ini adalah pasti di luar kekuatan
akal fikiran manusia.
Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda
:
“Berfikirlah
kamu semua perihal makhluk Allah (apa-apa
yang diciptakan oleh Allah) dan janganlah kamu sekalian berfikir
mengenai Dzat Allah, sebab sesungguhnya kamu semua sudah tentu tidak dapat
mencapai keadaan hakikatnya”
Diriwayatkan oleh Abu Na’im Kitab Al-Hilyah
Dengan sanad dla’if tetapi isi dan maknanya shahih
Al-Qur’an
Al-Karim sendiri pebuh dengan beratus-ratus ayat (bukti dan tanda) yang
mengajak kita semua untuk mengenangkan keadaan alam semesta yang terbuka lebar
dan luas di hadapan kita ini, beserta cakrawalanya yang tiada terbatas oleh
suatu apapun karena sangat besarnya dan tidak ada ujung pangkalnya ini.
Allah Ta’ala
berfirman :
كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
“Demikianlah
Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu semua, agar supaya kamu suka berfikir
tentang dunia dan akhirat”
S. Al-Baqarah
: 119-120
Alangkah luas
dan lebarnya dinia yang diperintah oleh Islam untuk difikirkan itu, tetapi
sedemikian luasnya masih memadahi sedikitpun dari keluasan yang terdapat di
alam akhirat.
TUJUAN
PEMIKIRAN
Diantara
tujuan-tujuan utama yang dikehendaki oleh Islam dalam hal diperintahnya untuk
mengadakan pemikiran-pemikiran itu ialah untuk membangunkan akal dan
menggunakan tugasnya dalam berfikir, mengenangkankan dan menyelidiki yang
dengan demikian ini akan sampailah manusia itu kepada petunjuk yang memberikan
penerangan yang sejelas-jelasnya mengenai peraturan-peraturan kehidupan,
sebab-sebabnya perwujudan, tabiat-tabiat keadaan dan hakikat-hakikat segala
sesuatu benda.
Manakala
hal-hal itu sedah terlaksana baik-baik, tentu akan dapat merupakan cahaya yang
terang untuk menyingkap persoalan siapa yang sebenarnya menjasi Maha Pencipta
dan Pembentuk semuanya itu. Selanjutnya
setelah ini diperoleh, maka dengan perlahan-lahan akan tercapailah hakikat yang
terbesar yaitu berma’rifat kepada Allah Ta’ala.
Jadi
kema’rifatan kepada Allah Ta’ala itulah yang sesungguhnya merupakan buah atau
natijah dari pada akal fikiran yang cerdik dan bergerak terus, juga sebagai
hasil dari usaha fikiran yang mendalam serta disinari oleh cahaya yang terang
benderang.
Inilah salah
satu perantaraan yang digunakan oleh Al-Qur’an untuk memberikan pembuktian
tentang Allah Ta’ala.
Al-Qur’an
telah mendorong akal fikiran manusia dengan mengemukakan ayat-ayat tentang ilmu
alam yang menjelaskan segala isi dalam dunia semesta ini, dengan menggunakan
hasil dari pemikiran itu nanti akan terciptalah kema’rifatan kepada Allah
Ta’ala. Kema’rifatan itu terdiri dari hal-hal seperti mengenal kesempurnaan
sifat-sifat-Nya, keagungan-keagungan hal ikhwal-Nya, kenyataan-kenyataan dari
kebesaran dan keluhuran-Nya, bukti-bukti kesucian-Nya, kelengkapan ilmu-Nya,
kelangsungan kekuasaan-Nya dan keesaan-Nya dalam hal menciptakan dan membuat
yang baru.
Marilah kita
semua renungkan baik-baik dalam kalbu dan pikiran kita makna ayat-ayat yang
tercantum di bawah ini :
|
قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ
|
|
أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ
|
|
أَمَّنْ جَعَلَ الأرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ
|
|
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ
|
|
أَمَّنْ يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
|
|
أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
|
|
Katakanlah: "Segenap puji adalah bagi Allah dan keselamatan untuk hamba-hamba-Nya
yang dipilih oleh-Nya. Adakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka
persekutukan dengan-Nya itu yang lebih baik?"
|
|
Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan
bumi dan yang menurunkan air hujan dari langit kepadamu semua, lalu Kami (Allah)
mumbuhkan dengan sebab air tadi kebun-kebun yang indah permai. Kamu semua
tentu tidak sanggup menumbuhkan pohonnya. Adakah Tuhan di samping Allah ? Tetapi
mereka adalah kaum yang berpaling dari kebenaran.
|
|
Atau siapakah yang menjadikan bumi untuk tempat
berdiam, menjadikan sungai-sungai di tengah-tengahnya, menjadikan
gunung-gunung sebagai (pasak, dan menjadikan batas antara dua lautan ? Adakah
Tuhan di samping Allah ? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui yang
sedemikian itu..
|
|
Atau siapakah yang memperkenankan permohonan
orang yang dipaksa keadaan menderita apabila memohon kepada-Nya agar
menghilangkan penderitaannya itu, dan yang menjadikan kamu semua sebagai
khalifah di bumi? Adakah Tuhan di samping Allah ? Sedikit sekali kamu semua
mengingat kepada Allah itu.
|
|
Atau siapakah yang menunjukkan jalan kepadamu
semua dalam kegelapan di daratan dan
lautan ? Dan siapakah yang mengirim angin untuk membawa berita gembira
sebelum kedatangannya ke rahmatan Allah? Adakah Tuhan di samping Allah ? Maha
Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan dengan Allah itu.
|
|
Atau siapakah yang memulai menciptakan makhluk,
kemudian akan mengulanginya kembali ? Dan siapakah yang memberikan rezeki
kepadamu semuandari langit dan bumi? Adakah Tuhan di samping Allah ?.
Katakanlah keterangan (alasan) mu, jikalau kamu semua memang !
|
S. An-Naml :
59-64
Fikirkanlah
baik-baik, apakah ada suatu keterangan yang lebih jelas dari keterangan yang
tertera di atas itu, adakah suatu hujah yang lebih kuat dari pada hujah di atas
?
Jikalau akal
masih juga tidak suka tunduk kepada keterangan di atas itu, tidak suka takluk
pada hujah itu, maka sunguh-sungguh ia tidak akan tunduk pada keterangan apapun
yang selainnya dan tidak hendak pula takluk pada hujah manapun juga. Memang
suatu alamat akal yang sesat dan enggan pada petunjuk yang benar.
Allah Ta’ala
berfirman :
وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ
“Dan
barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka orang itupun tidak akan
memperoleh cahaya apapun.”
S. An-Nur : 40
Seorang penyair berkata:
“Hati nurani manusia itu
Pasti tidak akan mampu memperoleh
suatu apapun
Jikalau ia tetap menuntut bukti
Mengapa waktu siang itu terang
benderang”
BERMA’RIFAT
DENGAN JALAN MEMAHAMI NAMA-NAMA DAN
SIFAT-SIFAT
ALLAH
Jalan lain
untuk mencapai ma’rifat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala itu ialah memahami
nama-nama Allah Ta’ala yang baik-baik serta sifat-sifat-Nya yang luhur dan
tinggi.
Jadi nama-nama
dan sifat-sifat itulah yang merupakan perantara yang digunakan oleh Allah
Ta’ala agar makhluk-Nya itu dapat berma’rifat pada-Nya. Inilah yang dapat dianggap
sebagai saluran yang dari situ hati manusia dapat mengenal Allah Ta’ala secara
spontan. Malahan itu pulalah yang dapat menggerakkan cara penemuan yang hakiki
dan membuka alam yang amat luas terhadap kerohanian guna menyaksikan cahaya
Allah ‘Azza wa Jalla.
Nama-nama itu
adalah yang disebutkan Allah dalam firman-Nya :
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah
Ar-Rahman. Mana saja nama Tuhan yang kamu semua seru, Dia mempunyai al
asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik).
S. Al-Isra’ : 110
وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
“Bagi Allah adalah asmaul husna (nama-nama yang
baik), maka serulah dengan menggunakan nama-nama itu”
S. Al-A’raf : 180
Adapun jumlah nama-nama Allah yang baik (asmaul husna) itu ada sembilanpuluh
sembilan.
Imam-imam Bukhari, Muslim, dan Turmudzi meriwayatkan hadits dari Abu
Hurairah ra, bahwasannya Rasulullah saw bersabda :
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا ، مِائَةً إِلا وَاحِدَةً ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَإِنَّ لِلَّهِ وَتْرٌ يُحِبُّ الْوَتْرَ
“Allah itu mempunyai sembilanpuluh sembilan nama. Barangsiapa
menghafalnya[1],
ia masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Maha Ganjil (tidak genap) dan cinta
sekali pada hal yang ganjil (tidak genap)”
R. Ibnu Majah
Imam Turmudxi memberikan
tambahan dalam riwayatnya sebagai berikut:
هُوَ اللَّهُ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ الْغَفَّارُ الْقَهَّارُ الْوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الْخَافِضُ الرَّافِعُ الْمُعِزُّ الْمُذِلُّ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ الْحَكَمُ الْعَدْلُ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ الْحَلِيمُ الْعَظِيمُ الْغَفُورُ الشَّكُورُ الْعَلِىُّ الْكَبِيرُ الْحَفِيظُ الْمُقِيتُ الْحَسِيبُ الْجَلِيلُ الْكَرِيمُ الرَّقِيبُ الْمُجِيبُ الْوَاسِعُ الْحَكِيمُ الْوَدُودُ الْمَجِيدُ الْبَاعِثُ الشَّهِيدُ الْحَقُّ الْوَكِيلُ الْقَوِىُّ الْمَتِينُ الْوَلِىُّ الْحَمِيدُ الْمُحْصِى الْمُبْدِئُ الْمُعِيدُ الْمُحْيِى الْمُمِيتُ الْحَىُّ الْقَيُّومُ الْوَاجِدُ الْمَاجِدُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ الْقَادِرُ الْمُقْتَدِرُ الْمُقَدِّمُ الْمُؤَخِّرُ الأَوَّلُ الآخِرُ الظَّاهِرُ الْبَاطِنُ الْوَالِى الْمُتَعَالِى الْبَرُّ التَّوَّابُ الْمُنْتَقِمُ الْعَفُوُّ الرَّءُوفُ مَالِكُ الْمُلْكِ ذُو الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ الْمُقْسِطُ الْجَامِعُ الْغَنِىُّ الْمُغْنِى الْمَانِعُ الضَّارُّ النَّافِعُ النُّورُ الْهَادِى الْبَدِيعُ الْبَاقِى الْوَارِثُ الرَّشِيدُ الصَّبُورُ
Sembilanpuluh
sembilan nama Allah Ta’ala yaitu:
|
1
|
Allah
|
اَللّهُ
|
Lafadz yang Maha
Mulia yang merupakan nama dari Dzat Illahi yang Maha Suci serta wajib adanya
yang berhak memiliki semua macam pujian dan sanjungan. Adapun nama-nama lain,
maka setiap nama itu menunjukkans suatu sifat Tuhan yang tertentu dan oleh
sebab itu bolehlah dianggap sebagai
sifat bagi lafadz yang Maha Mulia ini (yakni Allah) atau boleh dijadikan
sebagai kata beritanya
|
|
2
|
Ar Rahman
|
الرَّحْمَنُ
|
Maha Pengasih,
pemberi kenikmatan yang agung-agung, pengasih di dunia
|
|
3
|
Ar Rahiim
|
الرَّحِيمُ
|
Maha Penyayang,
pemberi kenikmatan yang pelik-pelik, penyayang di akhirat
|
|
4
|
Al Malik
|
الْمَلِكُ
|
Maha Merajai,
mengatur kerajaan-Nya sesuai kehendak-Nya sendiri
|
|
5
|
Al Quddus
|
الْقُدُّوسُ
|
Maha Suci,
tersuci dari segala cela dan kekurangan
|
|
6
|
As Salaam
|
السَّلاَمُ
|
Maha Menyelamatkan,
pemberi keamanan dan kesentausaan pada seluruh makhluk-Nya
|
|
7
|
Al Mu’min
|
الْمُؤْمِنُ
|
Maha Pemelihara
Keamanan, yakni siapa yang bersalah dari makhluk-Nya itu benar-benar akan
diberi siksa, sedang kepada yang taat akan benar-benar dipenuhi janji-Nya
dengan pahala yang baik
|
|
8
|
Al Muhaimin
|
الْمُهَيْمِنُ
|
Maha Penjaga,
memerintah dan melindungi segala sesuatu
|
|
9
|
Al ‘Aziiz
|
الْعَزِيزُ
|
Maha Mulia, kuasa
dan mampu untuk berbuat sekehendak-Nya
|
|
10
|
Al Jabbar
|
الْجَبَّارُ
|
Maha Perkasa,
mencukupi segala kebutuhan, melangdungkan segala perintah-Nya serta
memperbaiki keadaan seluruh hamba-Nya
|
|
11
|
Al Mutakabbir
|
الْمُتَكَبِّرُ
|
Maha Megah,
menyendiiri dengan sifat kegungan dan kemegahan-Nya
|
|
12
|
Al Khaliq
|
الْخَالِقُ
|
Maha Pencipta,
mengadakan seluruh makhluk tanpa asal, juga yang menakdirkan adanya semua itu
|
|
13
|
Al Baari’
|
الْبَارِئُ
|
Maha Pembuat,
mengadakan semua yang bernyawa yang ada asal mulanya
|
|
14
|
Al Mushawwir
|
الْمُصَوِّرُ
|
Maha Pembentuk,
memberikan gambaran atau bentuk pada sesuatu yang berbeda dengan lainnya. (Jadi
Al-Khalik mengadakan sesuatu yang belum ada asal mulanya atau yang
menakdirkan adanya itu, Al-Bari' ialah mengeluarkannya dari yang sudah ada
asal muasalnya, sedang Al-Mushawwir ialah memberinya bentuk yang sesuai
dengan keadaan dan keperluannya
|
|
15
|
Al Ghaffaar
|
الْغَفَّارُ
|
Maha Pengampun,
banyak pemberian maaf-Nya dan menutupi dosa-dosa dan kesalahan
|
|
16
|
Al Qahhaar
|
الْقَهَّارُ
|
Maha Pemaksa,
menggenggam segala sesuatu dalam kekuasaan-Nya serta memaksa segala mahkluk
menuurut kehendak-Nya
|
|
17
|
Al Wahhaab
|
الْوَهَّابُ
|
Maha Pemberi,
banyak kenikmatan dan selalu memberi karunia
|
|
18
|
Ar Razzaaq
|
الرَّزَّاقُ
|
Maha Pemberi
Riski, membuat berbagai rizki serta membuat pula sebab-sebab diperolehnya
|
|
19
|
Al Fattaah
|
الْفَتَّاحُ
|
Maha Membukakan,
yakni membuka gedung penyimpanan rahmat-Nya untuk seluruh hamba-Nya
|
|
20
|
Al ‘Aliim
|
اَلْعَلِيْمُ
|
Maha Mengetahui,
yakni mengetahui segala yang maujud ini dan tidak satu bendapun tertutup oleh
penglihatan-Nya
|
|
21
|
Al Qaabidh
|
الْقَابِضُ
|
Maha Pencabut,
mengambil nyawa atau mempersempit rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya
|
|
22
|
Al Baasith
|
الْبَاسِطُ
|
Maha meluaskan,
memudahkan terkumpulnya rizki bagi siapa yang dikehendaki oleh-Nya
|
|
23
|
Al Khaafidh
|
الْخَافِضُ
|
Maha Menjatuhkan,
yakni terhadap orang yang selayaknya dijatuhkan karena akibat kelakuannya sendiri
dengan memberinya kehinaan, kerendahan, dan siksaan
|
|
24
|
Ar Raafi’
|
الرَّافِعُ
|
Maha Mengangkat,
yakni terhadap orang yang selayaknya diangkat kedudukannya karena usahanya
yang giat yaitu yang termasuk golongan kaum yang bertakwa
|
|
25
|
Al Mu’izz
|
الْمُعِزُّ
|
Maha Pemberi
Kemuliaan, yakni kepada orang yang berpegang teguh pada agama-Nya dngan
memberinya pertolongan dan kemenangan
|
|
26
|
Al Mudzil
|
المُذِلُّ
|
Maha Pemberi
Kehinaan, yakni kepada musuh-musuh-Nya dan musuh ummat Islam keseluruhan
|
|
27
|
Al Samii’
|
السَّمِيعُ
|
Maha Mendengar
|
|
28
|
Al Bashiir
|
الْبَصِيرُ
|
Maha Melihat
|
|
29
|
Al Hakam
|
الْحَكَمُ
|
Maha Menetapkan
Hukum, sebagai hakim yang memutuskan yang tidak seorangpun dapat menolak
keputusan-Nya, juga tidak seorangpun yang kuasa merintangi kelangsungan
hukum-Nya itu
|
|
30
|
Al ‘Adl
|
الْعَدْلُ
|
Maha Adil, serta
sangat sempurna keadilan-Nya itu
|
|
31
|
Al Lathiif
|
اللَّطِيفُ
|
Maha Halus, yakni
mengetahui segala sesuatu yang samar-samar, pelik-pelik, dan kecil-kecil
|
|
32
|
Al Khabiir
|
الْخَبِيرُ
|
Maha Waspada
|
|
33
|
Al Haliim
|
الْحَلِيمُ
|
Maha Penghiba,
poenyantun yang tidak tergesa-gesa melakukan kemarahan dan tidak pula gegabah
memberikan siksaan
|
|
34
|
Al ‘Azhiim
|
الْعَظِيمُ
|
Maha Agung, yakni
mencapai puncak tertinggi dari mercusuar keagungan karena bersifat dengan
segala macam sifat kebesaran dan kesempurnaan
|
|
35
|
Al Ghafuur
|
الْغَفُورُ
|
Maha Pengampun,
banyak pengampunan-Nya kepada hamba-hamba-Nya
|
|
36
|
As Syakuur
|
الشَّكُورُ
|
Maha Pembalas,
yakni memberikan balasan yang banyak sekali atas amalan yang kecil dan tidak
berarti
|
|
37
|
Al ‘Aliy
|
الْعَلِيُّ
|
Maha Tinggi,
yakni mencapai tingkat setinggi-tingginya yang tidak mungkin digambarkan oleh
akal fikiran siapapun dan tidak dapat difahami oleh otak yang begaimanapun
pandainya
|
|
38
|
Al Kabiir
|
الْكَبِيرُ
|
Maha Besar. Yang
kebesaran-Nya tidak dapat diikuti oleh panca indera ataupun akal manusia
|
|
39
|
Al Hafizh
|
الْحَفِيظُ
|
Maha Pemelihara,
yakni menjaga segala sesuatu jangan sampai rusak dan goncang. Juga menjaga
segala amal perbuiatan hamba-Nya sehingga tidak akan disia-siakan sedikitpun
untuk memberikan balasan-Nya
|
|
40
|
Al Muqiit
|
المُقيِت
|
Maha Pemberi
Kecukupan, baik yang berupa makanan tubuh maupun makanan rohani
|
|
41
|
Al Hasiib
|
الْحسِيبُ
|
Maha Penjamin,
yakni memberikan jaminan kecukupan kepada seluruh hamba-Nya. Juga dapat
diartikan Maha Penghisab amalan hamba-hamba-Nya pada hari kiamat
|
|
42
|
Al Jaliil
|
الْجَلِيلُ
|
Maha Luhur, yang
memiliki sifat-sifat keluhuran karena kesempurnaan sifat-sifat-Nya
|
|
43
|
Al Kariim
|
الْكَرِيمُ
|
Maha Pemurah,
mulia hati dan memberi siapapun tanpa diminta atau penggantian dari sesuatu
pemberian
|
|
44
|
Ar Raqiib
|
الرَّقِيبُ
|
Maha Peneliti,
yang mengamat-amati gerak-gerik segala
sesuatu dan mengawasinya
|
|
45
|
Al Mujiib
|
الْمُجِيبُ
|
Maha Mengabulkan,
yang memenuhi permohonan siapa saja yang berdoa pada-Nya
|
|
46
|
Al Waasi’
|
الْوَاسِعُ
|
Maha Luas, yakni
bahwa kerahmatan-Nya itu merata kepada segala yang maujud dan luas pula
ilmu-Nya terhadap segala sesuatu
|
|
47
|
Al Hakiim
|
الْحَكِيمُ
|
Maha Bijaksana,
yakni memiliki kebijaksanaan yang tertinggi kesempurnaan ilmu-Nya serta
kerapihannya dalam membuat segalka
sesuatu
|
|
48
|
Al Waduud
|
الْوَدُودُ
|
Maha Pecinta,
yang menginginkan segala kebaikan untuk seluruh hamba-Nya dan pula berbuat
baik pada mereka itu dalam segala hal ikhwal dan keadaan
|
|
49
|
Al Majiid
|
الْمَجِيدُ
|
Maha Mulia, yakni
yang mencapai tingkat teratas dalam hal kemuliaan dan keutamaan
|
|
50
|
Al Baa’its
|
الْبَاعِثُ
|
Maha
Membangkitkan, yakni membangkitkan para Rasul, membangkitkan semangat dan
kemauan, juga membangkitkan orang-orang yang telah mati dari masing-masing
kuburnya nanti setelah tibanya hari kiamat
|
|
51
|
As Syahiid
|
الشَّهِيدُ
|
Maha Menyaksikan
atau maha Mengetahui keadaan semua makhluk
|
|
52
|
Al Haqq
|
الْحَقُّ
|
Maha Haq, Maha
Benar yang kekal dan tidak akan berubah sedikitpun
|
|
53
|
Al Wakiil
|
الْوَكِيلُ
|
Maha Memelihara
penyerahan, yakni memelihara semua urusan hamba-hamba-Nya dan apa-apa yang
menjadi kebutuhan mereka itu
|
|
54
|
Al Qawiyyu
|
الْقَوِيُّ
|
Maha Kuat, yang
memiliki kekuasaan yang sesempurna-sempurnanya
|
|
55
|
Al Matiin
|
الْمَتِينُ
|
Maha Kokoh atau
Perkasa, yakni memiliki keperkasaan yang sudah samapai di puncaknya
|
|
56
|
Al Waliyy
|
الْوَلِيُّ
|
Maha Melindungi,
yakni melindungi serta menertibkan semua kepentingan makhluk-Nya kerena
kecintaan-Nya yang sangat pada mereka itu dan pemberian pertolongan-Nya yang
tidak terbatas pada keperluan mereka
|
|
57
|
Al Hamiid
|
الْحَمِيدُ
|
Maha Terpuji, yang
memang sudah selakyaknya untuk memperoleh pujian dan sanjungan
|
|
58
|
Al Mushii
|
الْمُحْصِي
|
Maha Penghitung,
yang tidak satupun tertutup dari panddngan-Nya dan semua amalan itupun
diperhitungkan sebagaimana wajarnya
|
|
59
|
Al Mubdi’
|
الْمُبْدِئُ
|
Maha Memulai,
yang melahirkan sesuatu yang asalnya tidak ada dan belum maujud
|
|
60
|
Al Mu’iid
|
الْمُعِيدُ
|
Maha Mengulangi,
yakni menumbuhkan kembali setelah lenyapnya atau setelah rusak-Nya
|
|
61
|
Al Muhyii
|
الْمُحْيِي
|
Maha
Menghidupkan, yakni memberikan daya kehidupan pada setiap sesuatu yang berhak
hidup
|
|
62
|
Al Mumiitu
|
اَلْمُمِيتُ
|
Yang Mematikan,
yakni mengambil kehidupan (ruh) dari apa-apa yang hidup, lalu disebut mati
|
|
63
|
Al Hayyu
|
الْحَيُّ
|
Maha Hidup, kekal
pula hidup-Nya itu
|
|
64
|
Al Qayyuum
|
الْقَيُّومُ
|
Maha
Berdirisendiri, baik dzat-Nya, sifat-Nya, af'al-Nya, juga membuat berdirinya
apa-apa yang selain Dia; dengan-Nya pula berdirinya langit dan bumi ini
|
|
65
|
Al Waajid
|
الْوَاجِدُ
|
Maha Kaya, dapat
menemukan apa saja yang diinginkan oleh-Nya, maka tidak membutuhkan pada
suatu apapun karena sifat kaya-Nya yang secara mutlak
|
|
66
|
Al Maajid
|
الْمَاجِدُ
|
Maha Mulia, sama
dengan No 49
|
|
67
|
Al Wahiid
|
الْواحِدُ
|
Maha Esa
|
|
68
|
Al ‘Ahad
|
اَلاَحَدُ
|
Maha Tunggal
|
|
69
|
As Shamad
|
الصَّمَدُ
|
Maha Dibutuhkan,
yakni selalu menjadi tujuan dan harapan orang di waktu ada hajat keperluannya
|
|
70
|
Al Qaadir
|
الْقَادِرُ
|
Maha Kuasa
|
|
71
|
Al Muqtadir
|
الْمُقْتَدِرُ
|
Maha Menentukan
|
|
72
|
Al Muqaddim
|
الْمُقَدِّمُ
|
Maha
Mendahulukan, yakni mendahulukan sebagian benda dari yang lainnya dalam perwujudannya, atau dalam kemuliaan,
selisih waktu atau tempatnya
|
|
73
|
Al Mu’akkhir
|
الْمُؤَخِّرُ
|
Maha Mengakhirkan
dan Membelakangkan
|
|
74
|
Al Awwal
|
الأوَّلُ
|
Maha Pertama,
dahulu sekali dari segala yang maujud
|
|
75
|
Al Aakhir
|
الآخِرُ
|
Maha Penghabisan,
kekal terus setelah habisnya segala sesuatu yang maujud
|
|
76
|
Az Zhaahir
|
الظَّاهِرُ
|
Maha Nyata, yakni
menyatakan dan menampakkan kewujudan-Nya itu dengan bukti-bukti dan
tanda-tanda ciptaan-Nya
|
|
77
|
Al Baathin
|
الْبَاطِنُ
|
Maha Tersembunyi,
tidak dapat dimaklumi dzat-Nya, sehingga tidak seorangpun dapat mengenal
dzat-Nya itu
|
|
78
|
Al Waali
|
الْوَالِي
|
Maha Menguasai,
menggenggam segala sesuatu dalam kekuasaan-Nya dan menjadi milik-Nya
|
|
79
|
Al Muta’aalii
|
الْمُتَعَالِي
|
Maha Suci,
terpelihara dari segala kekurangan dan kerendahan
|
|
80
|
At Tawwaab
|
التَّوَابُ
|
Maha Penerima
Taubat, memberikan pertolongan kepada orang-orang yang bermaksiat untuk
melakukan taubat lalu Allah akan menerimanya
|
|
81
|
Al Muntaqim
|
الْمُنْتَقِمُ
|
Maha Penyiksa,
kepada orang yang berhak memperoleh siksa-Nya
|
|
82
|
Al Afuww
|
العَفُوُّ
|
Maha Pemaaf, pelebur
kesalahan orang yang suka kembali untuk meminta maaf pada-Nya
|
|
83
|
Ar Ra`uuf
|
الرَّؤُوفُ
|
Maha Pengasih,
banyak kerahmatan dan kasihsayang-Nya
|
|
84
|
Malikul Mulk
|
مَالِكُ الْمُلْكِ
|
Maha Menguasai
Kerajaan, maka segala perkara yang berlaku di alam semesta, langit, bumi, dan
sekitarnya serta yang dibaliknya alam semesta itu semuanya sesuai dengan
kehendak dan iradat-Nya
|
|
85
|
Dzul Jalaali wal
Ikram
|
ذُوالْجَلاَلِ
وَالإكْرَامِ
|
Maha Memiliki
Kebesaran dan Kemuliaan, juga dzat yang mempunyai keutamaan dan kesempurnaan,
pemberi karunia dan kenikmatan yang amat banyak dan melimpah ruah
|
|
86
|
Al Muqsith
|
الْمُقْسِطُ
|
Maha Mengadili,
yakni memberikan kemenangan pada
orang-orang yang teraniaya dari tindakan orang-orang yang menganiaya
dengan keadilan-Nya
|
|
87
|
Al Jamii’
|
الْجَامِعُ
|
Maha
Mengumpulkan, yakni mengumpulkan berbagai hakikat yang telah berceraiberai
dan juga mengumpulkan seluruh ummat manusia pada hari pembalasan
|
|
88
|
Al Ghaniyy
|
الْغَنِيُّ
|
Maha Kaya, maka
tidak mebutuhkan apapun dari yang selain dzat--Nya sendiri, tetapi yang
selain-Nya itu amat mebutuhkan pada-Nya
|
|
89
|
Al Mughnii
|
الْمُغْنِي
|
Maha Pemberi
Kekayaan, yakni memberikan kelebihan yang berupa kekayaan yang
bverlimpah-limpah kepada siapa saja yang dikehendaki dari golongan
hamba-hamba-Nya
|
|
90
|
Al Maani'
|
اَلْمَانِعُ
|
Maha Membela atau
Maha Menolak, yaitu membela hamba-hamba-Nya yang shalih dan menolak
sebab-sebab yang menyebabkan kerusakan
|
|
91
|
Ad Dhaar
|
الضَّارَّ
|
Maha Pemberi bahaya, yakni
dengan menurunkan siksa-siksa-Nya kepada musuh-musuh-Nya
|
|
92
|
An Nafii’
|
النَّافِعُ
|
Maha Pemberi
Kemanfaatan, yakni meratalah kebaikan
yang dikaruniakan-Nya itu kepada semua hamba dan negeri
|
|
93
|
An Nuur
|
النُّورُ
|
Maha Bercahaya,
yakni menonjolkan dzat-Nya sendiri dan menampakan untuk yang selain-Nya
dengan menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya
|
|
94
|
Al Haadii
|
الْهَادِي
|
Maha Pemberi
Petunjuk, yaitu memberikann jalan yang benar segala sesuatu agar langsung
adanya dan terjaga kehidupannya
|
|
95
|
Al Baadii
|
الْبَدِيعُ
|
Maha Pencipta
yang baru, sehingga tidak ada contoh dan yang menyamai sebelum keluarnya
ciptaan-Nya itu
|
|
96
|
Al Baaqii
|
اَلْبَاقِي
|
Maha Kekal. Yakni
kekal hidup-Nya untuk selama-lamanya
|
|
97
|
Al Waarits
|
الْوَارِثُ
|
Maha Pewaris,
yang kekal setelah musnahnya seluruh makhluk
|
|
98
|
Ar Rasyiid
|
الرَّشِيدُ
|
Maha Cendekiawan,
yaitu memberi penerangan dan tuntunan pada seluruh hamba-Nya dan yang segala
peraturan-Nya itu berjalan menurut keten tuan yang digariskan oleh
kebijaksanaan dan kecendekiawanan-Nya
|
|
99
|
As Shabuur
|
الصَّبُورُ
|
Maha Penyabar
yang tidak tergesa-gesa memberikan siksaan dan tidak pula cepat-cepat
melaksanakan sesuatu sebelum waktunya
|
Catatan: Dalam buku terjemahan Aqidah Islam yang disalin ini tidak
mencantumkan tulisan Arab, namun penyalin mamandang perlu untuk
mencantumkannya. Dengan demikian jika terjadi perubahan transliterasi tetap
bisa mengacu pada tulisan aslinya.
Jalla jalaluh
Dalam Kitab Addinul
Islami disebutkan sebagai berikut: Nama-mana Allah yang baik (Asma-ullah
Al-Husna) yang tercantum dalam Al-Qu’an Al-Karim yaitu :
1.
Nama-nama yang
berhubungan dengan Dzat-Nya, yakni:
|
a.
|
Al Wahiid
|
الْواحِدُ
|
:
|
Maha
Esa
|
|
b.
|
Al ‘Ahad
|
اَلاَحَدُ
|
:
|
Maha
Esa
|
|
c.
|
Al Haqq
|
الْحَقُّ
|
:
|
Maha
Benar
|
|
d.
|
Al Quddus
|
الْقُدُّوسُ
|
:
|
Maha
Suci
|
|
e.
|
As Shamad
|
الصَّمَدُ
|
:
|
Maha
Dibutuhkan
|
|
f
|
Al Ghaniyy
|
الْغَنِيُّ
|
:
|
Maha
Kaya
|
|
g.
|
Al Awwal
|
الأوَّلُ
|
:
|
Maha
Pertama
|
|
h.
|
Al Aakhir
|
الآخِرُ
|
:
|
Maha
Penghabisan
|
|
i.
|
Al Qayyuum
|
الْقَيُّومُ
|
:
|
Maha
Berdirisendiri
|
2.
Nama-nama yang
berhubungan dengan penciptaan, yakni:
|
a.
|
Al Khaliq
|
الْخَالِقُ
|
:
|
Maha Menciptakan
|
|
b.
|
Al Baari’
|
الْبَارِئُ
|
:
|
Maha Pembuat
|
|
c.
|
Al Mushawwir
|
الْمُصَوِّرُ
|
:
|
Maha Pembentuk
|
|
d.
|
Al Baadii’
|
الْبَدِيعُ
|
:
|
Maha Pencipta Yang Baru
|
3.
Nama-nama yang
berhubungan dengan sifat kecintaan dan kerahmatan, selain dari lafadz Rab
(Tuhan), Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang), yakni :
|
a.
|
Ar Ra`uuf
|
الرَّؤُوفُ
|
:
|
Maha Pengasih
|
|
b.
|
Al Waduud
|
الْوَدُودُ
|
:
|
Maha Pencinta
|
|
c.
|
Al Lathiif
|
اللَّطِيفُ
|
:
|
Maha halus
|
|
d.
|
Al Haliim
|
الْحَلِيمُ
|
:
|
Maha Penghiba
|
|
e.
|
Al Afuww
|
العَفُوُّ
|
:
|
Maha Pemaaf
|
|
f.
|
As Syakuur
|
الشَّكُورُ
|
:
|
Maha Pembalas, Pemberi Karunia
|
|
g.
|
Al Mu’min
|
الْمُؤْمِنُ
|
:
|
Maha Pemelihara Keamanan
|
|
h.
|
Al Bar
|
الْبَرُّ
|
:
|
Maha Dermawan
|
|
i.
|
Rafi'ud Darajat
|
:
|
Maha Tinggi Derajat-Nya
|
|
|
j.
|
Ar Razzaaq
|
الرَّزَّاقُ
|
:
|
Maha Pemberi Rizki
|
|
k.
|
Al Wahhaab
|
الْوَهَّابُ
|
:
|
Maha Pemberi Rizki
|
|
l.
|
Al Waasi’
|
الْوَاسِعُ
|
:
|
Maha Luas
|
4.
Nama-nama yang
berhubungan dengan keagungan serta kemuliaan Allah Ta’ala, yakni :
|
a.
|
Al ‘Azhiim
|
الْعَظِيمُ
|
:
|
Maha Agung
|
|
b.
|
Al ‘Aziiz
|
الْعَزِيزُ
|
:
|
Maha Mulia
|
|
c.
|
Al ‘Aliy
|
الْعَلِيُّ
|
:
|
Maha Tinggi
|
|
d.
|
Al Muta’aalii
|
الْمُتَعَالِي
|
:
|
Maha Suci
|
|
e.
|
Al Qawiyyu
|
الْقَوِيُّ
|
:
|
Maha Kuat
|
|
f.
|
Al Qahhaar
|
الْقَهَّارُ
|
:
|
Maha Perkasa
|
|
g.
|
Al Jabbar
|
الْجَبَّارُ
|
:
|
Maha Perkasa
|
|
h.
|
Al Mutakabbir
|
الْمُتَكَبِّرُ
|
:
|
Maha Megah
|
|
i.
|
Al Kabiir
|
الْكَبِيرُ
|
:
|
Maha Besar
|
|
j.
|
Al Kariim
|
الْكَرِيمُ
|
:
|
Maha Pemurah
|
|
k.
|
Al Hamiid
|
الْحَمِيدُ
|
:
|
Maha Terpuji
|
|
l.
|
Al Majiid
|
الْمَجِيدُ
|
:
|
Maha Mulia
|
|
m.
|
Al Matiin
|
الْمَتِينُ
|
:
|
Maha Kuat
|
|
n.
|
Az Zhaahir
|
الظَّاهِرُ
|
:
|
Maha Nyata
|
|
o.
|
Dzul Jalaali Wal Ikraam
|
ذُوالْجَلاَلِ وَالإكْرَامِ
|
:
|
Maha Memiliki Kebesaran dan
Kemuliaan
|
5.
Nama-nama yang
berhubungan dengan ilmu-Nya Allah Ta’ala, yakni:
|
a.
|
Al ‘Aliim
|
اَلْعَلِيْمُ
|
:
|
Maha Mengetahui
|
|
b.
|
Al Hakiim
|
الْحَكِيمُ
|
:
|
Maha Bijaksana
|
|
c.
|
Al Samii’
|
السَّمِيعُ
|
:
|
Maha Mendengar
|
|
d.
|
Al Khabiir
|
الْخَبِيرُ
|
:
|
Maha Mengetahui Rahasia
|
|
e.
|
Al Bashiir
|
الْبَصِيرُ
|
:
|
Maha Melihat
|
|
f.
|
As Syahiid
|
الشَّهِيدُ
|
:
|
Maha Menyaksikan
|
|
g.
|
Ar Raqiib
|
الرَّقِيبُ
|
:
|
Maha Meneliti
|
|
h.
|
Al Baathin
|
الْبَاطِنُ
|
:
|
Maha Tersembunyi
|
|
i.
|
Al Muhaimin
|
الْمُهَيْمِنُ
|
:
|
Maha Menjaga
|
6.
Nama-nama yang
berhubungan dengan kekuasaan Allah Ta’ala serta cara mengatur terhadap segala
sesuatu, yakni :
|
a.
|
Al Qaadir
|
الْقَادِرُ
|
:
|
Maha Kuasa
|
|
b.
|
Al Wakiil
|
الْوَكِيلُ
|
:
|
Maha Pemelihara Penyerahan
|
|
c.
|
Al Waliyy
|
الْوَلِيُّ
|
:
|
Maha Melindungi
|
|
d.
|
Al Hafizh
|
الْحَفِيظُ
|
:
|
Mmaha Pemelihara
|
|
e.
|
Al Malik
|
الْمَلِكُ
|
:
|
Maha Merajai
|
|
f.
|
Al Maalik
|
الْمَلِكُ
|
:
|
Maha Memiliki
|
|
g.
|
Al Fattaah
|
الْفَتَّاحُ
|
:
|
Maha Pembuka
|
|
h.
|
Al Hasiib
|
الْحسِيبُ
|
:
|
Maha Penjamin
|
|
i.
|
Al Muntaqim
|
الْمُنْتَقِمُ
|
:
|
Maha Penyiksa
|
|
j.
|
Al Muqiit
|
المُقيِت
|
:
|
Maha Pemberi Kecukupan
|
7.
Ada pula nama-nama
lain yang tidak disebutkan dalam nash-Nya Al-Qur’an Al-Karim, tetapi merupakan
sifat-sifat yang erat kaitannya dengan sifat-sifat yang erat kaitannya dengan
sifat atau perbuatan Allah Ta’ala yang tercantum dalam Al-Qur’an Al-Karim,
yakni :
|
a.
|
Al Qaabidh
|
الْقَابِضُ
|
:
|
Maha Pencabut
|
|
b.
|
Al Baasith
|
الْبَاسِطُ
|
:
|
Maha Meluaskan
|
|
c.
|
Ar Raafi’
|
الرَّافِعُ
|
:
|
Maha Mengangkat
|
|
d.
|
Al Mu’izz
|
الْمُعِزُّ
|
:
|
Maha Pemberi Kemuliaan
|
|
e.
|
Al Mudzil
|
المُذِلُّ
|
:
|
Maha Pemberi Kehinaan
|
|
f.
|
Al Mujiib
|
الْمُجِيبُ
|
:
|
Maha Mengabulkan
|
|
g.
|
Al Baa’its
|
الْبَاعِثُ
|
:
|
Maha Membangkitkan
|
|
h.
|
Al Mushii
|
الْمُحْصِي
|
:
|
Maha Menghitung
|
|
i.
|
Al Mubdi’
|
الْمُبْدِئُ
|
:
|
Maha Memulai
|
|
j.
|
Al Mu’iid
|
الْمُعِيدُ
|
:
|
Maha Mengulangi
|
|
k.
|
Al Muhyii
|
الْمُحْيِي
|
:
|
Maha Menghidupkan
|
|
l.
|
Al Mumiitu
|
اَلْمُمِيتُ
|
:
|
Maha Mematikan
|
|
m.
|
Malikul Mulk
|
مَالِكُ الْمُلْكِ
|
:
|
Maha Menguasai Kerajaan
|
|
n.
|
Al Jamii’
|
الْجَامِعُ
|
:
|
Maha Mengumpulkan
|
|
o.
|
Al Mughnii
|
الْمُغْنِي
|
:
|
Maha Pemberi Kekayaan
|
|
p.
|
Al-Mu'thi
|
:
|
Maha Pemberi
|
|
|
q.
|
Al Maani
|
اَلْمَانِعُ
|
:
|
Maha Membela, Maha Menolak
|
|
r.
|
Al Haadii
|
الْهَادِي
|
:
|
Maha Pemberi Petunjuk
|
|
s.
|
Al Baaqii
|
اَلْبَاقِي
|
:
|
Maha Kekal
|
|
t.
|
Al Waarits
|
الْوَارِثُ
|
:
|
Maha Pewaris
|
8.
Ada pula nama-nama
lain bagi Allah Ta’ala yang terambil dari makna atau pengetian nama-nama yang
terdapat dalam Al-Qur’an Al-Karim, yakni :
|
a.
|
An Nuur
|
النُّورُ
|
:
|
Maha Bercahaya
|
|
b.
|
As Shabuur
|
الصَّبُورُ
|
:
|
Maha Penyabar
|
|
c.
|
Ar Rasyiid
|
الرَّشِيدُ
|
:
|
Maha Cendekiawan
|
|
d.
|
Al Muqsith
|
الْمُقْسِطُ
|
:
|
Maha Mengadili
|
|
e.
|
Al Waali
|
الْوَالِي
|
:
|
Maha Menguasai
|
|
f.
|
Al Jaliil
|
الْجَلِيلُ
|
:
|
Maha Luhur
|
|
g.
|
Al ‘Adl
|
الْعَدْلُ
|
:
|
Maha Adil
|
|
h.
|
Al Khaafidh
|
الْخَافِضُ
|
:
|
Maha Menjatuhkan
|
|
i.
|
Al Waajid
|
الْوَاجِدُ
|
:
|
Maha Kaya
|
|
j.
|
Al Muqaddim
|
الْمُقَدِّمُ
|
:
|
Maha Mendahulukan
|
|
k.
|
Al Mu’akkhir
|
الْمُؤَخِّرُ
|
:
|
Maha Mengakhirkan
|
|
l.
|
Ad Dhaar
|
الضَّارَّ
|
:
|
Maha Pemberi Bahaya
|
|
m.
|
An Nafii’
|
النَّافِعُ
|
:
|
Maha Pemberi Kemanfaatan
|
Catatan: Dalam buku terjemahan Aqidah Islam yang disalin ini tidak
mencantumkan tulisan Arab, namun penyalin mamandang perlu untuk
mencantumkannya. Dengan demikian jika terjadi perubahan transliterasi tetap
bisa mengacu pada tulisan aslinya.
NAMA
ALLAH YANG TERAGUNG
Sebagaimana kita memaklumi bahwasannyua Allah Ta’ala itu mempunyai beberapa
buah nama yang baik-baik, tetapi Dia juga mempunyai sebuah nama yang teragung[2] di antara semua
nama itu yang jikalau dengan nama itu Dia dimintai, pastilah permintaan itu
akan dikabulkan dan jikalau sesuatu doa dipanjatkan dengan menggunakan nama
tersebut, maka doa itu akan diluluskan.
Mengenai nama Allah Ta’ala Al-Adzam (teragung) itu disebutkan dalam
beberapa hadits diantaranya sebagaimana yang tercantum di bawah ini :
Pertama :
Diriwayatkan dari Buraidah r.a., katanya :
“Suatu ketika Nabi saw mendengar seorang lelaki
berdoa dan ia berkata: ALLAHUMMA INNI AS’ALUKA BI-ANNI ASYHADU ANNAKA
ANTAL-LAHU LAA ILAHA ANTAL AHADUSH-SHAMAD, ALLADZI LAM YALID WALAM YUULAD WALAM
YAKUL-LAHUU KUFUWAN AHAD (Artinya: Ya Allah sehungguhnya aku mohon kepada-Mu
dengan pengakuan bahwa aku menyaksikan bahwa Engkau-lah Allah yang tiada Tuhan
selain dari-Mu, Maha Esa, Maha Dibutuhkan, yang tidak berputra, tidak diputrakan
dan tidak ada sesuatu apapun yang menyamai-Nya).buraidah melanjutkan
keterangannya, demi mendengar itu lalu Nabi saw bersabda, ‘Demi Dzat yang
jiwaku dalam genggaman-Nya, sesungguhnya orang itu telah memeohon kepda Allah
dengan nama-Nya yang teragung, yang apabila dipanjatkan doa dengan menggunakan
nama itu maka Allah akan mengabulkannya dan apabila dimintai pasti akan
diberinya”. [3]
Kedua : Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, katanya
:
Nabi
saw. Suatu ketika masuk ke dalam masjid dan di situ ada seorang laki-laki[4] yang sudah bersembahyang dan di dalam do’anya ia
mengucapkan: “ALLAHUMMA LAA ILAHA ILLALLAHI ANTAL MANNAN, BADI’US SAMAWATI WAL
ARDLI, DZULJALALI WAL IKRAM” (Artinya: Ya Allah, tiada Tuhan melainkan Allah,
Engkau adalah Maha Pemberi Karunia, Maha Pencipta langit dan bumi, Maha
memiliki keagungan dan kemuliaan) [5] Demi Nabi saw mendengar itu, lalu beliau saw bersabda, ‘Tahukah kamu
semua, dengan lafadz apakah orang itu berdoa? Ia berdoa dengan menggunakan nama
Allah yang teragung, yang apabila ia dipakai untuk berdoa maka akan mengabulkan
dan apabila diminta tentu memberi.’
Diriwayatkan oleh Abu
Dawud, Tirmidzi, Nasaa’i, dan Ibnu Majah.
Ketiga : Diriwayatkan dari Asma’ puteri Yasid r.a, katanya : Nabi saw
bersabda :
Nama
Allah teragung itu terletak dalam dua buah ayat ini, yaitu: WA ILAHUKUM I-LAHUW
WAHID. LAA ILAHA ILLA HUWAR RAHMANUR RAHIM (Artinya: Dan Tuhan-mu semua adalah
Tuhan yang maha Esa. Tiada Tuhan melainkan Dzat yang Maha Pengasih lagi
Penyayang). Dan dipermulaan Surat Ali ‘Imran, yaitu : ALIF LAAM MIIM. LAA ILAHA
ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUM” (Alif Laam Miim - Allah Ta’ala lebih mengetahui apa
tujuannya kata-kata ini – Tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Hidup lagi
Berdirisendiri) [6]
Keempat : Dari Sa’id bin Malik ra, katanya : Saya mendengar Rasulullah saw
bersabda :
Sukakah
kamu semua saya tunjukkan nama Allah yang teragung, yang jikalau digunakan
untuk berdoa dengannya itu maka Allah mengabulkan dan jikalau diminta maka
memberi?. Yaitu doa yang dengannya itulah Yunus memohonkan kepada Tuhan agar
diselamatkan, yakni ketika memanggil-Nya
dalam kegelapan tiga macam (maksudnya kegelapan dalam kegelapan yang
bertumpuk-tumpuk karena saat itu beliau as. Dalam perut ikan hut atau ikan hiu
yang menelannya. Doa itu ialah LAA ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNA KUNTU MINADZ
DZALIMIIN (Artinya: Tiada Tuhan melainkan Engkau. Maha Suci Engkau,
sesungguhnya hamba ini termasuk golongan orang yang menganiaya diri sendiri).
Kemudia ada seorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah doa itu khusus untuk Nabi
Yunus as. Saja ataukah umum untuk semua orang mukmin?” Belaiu bersabda, “Apakah
engkau tidak pernah mendengan firman Allah ‘Azza wa jala yang artinya: Dan Kami
(Allah) menyelamatkan Yunus dari kedukaannya dan demikian itu pulalah Kami
menyelamatkan semua orang mukmin”
Hadits
ini diriwayatkan oleh Hakim
Inilah
nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang membukakan bidang yang amat luas
sekali dari hal kema’rifatan kepada Allah Ta’ala jukalau seseorang sudah
memahaminya dan dapat mencapai makna dan pengertiannya, juga apabila jiwanya
sudah dapat meresapkan dan berkesan dalam kalbunya seta suka mempergunakannya
sebagai pelita. Dengan menyelidiki nama-nama tersebut akan terbuka jelaslah
sebesar-besar hakikat yang ada dalam alam semesta yang maujud ini. [7]
[1] Menghafal nama-nama yang baik
itu maksudnya ialah mengingat-Nya, menghadirkan makna dan artinya dalam kalbu
serta merasakan bekasnya dalam jiwa
[2] Para alim ulama sama
berselisih pendapat dalam menentukan nama teragung bagi Allah Subhanahu wa
Ta’ala itu. Tetapi yang rajih (dapat dianggap kuat dan baik digunakan sebagai
pegangan dan pedoman) ialah pendapat yang mengatakan bahwa mana teragung yang
dimaksudkan itu ialah merupakan kalimat yang tersusun dari beberapa buah nama
Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jikalau kalimat ini digunakan oleh seseorang untuk
berdoa kepada Allah Ta’ala dengan melengkapi semua syarat berdoa yang
ditentukan menurut peratursan syari’at, maka Alloh akan mengabulkan doanya
tersebut.
Jadi
nama teragung itu bukanlah sebagai suatu rahasia yang tersembunyi atau
seolah-olah sebagai suatu hal yang ghaib yang hanya diberikan atau
diperlihatkan oleh Allah Ta’ala kepada orang yang tertent saja, sedang lain
orang yang bukan termasuk khusus lalu tidak dapat mengetahuinya. Itu sama
sekali tidak.
Anggapan
bahwa nama Allah Ta’ala yang teragung itu hanya dimiliki orang-orang khusus,
kiranya sudah menjadi adat istiadat bagi sementara golongan, sehingga karena
anggapa keliru seperti itu, lalu yang merasa sudah mengetahuinya itu meyakinkan
sudah dapat mentahkikkannya, sedang orang yang selain itu tidak dapat.
Sebenarnya kita tidak patut sama sekali menambah-nambahkan apa-apa yang ada di
dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw sekalipun hanya sedikit saja.
[3] Hadits di atas diriwayatkan
oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasaa’i, dan Ibnu Majah.
Al-Mundziri
berkata : Syekh (Guru saya) Abul Hasan Al-Maqdisi mengatakan bahwa sanad dari
Hadits ini tidak ada yang mencela diantara ahli hadits yang kenamaan. Saya
sendiri belum pernah mengetahui ada suatu hadits yang lebuh baik dari hadits
ini yang memperbincangkan soal nama Allah Ta’ala yang teragung itu.
Al-Hafidz
Ibnu Hajar berkata: Inilah yang paling rajih (menang) yang berhubungan dengan
hal nama Allah Ta’ala yang teragung (a’dzam) itu, jikalau ditilik dari segi
sanadnya. Untuk ini silakanlah mengulangi pembahasannya dalam Kitab Fiqhus
Sunnah Jilid II
[4] Orang yang bersembahyang
ketika Rasulullah saw masuk masjid itu menurut keterangan Imam Nawawi dengan
mengutip ucapan Imam Al-Khatib demikian: Orang yang dimaksud dalam hadits
tersebut di atas itu ialah Abu Abbas Zaid bin Shamit Al-Anshari Arriski.
[5] Dzuljalal artinya yang
memiliki keagungan dan kemegahan, dzul ikram artinya yang memiliki kemuliaan
dan keutamaan karunia yang dilimpahkan kepda hamba-hamba-Nya yang dikasihi
serta disayangi.
[6] Diriwayatkan oleh Ahmad,
Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan
shahih.
[7] Ada sementara orang yang
mengira bahwa dari antara sekian banyak nama-nama Allah yang mulia-mulia dan
baik-baik itu ada sebagian nama yang mempunyai khususiat (keistimewaan) yang
tertentu, sehingga barangsiapa yang mengekalkan membacanya, maka ia akan
memperoleh kebaikan atau rizki yang banyak, serta dapat mengerjakan hal-hal
yang ajaib dan perbuatan-perbuatan yang luar biasa. Tetapi penyangkaan yang
sedemikian ini sama sekali tidak ada keterangannya dalam agama kita.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar