Senin, 09 September 2019

AQIDAH ISLAM 2


AQIDAH ISLAM
(ILMU TAUHID)








Oleh
SAYID SABIQ
GURU BESAR DI UNIVERSITAS AL-AZHAR






Diterjemahkan oleh:
Moh. Abdai Rathomy











Penerbit
C.V. DIPONEGORO BANDUNG
Jl. Mohammad Toha 44-46 Telp. 50395

Cetakan III Tahun 1982




Diketik Ulang oleh:
Bambang Nurmu’is

(Pengantar Penerbit tertanggal 6 Maret 1974 tidak ditulis)


PENGANTAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Alhamdulillahi rabbil’alamiin, dengan kesempatan dan dorongan kemauan yang telah Engkau limpahkan dapat kumanfaatkan untuk menulis ulang terjemahan Kitab Aqidah Islam (Ilmu Tauhid) ini.
Kitab Aqidah Islam yang diterjemahkan oleh Moh. Abdai Rathomy dari tulisan Sayit Sabiq ini diterbitkan oleh Penerbit CV. Diponegoro Bandung pada tahun 1982 (Cetakan ke III), dan telah saya miliki sejak akhir tahun 1984 ketika saya masih di Semester I Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang.
Penulisan ulang kitab ini bukan untuk kepentingan komersial, tetapi untuk mendekatkan pada pembaca, terutama pada anak-anakku (Muhammad Saiful ‘Alim, Mughni Abdul Aziz, Iza Lu’luatul Mahmudah , dan Nuril Abshor Al-Amin) yang memang saat ini lebih jarang membaca buku dan cenderung lebih banyak membaca melalui media elektronik. Dan terlebih khusus saya persembahkan untuk Iza Lu’luatul Mahmudah (anak ke-3) yang tahun 2019 ini diterima di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Dengan demikian bilamana suatu saat diperlukan, akan bisa dijadikan referensi saat kegiatan berlajar.
Penulisan ulang ini sengaja akan saya muat dalam blog pribadi saya, dan manakala ada pihak yang ingin menjadikan referensi, termasuk anak saya, agar tetap menelusuri pada buku terjemahan asli atau bahkan kitab yang asli.
Selanjutnya perlu diketahui bahwa penulisan ulang ini : (1) halaman tidak sesuai dengan halaman asli pada buku terjemahan, karena format kertas yang berbeda, (2) terdapat beberapa penyesuaian terutama penulisan yang masih kurangh sesuai tata bahasa, karena saya sesuaikan dengan tata bahasa yang baku, (3) jika terdapat kesalahan huruf bukan kesalahan pada buku asli, tapi karena kesalahan saya yang terkadang salah tekan saat mengetik, (4) saya akan menampilkan penulisan ini per bab atau per bagian sebagaimana buku terjemahannya agar mudah bagi saya sendiri, anak-anak saya, dan mungkin orang lain untuk mengaksesnya, (5) untuk penulisan hadits hanya saya foto scan, karena belum mempunyai referensi hadits yang bisa dicopy kecuali beberapa hadits yang memang bisa saya temukan via internet.
Mohon maaf saya sampaikan kepada penerbit dan penterjemah kitab ini, saya tidak bermaksud melanggar hak cipta, tetapi hanya sekedar turut mendakwahkan. Terimakasih

Wassalam
Bambang Nurmu’is





2
MA’RIFAT KEPADA ALLAH

Ma’rifat  kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah seluhur-luhur ma’rifat dan bahkan yang semulia-mulianya, sebab ma’rifat kepada Allah Ta’ala itulah yang merupakan azaz atau fondamen yang di atasnya didirikanlah segala kehidupan kerohanian.
Dari ma’rifat kepada Allah itulah bercbangnya ma’rifat kepada para nabi dan rasul serta hal-hal yang berhubungan dengan beliau-beliau itu, mengenai terlindungnya dari dosa dan kemaksiatan, tugas-tugasnya, sifat-sifatnya, hajat ummat manusia terhadap diutusnya beliau-beliau itu, juga yang dimasukkan sebagai persoalan yang erat hubungannya dengan para nabi dan rasul itu seperti masalah mu’jizat, kewalian, kekeramatan, dan kitab-kitab suci yang diturunkan dari langit.
Bahkan dari ma’rifat kepada Allah Ta’ala itu juga cabangnya ma’rifat dengan alam yang ada di balik alam semesta ini seperti malaikat, jin dan ruh.
Juga dari ma’rifat kepada Allah itu pulalah timbulnya ma’rifat perihal apa yang akan terjadi setelah kehidupan di dunia ini berakhir, juga mengenai kehidupan di alam barzakh, kehidupan di alam akhirat yang berupa ba’ats (kebangkitan dari kembali dari kubur), hisab (perhitungan amal), pahala, siksa, surga, dan neraka.


CARA BERMA’RIFAT

Untuk berma’rifat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala itu mempunya dua cara, yaitu:
Pertama : Dengan menggunakan akal fikiran dan memeriksa secara teliti apa-apa yang diciptakan oleh Alloh Ta’ala yang berupa benda-benda yang beraneka ragam ini.
Kedua : Dengan mema’rifati nama-nama Allah Ta’ala serta sifat-sifat-Nya.
Maka dengan menggunakan akal fikiran dari satu sudut dan dengan mema’rifati nama serta sifat-sifat Allah dari sudut lain akan dapatlah seseorang itu berma’rifat kepada Tuhan-nya dan ia akan memperoleh petunjuk ke arah itu.
Baiklah kami uraikan sekedar penerangan untuk mengetahui setiap macam dari dua cara ini :


BERMA’RIFAT DENGAN FIKIRAN

Sesungguhnya setiap anggota itu ada tugasnya, sedang tugas akal ialah mengangan-angankan, memeriksa, memikirkan, dan mengamat-amati. Jikalau kekuatan-kekuatan semacam ini menganggur maka hilang pulalah pekerjaan akal, juga menganggurlah tugasnya yang terpenting baginya dan ini pasti akan diikuti oleh terhentinya kegiatan hidup. Jikalau ini sudah terjadi akan menyebabkan pula adanya kebekuan, kematian dan kerusakan akal itu sendiri.
Agama Islam menghendaki agar akal itu bergerak dan melepaskan kekangannya, segera bangun dari tidur nyenyaknya, kemudian mengajak untuk mengadakan perenungan dan pemikiran. Pekerjaan yang sedemikian ini termasuk inti peribadatan kepada Tuhan.
Allah Ta’ala berfirman :

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ

Katakanlah: "Periksa olehmusemua  apa yang ada di langit dan di bumi.”
S.Yunus : 101

Allah Ta’ala berfirman pula :

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا

Katakanlah: "Aku hendak mengajarkan kepadamu semua suatu perkara saja, yaitu hendaklah  kamu semua berdiri dihadapan  Allah dua-dua orang  atau sendiri-sendiri,  kemudian kamu berfikirkan kamu semua  (gunakanlah akal fikiranmu)”
S. Saba’ : 46

Barangsiapa yang menginngkari kenikmatan akal dan tidak suka menggunakannya untuk sesuatu yang mestinya dikerjakan oleh akal itu, bahkan melalaikan ayat-ayat dan bukti-bukti tentang ada dan kuiasanya Allah Ta’ala, maka orang semacam itulah yang patut sekali mendapat cemoohan dan hinaan. Malahan Allah Ta’ala sendiri telah mencela sekali orang semacam itu dengan firman-Nya :

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ

“Alangkah banyaknya ayat (tanda kekuasaan Tuhan) di langit dan di bumi yang mereka lalui, tetapi mereka semua membelakanginya saja (tidak memperhatikannya)”
S. Yusuf : 105

Allah Ta’ala berfirman pula :

وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ

“Tidakkah datang datang kepada mereka itu suatu ayat dari ayat-ayat Allah, melainkan mereka itu membelakanginya saja (tidak memperhatikannya)”
S. Yasin : 46

Menganggurkan akal dari tugas yang semestinya itu akan menurunkan manusia itu sendiri ke suatu taraf yang lebih rendah dan lebih hina dari taraf binatang. Keadaan seperti itulah yang merupakan penghalang besar bagi ummat yang dahulu untuk langsung menembus kepada hakikat-hakikat yang ada di dalam diri, jiwa dan alam semesta.
Allah Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, yang mempunyai hati tetapi tidak memahamkan dengan hatinya, mempunyai mata tetapi tidak melihat dengan matanya, dan mempunyai telinga tetapi tidak mendengarkan dengan telinganya. Orang-orang itu seperti ternak, bahkan mereka lebih sesat. Itulah orang-orang yang lalai (dari kebenaran).”
S. Al-A’raf : 179


TAKLID ADALAH PENUTUP AKAL FIKIRAN

Taklid itu adalah sutu penghalang besar untuk kemerdekaan akal. Itulah pengekang utama terhadap kebebasan berfikir dan oleh sebab itu maka Allah Ta’ala memuji sekali kepada orang-orang yang dapat menjernihkan sesuatu tentang hakikatnya, disisihkannya dari benda-benda lain, dibedakan dan dimurnikan benda-benda itu setelah dibahas, diperiksa, diteliti dan disaring oleh akal fikirannya. Selanjutnya lalu diambillah mana-mana yang dianggapnya terbaik dan ditinggalkanlah yang lainnya.
Allah Ta’ala berfirman :

فَبَشِّرْ عِبَادِي #  الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الألْبَابِ  

“Maka berikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan ucapan lalu mengikuti mana-mana yang terbaik dari ucapan itu. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh petunjuk Allah dan mereka itu pulalah orang-orang yang mempunyai akal fikiran.”
S. Az-Zumar : 17-18
Allah Ta’ala benar-benar mencela dan mengejek serta menyalahkan kepada orang-orang yang suka mengekor, mengembik yakni ahli taklid yang tidak suka menggunakan akal fikirannya sendiri. Yang mereka ikuti hanyalah akal orang-orang lain. Mereka betul-betul beku, sebab hanya mengikuti alam fikiran kuno yang sudah terbiasa dan berlangsung sejak dulu di sekitarnya, sekalipun yang baru itu sebenarnya lebih tepat, lebih cocok, lebih sesuai dan lebih dapat dipertanggungjawabkan karena sejalan dengan petunjuk dari Tuhan.
Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka lalu berkata: "Tidak, kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari ayah-ayah kami". Padahal ayah-ayah mereka itu tidak mengerti sedikitpun, dan tidak pula mengikuti petunjuk yang benar"
S. Al-Baqarah : 170


BIDANG-BIDANG PEMIKIRAN

Agama Islam mengajak seluruh ummat manusia supaya berfikir dan menggunakan akalnya dan bahkan demikian hebatnya anjurannya ke arah itu tetapi yang dikehendaki itu bukanlah pemikiran secara tidak terkendalikan lagi kebebasannya. Semua itu dimaksudkan oleh Islam agar dilakukan dalam batas yang tertentu yang memang merupakan lapangan bagi manusia dan yang dapat dicapai oleh akal manusia itu.
Maka yang dianjurkan oleh Islam untuk difikirkan itu ialah dalam hal ciptaan Allah Ta’ala yakni apa-apa yang ada di langit, di bumi, dalam dirinya sendiri, dalam masyarakat manusia dan lain-lain. Tidak sebuah pemikiranpun yang dilarang-Nya melainkan memikirkan Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab soal yang satu ini adalah pasti di luar kekuatan akal fikiran manusia.
Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda :


“Berfikirlah kamu semua perihal makhluk Allah (apa-apa  yang diciptakan oleh Allah) dan janganlah kamu sekalian berfikir mengenai Dzat Allah, sebab sesungguhnya kamu semua sudah tentu tidak dapat mencapai keadaan hakikatnya”
Diriwayatkan oleh Abu Na’im Kitab Al-Hilyah
Dengan sanad dla’if tetapi isi dan maknanya shahih

Al-Qur’an Al-Karim sendiri pebuh dengan beratus-ratus ayat (bukti dan tanda) yang mengajak kita semua untuk mengenangkan keadaan alam semesta yang terbuka lebar dan luas di hadapan kita ini, beserta cakrawalanya yang tiada terbatas oleh suatu apapun karena sangat besarnya dan tidak ada ujung pangkalnya ini.
Allah Ta’ala berfirman :

كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ   فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu semua, agar supaya kamu suka berfikir tentang dunia dan akhirat”
S. Al-Baqarah : 119-120

Alangkah luas dan lebarnya dinia yang diperintah oleh Islam untuk difikirkan itu, tetapi sedemikian luasnya masih memadahi sedikitpun dari keluasan yang terdapat di alam akhirat.


TUJUAN PEMIKIRAN

Diantara tujuan-tujuan utama yang dikehendaki oleh Islam dalam hal diperintahnya untuk mengadakan pemikiran-pemikiran itu ialah untuk membangunkan akal dan menggunakan tugasnya dalam berfikir, mengenangkankan dan menyelidiki yang dengan demikian ini akan sampailah manusia itu kepada petunjuk yang memberikan penerangan yang sejelas-jelasnya mengenai peraturan-peraturan kehidupan, sebab-sebabnya perwujudan, tabiat-tabiat keadaan dan hakikat-hakikat segala sesuatu benda.
Manakala hal-hal itu sedah terlaksana baik-baik, tentu akan dapat merupakan cahaya yang terang untuk menyingkap persoalan siapa yang sebenarnya menjasi Maha Pencipta dan Pembentuk semuanya itu.  Selanjutnya setelah ini diperoleh, maka dengan perlahan-lahan akan tercapailah hakikat yang terbesar yaitu berma’rifat kepada Allah Ta’ala.
Jadi kema’rifatan kepada Allah Ta’ala itulah yang sesungguhnya merupakan buah atau natijah dari pada akal fikiran yang cerdik dan bergerak terus, juga sebagai hasil dari usaha fikiran yang mendalam serta disinari oleh cahaya yang terang benderang.
Inilah salah satu perantaraan yang digunakan oleh Al-Qur’an untuk memberikan pembuktian tentang Allah Ta’ala.
Al-Qur’an telah mendorong akal fikiran manusia dengan mengemukakan ayat-ayat tentang ilmu alam yang menjelaskan segala isi dalam dunia semesta ini, dengan menggunakan hasil dari pemikiran itu nanti akan terciptalah kema’rifatan kepada Allah Ta’ala. Kema’rifatan itu terdiri dari hal-hal seperti mengenal kesempurnaan sifat-sifat-Nya, keagungan-keagungan hal ikhwal-Nya, kenyataan-kenyataan dari kebesaran dan keluhuran-Nya, bukti-bukti kesucian-Nya, kelengkapan ilmu-Nya, kelangsungan kekuasaan-Nya dan keesaan-Nya dalam hal menciptakan dan membuat yang baru.
Marilah kita semua renungkan baik-baik dalam kalbu dan pikiran kita makna ayat-ayat yang tercantum di bawah ini :
قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ
أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ
أَمَّنْ جَعَلَ الأرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ
أَمَّنْ يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Katakanlah: "Segenap puji  adalah bagi Allah dan keselamatan untuk hamba-hamba-Nya yang dipilih oleh-Nya. Adakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan-Nya itu yang lebih baik?"
Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air hujan dari langit kepadamu semua, lalu Kami (Allah) mumbuhkan dengan sebab air tadi kebun-kebun yang indah permai. Kamu semua tentu tidak sanggup menumbuhkan pohonnya. Adakah Tuhan di samping Allah ? Tetapi mereka adalah kaum yang berpaling dari kebenaran.
Atau siapakah yang menjadikan bumi untuk tempat berdiam, menjadikan sungai-sungai di tengah-tengahnya, menjadikan gunung-gunung sebagai (pasak, dan menjadikan batas antara dua lautan ? Adakah Tuhan di samping Allah ? Tetapi  kebanyakan mereka tidak mengetahui yang sedemikian itu..
Atau siapakah yang memperkenankan permohonan orang yang dipaksa keadaan menderita  apabila memohon kepada-Nya agar menghilangkan penderitaannya itu, dan yang menjadikan kamu semua sebagai khalifah di bumi? Adakah Tuhan di samping Allah ? Sedikit sekali kamu semua mengingat kepada Allah itu.
Atau siapakah yang menunjukkan jalan kepadamu semua  dalam kegelapan di daratan dan lautan ? Dan siapakah yang mengirim angin untuk membawa berita gembira sebelum kedatangannya ke rahmatan Allah? Adakah Tuhan di samping Allah ? Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan dengan Allah itu.
Atau siapakah yang memulai menciptakan makhluk, kemudian akan mengulanginya kembali ? Dan siapakah yang memberikan rezeki kepadamu semuandari langit dan bumi? Adakah Tuhan di samping Allah ?. Katakanlah keterangan (alasan) mu, jikalau  kamu semua memang !
S. An-Naml : 59-64

Fikirkanlah baik-baik, apakah ada suatu keterangan yang lebih jelas dari keterangan yang tertera di atas itu, adakah suatu hujah yang lebih kuat dari pada hujah di atas ?
Jikalau akal masih juga tidak suka tunduk kepada keterangan di atas itu, tidak suka takluk pada hujah itu, maka sunguh-sungguh ia tidak akan tunduk pada keterangan apapun yang selainnya dan tidak hendak pula takluk pada hujah manapun juga. Memang suatu alamat akal yang sesat dan enggan pada petunjuk yang benar.
Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ

“Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka orang itupun tidak akan memperoleh cahaya apapun.”
S. An-Nur : 40

Seorang penyair berkata:
“Hati nurani manusia itu
Pasti tidak akan mampu memperoleh suatu apapun
Jikalau ia tetap menuntut bukti
Mengapa waktu siang itu terang benderang”


BERMA’RIFAT DENGAN JALAN MEMAHAMI NAMA-NAMA DAN
SIFAT-SIFAT ALLAH

Jalan lain untuk mencapai ma’rifat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala itu ialah memahami nama-nama Allah Ta’ala yang baik-baik serta sifat-sifat-Nya yang luhur dan tinggi.
Jadi nama-nama dan sifat-sifat itulah yang merupakan perantara yang digunakan oleh Allah Ta’ala agar makhluk-Nya itu dapat berma’rifat pada-Nya. Inilah yang dapat dianggap sebagai saluran yang dari situ hati manusia dapat mengenal Allah Ta’ala secara spontan. Malahan itu pulalah yang dapat menggerakkan cara penemuan yang hakiki dan membuka alam yang amat luas terhadap kerohanian guna menyaksikan cahaya Allah ‘Azza wa Jalla.
Nama-nama itu adalah yang disebutkan Allah dalam firman-Nya :

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى

Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Mana saja nama Tuhan yang kamu semua seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik).
S. Al-Isra’ : 110

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

“Bagi Allah adalah asmaul husna (nama-nama yang baik), maka serulah dengan menggunakan nama-nama itu”
S. Al-A’raf : 180

Adapun jumlah nama-nama Allah yang baik (asmaul husna) itu ada sembilanpuluh sembilan.
Imam-imam Bukhari, Muslim, dan Turmudzi meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah ra, bahwasannya Rasulullah saw bersabda :

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا ، مِائَةً إِلا وَاحِدَةً ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ،  وَإِنَّ لِلَّهِ وَتْرٌ يُحِبُّ الْوَتْرَ

“Allah itu mempunyai sembilanpuluh sembilan nama. Barangsiapa menghafalnya[1], ia masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Maha Ganjil (tidak genap) dan cinta sekali pada hal yang ganjil (tidak genap)”
R. Ibnu Majah

Imam Turmudxi memberikan tambahan dalam riwayatnya sebagai berikut:

هُوَ اللَّهُ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ الْغَفَّارُ الْقَهَّارُ الْوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الْخَافِضُ الرَّافِعُ الْمُعِزُّ الْمُذِلُّ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ الْحَكَمُ الْعَدْلُ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ الْحَلِيمُ الْعَظِيمُ الْغَفُورُ الشَّكُورُ الْعَلِىُّ الْكَبِيرُ الْحَفِيظُ الْمُقِيتُ الْحَسِيبُ الْجَلِيلُ الْكَرِيمُ الرَّقِيبُ الْمُجِيبُ الْوَاسِعُ الْحَكِيمُ الْوَدُودُ الْمَجِيدُ الْبَاعِثُ الشَّهِيدُ الْحَقُّ الْوَكِيلُ الْقَوِىُّ الْمَتِينُ الْوَلِىُّ الْحَمِيدُ الْمُحْصِى الْمُبْدِئُ الْمُعِيدُ الْمُحْيِى الْمُمِيتُ الْحَىُّ الْقَيُّومُ الْوَاجِدُ الْمَاجِدُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ الْقَادِرُ الْمُقْتَدِرُ الْمُقَدِّمُ الْمُؤَخِّرُ الأَوَّلُ الآخِرُ الظَّاهِرُ الْبَاطِنُ الْوَالِى الْمُتَعَالِى الْبَرُّ التَّوَّابُ الْمُنْتَقِمُ الْعَفُوُّ الرَّءُوفُ مَالِكُ الْمُلْكِ ذُو الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ الْمُقْسِطُ الْجَامِعُ الْغَنِىُّ الْمُغْنِى الْمَانِعُ الضَّارُّ النَّافِعُ النُّورُ الْهَادِى الْبَدِيعُ الْبَاقِى الْوَارِثُ الرَّشِيدُ الصَّبُورُ

Sembilanpuluh sembilan nama Allah Ta’ala yaitu:


1
Allah
اَللّهُ
Lafadz yang Maha Mulia yang merupakan nama dari Dzat Illahi yang Maha Suci serta wajib adanya yang berhak memiliki semua macam pujian dan sanjungan. Adapun nama-nama lain, maka setiap nama itu menunjukkans suatu sifat Tuhan yang tertentu dan oleh sebab itu bolehlah  dianggap sebagai sifat bagi lafadz yang Maha Mulia ini (yakni Allah) atau boleh dijadikan sebagai kata beritanya
2
Ar Rahman
الرَّحْمَنُ
Maha Pengasih, pemberi kenikmatan yang agung-agung, pengasih di dunia
3
Ar Rahiim
الرَّحِيمُ
Maha Penyayang, pemberi kenikmatan yang pelik-pelik, penyayang di akhirat
4
Al Malik
الْمَلِكُ
Maha Merajai, mengatur kerajaan-Nya sesuai kehendak-Nya sendiri
5
Al Quddus
الْقُدُّوسُ
Maha Suci, tersuci dari segala cela dan kekurangan
6
As Salaam
السَّلاَمُ
Maha Menyelamatkan, pemberi keamanan dan kesentausaan pada seluruh makhluk-Nya
7
Al Mu’min
الْمُؤْمِنُ
Maha Pemelihara Keamanan, yakni siapa yang bersalah dari makhluk-Nya itu benar-benar akan diberi siksa, sedang kepada yang taat akan benar-benar dipenuhi janji-Nya dengan pahala yang baik
8
Al Muhaimin
الْمُهَيْمِنُ
Maha Penjaga, memerintah dan melindungi segala sesuatu
9
Al ‘Aziiz
الْعَزِيزُ
Maha Mulia, kuasa dan mampu untuk berbuat sekehendak-Nya
10
Al Jabbar
الْجَبَّارُ
Maha Perkasa, mencukupi segala kebutuhan, melangdungkan segala perintah-Nya serta memperbaiki keadaan seluruh hamba-Nya
11
Al Mutakabbir
الْمُتَكَبِّرُ
Maha Megah, menyendiiri dengan sifat kegungan dan kemegahan-Nya
12
Al Khaliq
الْخَالِقُ
Maha Pencipta, mengadakan seluruh makhluk tanpa asal, juga yang menakdirkan adanya semua itu
13
Al Baari’
الْبَارِئُ
Maha Pembuat, mengadakan semua yang bernyawa yang ada asal mulanya
14
Al Mushawwir
الْمُصَوِّرُ
Maha Pembentuk, memberikan gambaran atau bentuk pada sesuatu yang berbeda dengan lainnya. (Jadi Al-Khalik mengadakan sesuatu yang belum ada asal mulanya atau yang menakdirkan adanya itu, Al-Bari' ialah mengeluarkannya dari yang sudah ada asal muasalnya, sedang Al-Mushawwir ialah memberinya bentuk yang sesuai dengan keadaan dan keperluannya
15
Al Ghaffaar
الْغَفَّارُ
Maha Pengampun, banyak pemberian maaf-Nya dan menutupi dosa-dosa dan kesalahan
16
Al Qahhaar
الْقَهَّارُ
Maha Pemaksa, menggenggam segala sesuatu dalam kekuasaan-Nya serta memaksa segala mahkluk menuurut kehendak-Nya
17
Al Wahhaab
الْوَهَّابُ
Maha Pemberi, banyak kenikmatan dan selalu memberi karunia
18
Ar Razzaaq
الرَّزَّاقُ
Maha Pemberi Riski, membuat berbagai rizki serta membuat pula sebab-sebab diperolehnya
19
Al Fattaah
الْفَتَّاحُ
Maha Membukakan, yakni membuka gedung penyimpanan rahmat-Nya untuk seluruh hamba-Nya
20
Al ‘Aliim
اَلْعَلِيْمُ
Maha Mengetahui, yakni mengetahui segala yang maujud ini dan tidak satu bendapun tertutup oleh penglihatan-Nya
21
Al Qaabidh
الْقَابِضُ
Maha Pencabut, mengambil nyawa atau mempersempit rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya
22
Al Baasith
الْبَاسِطُ
Maha meluaskan, memudahkan terkumpulnya rizki bagi siapa yang dikehendaki oleh-Nya
23
Al Khaafidh
الْخَافِضُ
Maha Menjatuhkan, yakni terhadap orang yang selayaknya dijatuhkan karena akibat kelakuannya sendiri dengan memberinya kehinaan, kerendahan, dan siksaan
24
Ar Raafi’
الرَّافِعُ
Maha Mengangkat, yakni terhadap orang yang selayaknya diangkat kedudukannya karena usahanya yang giat yaitu yang termasuk golongan kaum yang bertakwa
25
Al Mu’izz
الْمُعِزُّ
Maha Pemberi Kemuliaan, yakni kepada orang yang berpegang teguh pada agama-Nya dngan memberinya pertolongan dan kemenangan
26
Al Mudzil
المُذِلُّ
Maha Pemberi Kehinaan, yakni kepada musuh-musuh-Nya dan musuh ummat Islam keseluruhan
27
Al Samii’
السَّمِيعُ
Maha Mendengar
28
Al Bashiir
الْبَصِيرُ
Maha Melihat
29
Al Hakam
الْحَكَمُ
Maha Menetapkan Hukum, sebagai hakim yang memutuskan yang tidak seorangpun dapat menolak keputusan-Nya, juga tidak seorangpun yang kuasa merintangi kelangsungan hukum-Nya itu
30
Al ‘Adl
الْعَدْلُ
Maha Adil, serta sangat sempurna keadilan-Nya itu
31
Al Lathiif
اللَّطِيفُ
Maha Halus, yakni mengetahui segala sesuatu yang samar-samar, pelik-pelik, dan kecil-kecil
32
Al Khabiir
الْخَبِيرُ
Maha Waspada
33
Al Haliim
الْحَلِيمُ
Maha Penghiba, poenyantun yang tidak tergesa-gesa melakukan kemarahan dan tidak pula gegabah memberikan siksaan
34
Al ‘Azhiim
الْعَظِيمُ
Maha Agung, yakni mencapai puncak tertinggi dari mercusuar keagungan karena bersifat dengan segala macam sifat kebesaran dan kesempurnaan
35
Al Ghafuur
الْغَفُورُ
Maha Pengampun, banyak pengampunan-Nya kepada hamba-hamba-Nya
36
As Syakuur
الشَّكُورُ
Maha Pembalas, yakni memberikan balasan yang banyak sekali atas amalan yang kecil dan tidak berarti
37
Al ‘Aliy
الْعَلِيُّ
Maha Tinggi, yakni mencapai tingkat setinggi-tingginya yang tidak mungkin digambarkan oleh akal fikiran siapapun dan tidak dapat difahami oleh otak yang begaimanapun pandainya
38
Al Kabiir
الْكَبِيرُ
Maha Besar. Yang kebesaran-Nya tidak dapat diikuti oleh panca indera ataupun akal manusia
39
Al Hafizh
الْحَفِيظُ
Maha Pemelihara, yakni menjaga segala sesuatu jangan sampai rusak dan goncang. Juga menjaga segala amal perbuiatan hamba-Nya sehingga tidak akan disia-siakan sedikitpun untuk memberikan balasan-Nya
40
Al Muqiit
المُقيِت
Maha Pemberi Kecukupan, baik yang berupa makanan tubuh maupun makanan  rohani
41
Al Hasiib
الْحسِيبُ
Maha Penjamin, yakni memberikan jaminan kecukupan kepada seluruh hamba-Nya. Juga dapat diartikan Maha Penghisab amalan hamba-hamba-Nya pada hari kiamat
42
Al Jaliil
الْجَلِيلُ
Maha Luhur, yang memiliki sifat-sifat keluhuran karena kesempurnaan sifat-sifat-Nya
43
Al Kariim
الْكَرِيمُ
Maha Pemurah, mulia hati dan memberi siapapun tanpa diminta atau penggantian dari sesuatu pemberian
44
Ar Raqiib
الرَّقِيبُ
Maha Peneliti, yang mengamat-amati gerak-gerik  segala sesuatu dan mengawasinya
45
Al Mujiib
الْمُجِيبُ
Maha Mengabulkan, yang memenuhi permohonan siapa saja yang berdoa pada-Nya
46
Al Waasi’
الْوَاسِعُ
Maha Luas, yakni bahwa kerahmatan-Nya itu merata kepada segala yang maujud dan luas pula ilmu-Nya terhadap segala sesuatu
47
Al Hakiim
الْحَكِيمُ
Maha Bijaksana, yakni memiliki kebijaksanaan yang tertinggi kesempurnaan ilmu-Nya serta kerapihannya dalam  membuat segalka sesuatu
48
Al Waduud
الْوَدُودُ
Maha Pecinta, yang menginginkan segala kebaikan untuk seluruh hamba-Nya dan pula berbuat baik pada mereka itu dalam segala hal ikhwal dan keadaan
49
Al Majiid
الْمَجِيدُ
Maha Mulia, yakni yang mencapai tingkat teratas dalam hal kemuliaan dan keutamaan
50
Al Baa’its
الْبَاعِثُ
Maha Membangkitkan, yakni membangkitkan para Rasul, membangkitkan semangat dan kemauan, juga membangkitkan orang-orang yang telah mati dari masing-masing kuburnya nanti setelah tibanya hari kiamat
51
As Syahiid
الشَّهِيدُ
Maha Menyaksikan atau maha Mengetahui keadaan semua makhluk
52
Al Haqq
الْحَقُّ
Maha Haq, Maha Benar yang kekal dan tidak akan berubah sedikitpun
53
Al Wakiil
الْوَكِيلُ
Maha Memelihara penyerahan, yakni memelihara semua urusan hamba-hamba-Nya dan apa-apa yang menjadi kebutuhan mereka itu
54
Al Qawiyyu
الْقَوِيُّ
Maha Kuat, yang memiliki kekuasaan yang sesempurna-sempurnanya
55
Al Matiin
الْمَتِينُ
Maha Kokoh atau Perkasa, yakni memiliki keperkasaan yang sudah samapai di puncaknya
56
Al Waliyy
الْوَلِيُّ
Maha Melindungi, yakni melindungi serta menertibkan semua kepentingan makhluk-Nya kerena kecintaan-Nya yang sangat pada mereka itu dan pemberian pertolongan-Nya yang tidak terbatas pada keperluan mereka
57
Al Hamiid
الْحَمِيدُ
Maha Terpuji, yang memang sudah selakyaknya untuk memperoleh pujian dan sanjungan
58
Al Mushii
الْمُحْصِي
Maha Penghitung, yang tidak satupun tertutup dari panddngan-Nya dan semua amalan itupun diperhitungkan sebagaimana wajarnya
59
Al Mubdi’
الْمُبْدِئُ
Maha Memulai, yang melahirkan sesuatu yang asalnya tidak ada dan belum maujud
60
Al Mu’iid
الْمُعِيدُ
Maha Mengulangi, yakni menumbuhkan kembali setelah lenyapnya atau setelah rusak-Nya
61
Al Muhyii
الْمُحْيِي
Maha Menghidupkan, yakni memberikan daya kehidupan pada setiap sesuatu yang berhak hidup
62
Al Mumiitu
اَلْمُمِيتُ
Yang Mematikan, yakni mengambil kehidupan (ruh) dari apa-apa yang hidup, lalu disebut mati
63
Al Hayyu
الْحَيُّ
Maha Hidup, kekal pula hidup-Nya itu
64
Al Qayyuum
الْقَيُّومُ
Maha Berdirisendiri, baik dzat-Nya, sifat-Nya, af'al-Nya, juga membuat berdirinya apa-apa yang selain Dia; dengan-Nya pula berdirinya langit dan bumi ini
65
Al Waajid
الْوَاجِدُ
Maha Kaya, dapat menemukan apa saja yang diinginkan oleh-Nya, maka tidak membutuhkan pada suatu apapun karena sifat kaya-Nya yang secara mutlak
66
Al Maajid
الْمَاجِدُ
Maha Mulia, sama dengan No 49
67
Al Wahiid
الْواحِدُ
Maha Esa
68
Al ‘Ahad
اَلاَحَدُ
Maha Tunggal
69
As Shamad
الصَّمَدُ
Maha Dibutuhkan, yakni selalu menjadi tujuan dan harapan orang di waktu ada hajat keperluannya
70
Al Qaadir
الْقَادِرُ
Maha Kuasa
71
Al Muqtadir
الْمُقْتَدِرُ
Maha Menentukan
72
Al Muqaddim
الْمُقَدِّمُ
Maha Mendahulukan, yakni mendahulukan sebagian benda dari yang lainnya  dalam perwujudannya, atau dalam kemuliaan, selisih waktu atau tempatnya
73
Al Mu’akkhir
الْمُؤَخِّرُ
Maha Mengakhirkan dan Membelakangkan
74
Al Awwal
الأوَّلُ
Maha Pertama, dahulu sekali dari segala yang maujud
75
Al Aakhir
الآخِرُ
Maha Penghabisan, kekal terus setelah habisnya segala sesuatu yang maujud
76
Az Zhaahir
الظَّاهِرُ
Maha Nyata, yakni menyatakan dan menampakkan kewujudan-Nya itu dengan bukti-bukti dan tanda-tanda ciptaan-Nya
77
Al Baathin
الْبَاطِنُ
Maha Tersembunyi, tidak dapat dimaklumi dzat-Nya, sehingga tidak seorangpun dapat mengenal dzat-Nya itu
78
Al Waali
الْوَالِي
Maha Menguasai, menggenggam segala sesuatu dalam kekuasaan-Nya dan menjadi milik-Nya
79
Al Muta’aalii
الْمُتَعَالِي
Maha Suci, terpelihara dari segala kekurangan dan kerendahan
80
At Tawwaab
التَّوَابُ
Maha Penerima Taubat, memberikan pertolongan kepada orang-orang yang bermaksiat untuk melakukan taubat lalu Allah akan menerimanya
81
Al Muntaqim
الْمُنْتَقِمُ
Maha Penyiksa, kepada orang yang berhak memperoleh siksa-Nya
82
Al Afuww
العَفُوُّ
Maha Pemaaf, pelebur kesalahan orang yang suka kembali untuk meminta maaf pada-Nya
83
Ar Ra`uuf
الرَّؤُوفُ
Maha Pengasih, banyak kerahmatan dan kasihsayang-Nya
84
Malikul Mulk
مَالِكُ الْمُلْكِ
Maha Menguasai Kerajaan, maka segala perkara yang berlaku di alam semesta, langit, bumi, dan sekitarnya serta yang dibaliknya alam semesta itu semuanya sesuai dengan kehendak dan iradat-Nya
85
Dzul Jalaali wal Ikram
ذُوالْجَلاَلِ  وَالإكْرَامِ
Maha Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan, juga dzat yang mempunyai keutamaan dan kesempurnaan, pemberi karunia dan kenikmatan yang amat banyak dan melimpah ruah
86
Al Muqsith
الْمُقْسِطُ
Maha Mengadili, yakni memberikan kemenangan pada  orang-orang yang teraniaya dari tindakan orang-orang yang menganiaya dengan keadilan-Nya
87
Al Jamii’
الْجَامِعُ
Maha Mengumpulkan, yakni mengumpulkan berbagai hakikat yang telah berceraiberai dan juga mengumpulkan seluruh ummat manusia pada hari pembalasan
88
Al Ghaniyy
الْغَنِيُّ
Maha Kaya, maka tidak mebutuhkan apapun dari yang selain dzat--Nya sendiri, tetapi yang selain-Nya itu amat mebutuhkan pada-Nya
89
Al Mughnii
الْمُغْنِي
Maha Pemberi Kekayaan, yakni memberikan kelebihan yang berupa kekayaan yang bverlimpah-limpah kepada siapa saja yang dikehendaki dari golongan hamba-hamba-Nya
90
Al Maani'
اَلْمَانِعُ
Maha Membela atau Maha Menolak, yaitu membela hamba-hamba-Nya yang shalih dan menolak sebab-sebab yang menyebabkan kerusakan
91
Ad Dhaar
الضَّارَّ
Maha Pemberi bahaya, yakni dengan menurunkan siksa-siksa-Nya kepada musuh-musuh-Nya
92
An Nafii’
النَّافِعُ
Maha Pemberi Kemanfaatan,  yakni meratalah kebaikan yang dikaruniakan-Nya itu kepada semua hamba dan negeri
93
An Nuur
النُّورُ
Maha Bercahaya, yakni menonjolkan dzat-Nya sendiri dan menampakan untuk yang selain-Nya dengan menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya
94
Al Haadii
الْهَادِي
Maha Pemberi Petunjuk, yaitu memberikann jalan yang benar segala sesuatu agar langsung adanya dan terjaga kehidupannya
95
Al Baadii
الْبَدِيعُ
Maha Pencipta yang baru, sehingga tidak ada contoh dan yang menyamai sebelum keluarnya ciptaan-Nya itu
96
Al Baaqii
اَلْبَاقِي
Maha Kekal. Yakni kekal hidup-Nya untuk selama-lamanya
97
Al Waarits
الْوَارِثُ
Maha Pewaris, yang kekal setelah musnahnya seluruh makhluk
98
Ar Rasyiid
الرَّشِيدُ
Maha Cendekiawan, yaitu memberi penerangan dan tuntunan pada seluruh hamba-Nya dan yang segala peraturan-Nya itu berjalan menurut keten tuan yang digariskan oleh kebijaksanaan dan kecendekiawanan-Nya
99
As Shabuur
الصَّبُورُ
Maha Penyabar yang tidak tergesa-gesa memberikan siksaan dan tidak pula cepat-cepat melaksanakan sesuatu sebelum waktunya

Catatan: Dalam buku terjemahan Aqidah Islam yang disalin ini tidak mencantumkan tulisan Arab, namun penyalin mamandang perlu untuk mencantumkannya. Dengan demikian jika terjadi perubahan transliterasi tetap bisa mengacu pada tulisan aslinya.

Jalla jalaluh
Dalam Kitab Addinul Islami disebutkan sebagai berikut: Nama-mana Allah yang baik (Asma-ullah Al-Husna) yang tercantum dalam Al-Qu’an Al-Karim yaitu :

1.        Nama-nama yang berhubungan dengan Dzat-Nya, yakni:
a.
Al Wahiid
الْواحِدُ
:
Maha Esa
b.
Al ‘Ahad
اَلاَحَدُ
:
Maha Esa
c.
Al Haqq
الْحَقُّ
:
Maha Benar
d.
Al Quddus
الْقُدُّوسُ
:
Maha Suci
e.
As Shamad
الصَّمَدُ
:
Maha Dibutuhkan
f
Al Ghaniyy
الْغَنِيُّ
:
Maha Kaya
g.
Al Awwal
الأوَّلُ
:
Maha Pertama
h.
Al Aakhir
الآخِرُ
:
Maha Penghabisan
i.
Al Qayyuum
الْقَيُّومُ
:
Maha Berdirisendiri

2.        Nama-nama yang berhubungan dengan penciptaan, yakni:
a.
Al Khaliq
الْخَالِقُ
:
Maha Menciptakan
b.
Al Baari’
الْبَارِئُ
:
Maha Pembuat
c.
Al Mushawwir
الْمُصَوِّرُ
:
Maha Pembentuk
d.
Al Baadii’
الْبَدِيعُ
:
Maha Pencipta Yang Baru

3.        Nama-nama yang berhubungan dengan sifat kecintaan dan kerahmatan, selain dari lafadz Rab (Tuhan), Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang), yakni :
a.
Ar Ra`uuf
الرَّؤُوفُ
:
Maha Pengasih
b.
Al Waduud
الْوَدُودُ
:
Maha Pencinta
c.
Al Lathiif
اللَّطِيفُ
:
Maha halus
d.
Al Haliim
الْحَلِيمُ
:
Maha Penghiba
e.
Al Afuww
العَفُوُّ
:
Maha Pemaaf
f.
As Syakuur
الشَّكُورُ
:
Maha Pembalas, Pemberi Karunia
g.
Al Mu’min
الْمُؤْمِنُ
:
Maha Pemelihara Keamanan
h.
Al Bar
الْبَرُّ
:
Maha Dermawan
i.
Rafi'ud Darajat
:
Maha Tinggi Derajat-Nya
j.
Ar Razzaaq
الرَّزَّاقُ
:
Maha Pemberi Rizki
k.
Al Wahhaab
الْوَهَّابُ
:
Maha Pemberi Rizki
l.
Al Waasi’
الْوَاسِعُ
:
Maha Luas

4.        Nama-nama yang berhubungan dengan keagungan serta kemuliaan Allah Ta’ala, yakni :
a.
Al ‘Azhiim
الْعَظِيمُ
:
Maha Agung
b.
Al ‘Aziiz
الْعَزِيزُ
:
Maha Mulia
c.
Al ‘Aliy
الْعَلِيُّ
:
Maha Tinggi
d.
Al Muta’aalii
الْمُتَعَالِي
:
Maha Suci
e.
Al Qawiyyu
الْقَوِيُّ
:
Maha Kuat
f.
Al Qahhaar
الْقَهَّارُ
:
Maha Perkasa
g.
Al Jabbar
الْجَبَّارُ
:
Maha Perkasa
h.
Al Mutakabbir
الْمُتَكَبِّرُ
:
Maha Megah
i.
Al Kabiir
الْكَبِيرُ
:
Maha Besar
j.
Al Kariim
الْكَرِيمُ
:
Maha Pemurah
k.
Al Hamiid
الْحَمِيدُ
:
Maha Terpuji
l.
Al Majiid
الْمَجِيدُ
:
Maha Mulia
m.
Al Matiin
الْمَتِينُ
:
Maha Kuat
n.
Az Zhaahir
الظَّاهِرُ
:
Maha Nyata
o.
Dzul Jalaali Wal Ikraam
ذُوالْجَلاَلِ  وَالإكْرَامِ
:
Maha Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan

5.        Nama-nama yang berhubungan dengan ilmu-Nya Allah Ta’ala, yakni:
a.
Al ‘Aliim
اَلْعَلِيْمُ
:
Maha Mengetahui
b.
Al Hakiim
الْحَكِيمُ
:
Maha Bijaksana
c.
Al Samii’
السَّمِيعُ
:
Maha Mendengar
d.
Al Khabiir
الْخَبِيرُ
:
Maha Mengetahui Rahasia
e.
Al Bashiir
الْبَصِيرُ
:
Maha Melihat
f.
As Syahiid
الشَّهِيدُ
:
Maha Menyaksikan
g.
Ar Raqiib
الرَّقِيبُ
:
Maha Meneliti
h.
Al Baathin
الْبَاطِنُ
:
Maha Tersembunyi
i.
Al Muhaimin
الْمُهَيْمِنُ
:
Maha Menjaga

6.        Nama-nama yang berhubungan dengan kekuasaan Allah Ta’ala serta cara mengatur terhadap segala sesuatu, yakni :
a.
Al Qaadir
الْقَادِرُ
:
Maha Kuasa
b.
Al Wakiil
الْوَكِيلُ
:
Maha Pemelihara Penyerahan
c.
Al Waliyy
الْوَلِيُّ
:
Maha Melindungi
d.
Al Hafizh
الْحَفِيظُ
:
Mmaha Pemelihara
e.
Al Malik
الْمَلِكُ
:
Maha Merajai
f.
Al Maalik
الْمَلِكُ
:
Maha Memiliki
g.
Al Fattaah
الْفَتَّاحُ
:
Maha Pembuka
h.
Al Hasiib
الْحسِيبُ
:
Maha Penjamin
i.
Al Muntaqim
الْمُنْتَقِمُ
:
Maha Penyiksa
j.
Al Muqiit
المُقيِت
:
Maha Pemberi Kecukupan

7.        Ada pula nama-nama lain yang tidak disebutkan dalam nash-Nya Al-Qur’an Al-Karim, tetapi merupakan sifat-sifat yang erat kaitannya dengan sifat-sifat yang erat kaitannya dengan sifat atau perbuatan Allah Ta’ala yang tercantum dalam Al-Qur’an Al-Karim, yakni :
a.
Al Qaabidh
الْقَابِضُ
:
Maha Pencabut
b.
Al Baasith
الْبَاسِطُ
:
Maha Meluaskan
c.
Ar Raafi’
الرَّافِعُ
:
Maha Mengangkat
d.
Al Mu’izz
الْمُعِزُّ
:
Maha Pemberi Kemuliaan
e.
Al Mudzil
المُذِلُّ
:
Maha Pemberi Kehinaan
f.
Al Mujiib
الْمُجِيبُ
:
Maha Mengabulkan
g.
Al Baa’its
الْبَاعِثُ
:
Maha Membangkitkan
h.
Al Mushii
الْمُحْصِي
:
Maha Menghitung
i.
Al Mubdi’
الْمُبْدِئُ
:
Maha Memulai
j.
Al Mu’iid
الْمُعِيدُ
:
Maha Mengulangi
k.
Al Muhyii
الْمُحْيِي
:
Maha Menghidupkan
l.
Al Mumiitu
اَلْمُمِيتُ
:
Maha Mematikan
m.
Malikul Mulk
مَالِكُ الْمُلْكِ
:
Maha Menguasai Kerajaan
n.
Al Jamii’
الْجَامِعُ
:
Maha Mengumpulkan
o.
Al Mughnii
الْمُغْنِي
:
Maha Pemberi Kekayaan
p.
Al-Mu'thi
:
Maha Pemberi
q.
Al Maani
اَلْمَانِعُ
:
Maha Membela, Maha Menolak
r.
Al Haadii
الْهَادِي
:
Maha Pemberi Petunjuk
s.
Al Baaqii
اَلْبَاقِي
:
Maha Kekal
t.
Al Waarits
الْوَارِثُ
:
Maha Pewaris

8.        Ada pula nama-nama lain bagi Allah Ta’ala yang terambil dari makna atau pengetian nama-nama yang terdapat dalam Al-Qur’an Al-Karim, yakni :
a.
An Nuur
النُّورُ
:
Maha Bercahaya
b.
As Shabuur
الصَّبُورُ
:
Maha Penyabar
c.
Ar Rasyiid
الرَّشِيدُ
:
Maha Cendekiawan
d.
Al Muqsith
الْمُقْسِطُ
:
Maha Mengadili
e.
Al Waali
الْوَالِي
:
Maha Menguasai
f.
Al Jaliil
الْجَلِيلُ
:
Maha Luhur
g.
Al ‘Adl
الْعَدْلُ
:
Maha Adil
h.
Al Khaafidh
الْخَافِضُ
:
Maha Menjatuhkan
i.
Al Waajid
الْوَاجِدُ
:
Maha Kaya
j.
Al Muqaddim
الْمُقَدِّمُ
:
Maha Mendahulukan
k.
Al Mu’akkhir
الْمُؤَخِّرُ
:
Maha Mengakhirkan
l.
Ad Dhaar
الضَّارَّ
:
Maha Pemberi Bahaya
m.
An Nafii’
النَّافِعُ
:
Maha Pemberi Kemanfaatan

Catatan: Dalam buku terjemahan Aqidah Islam yang disalin ini tidak mencantumkan tulisan Arab, namun penyalin mamandang perlu untuk mencantumkannya. Dengan demikian jika terjadi perubahan transliterasi tetap bisa mengacu pada tulisan aslinya.


NAMA  ALLAH  YANG TERAGUNG

Sebagaimana kita memaklumi bahwasannyua Allah Ta’ala itu mempunyai beberapa buah nama yang baik-baik, tetapi Dia juga mempunyai sebuah nama yang teragung[2] di antara semua nama itu yang jikalau dengan nama itu Dia dimintai, pastilah permintaan itu akan dikabulkan dan jikalau sesuatu doa dipanjatkan dengan menggunakan nama tersebut, maka doa itu akan diluluskan.
Mengenai nama Allah Ta’ala Al-Adzam (teragung) itu disebutkan dalam beberapa hadits diantaranya sebagaimana yang tercantum di bawah ini :
Pertama : Diriwayatkan dari Buraidah r.a., katanya :



“Suatu ketika Nabi saw mendengar seorang lelaki berdoa dan ia berkata: ALLAHUMMA INNI AS’ALUKA BI-ANNI ASYHADU ANNAKA ANTAL-LAHU LAA ILAHA ANTAL AHADUSH-SHAMAD, ALLADZI LAM YALID WALAM YUULAD WALAM YAKUL-LAHUU KUFUWAN AHAD (Artinya: Ya Allah sehungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan pengakuan bahwa aku menyaksikan bahwa Engkau-lah Allah yang tiada Tuhan selain dari-Mu, Maha Esa, Maha Dibutuhkan, yang tidak berputra, tidak diputrakan dan tidak ada sesuatu apapun yang menyamai-Nya).buraidah melanjutkan keterangannya, demi mendengar itu lalu Nabi saw bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya, sesungguhnya orang itu telah memeohon kepda Allah dengan nama-Nya yang teragung, yang apabila dipanjatkan doa dengan menggunakan nama itu maka Allah akan mengabulkannya dan apabila dimintai pasti akan diberinya”. [3]

Kedua :  Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, katanya :



Nabi saw. Suatu ketika masuk ke dalam masjid dan di situ ada seorang laki-laki[4] yang sudah bersembahyang dan di dalam do’anya ia mengucapkan: “ALLAHUMMA LAA ILAHA ILLALLAHI ANTAL MANNAN, BADI’US SAMAWATI WAL ARDLI, DZULJALALI WAL IKRAM” (Artinya: Ya Allah, tiada Tuhan melainkan Allah, Engkau adalah Maha Pemberi Karunia, Maha Pencipta langit dan bumi, Maha memiliki keagungan dan kemuliaan) [5] Demi Nabi saw mendengar itu, lalu beliau saw bersabda, ‘Tahukah kamu semua, dengan lafadz apakah orang itu berdoa? Ia berdoa dengan menggunakan nama Allah yang teragung, yang apabila ia dipakai untuk berdoa maka akan mengabulkan dan apabila diminta tentu memberi.’
Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasaa’i, dan Ibnu Majah.

Ketiga : Diriwayatkan dari Asma’ puteri Yasid r.a, katanya : Nabi saw bersabda :



Nama Allah teragung itu terletak dalam dua buah ayat ini, yaitu: WA ILAHUKUM I-LAHUW WAHID. LAA ILAHA ILLA HUWAR RAHMANUR RAHIM (Artinya: Dan Tuhan-mu semua adalah Tuhan yang maha Esa. Tiada Tuhan melainkan Dzat yang Maha Pengasih lagi Penyayang). Dan dipermulaan Surat Ali ‘Imran, yaitu : ALIF LAAM MIIM. LAA ILAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUM” (Alif Laam Miim - Allah Ta’ala lebih mengetahui apa tujuannya kata-kata ini – Tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Hidup lagi Berdirisendiri) [6]

Keempat : Dari Sa’id bin Malik ra, katanya : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda :



Sukakah kamu semua saya tunjukkan nama Allah yang teragung, yang jikalau digunakan untuk berdoa dengannya itu maka Allah mengabulkan dan jikalau diminta maka memberi?. Yaitu doa yang dengannya itulah Yunus memohonkan kepada Tuhan agar diselamatkan, yakni ketika memanggil-Nya dalam kegelapan tiga macam (maksudnya kegelapan dalam kegelapan yang bertumpuk-tumpuk karena saat itu beliau as. Dalam perut ikan hut atau ikan hiu yang menelannya. Doa itu ialah LAA ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNA KUNTU MINADZ DZALIMIIN (Artinya: Tiada Tuhan melainkan Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya hamba ini termasuk golongan orang yang menganiaya diri sendiri). Kemudia ada seorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah doa itu khusus untuk Nabi Yunus as. Saja ataukah umum untuk semua orang mukmin?” Belaiu bersabda, “Apakah engkau tidak pernah mendengan firman Allah ‘Azza wa jala yang artinya: Dan Kami (Allah) menyelamatkan Yunus dari kedukaannya dan demikian itu pulalah Kami menyelamatkan semua orang mukmin”
Hadits ini diriwayatkan oleh Hakim

Inilah nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang membukakan bidang yang amat luas sekali dari hal kema’rifatan kepada Allah Ta’ala jukalau seseorang sudah memahaminya dan dapat mencapai makna dan pengertiannya, juga apabila jiwanya sudah dapat meresapkan dan berkesan dalam kalbunya seta suka mempergunakannya sebagai pelita. Dengan menyelidiki nama-nama tersebut akan terbuka jelaslah sebesar-besar hakikat yang ada dalam alam semesta yang maujud ini. [7]


[1] Menghafal nama-nama yang baik itu maksudnya ialah mengingat-Nya, menghadirkan makna dan artinya dalam kalbu serta merasakan bekasnya dalam jiwa
[2] Para alim ulama sama berselisih pendapat dalam menentukan nama teragung bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala itu. Tetapi yang rajih (dapat dianggap kuat dan baik digunakan sebagai pegangan dan pedoman) ialah pendapat yang mengatakan bahwa mana teragung yang dimaksudkan itu ialah merupakan kalimat yang tersusun dari beberapa buah nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jikalau kalimat ini digunakan oleh seseorang untuk berdoa kepada Allah Ta’ala dengan melengkapi semua syarat berdoa yang ditentukan menurut peratursan syari’at, maka Alloh akan mengabulkan doanya tersebut.
Jadi nama teragung itu bukanlah sebagai suatu rahasia yang tersembunyi atau seolah-olah sebagai suatu hal yang ghaib yang hanya diberikan atau diperlihatkan oleh Allah Ta’ala kepada orang yang tertent saja, sedang lain orang yang bukan termasuk khusus lalu tidak dapat mengetahuinya. Itu sama sekali tidak.
Anggapan bahwa nama Allah Ta’ala yang teragung itu hanya dimiliki orang-orang khusus, kiranya sudah menjadi adat istiadat bagi sementara golongan, sehingga karena anggapa keliru seperti itu, lalu yang merasa sudah mengetahuinya itu meyakinkan sudah dapat mentahkikkannya, sedang orang yang selain itu tidak dapat. Sebenarnya kita tidak patut sama sekali menambah-nambahkan apa-apa yang ada di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw sekalipun hanya sedikit saja.
[3] Hadits di atas diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasaa’i, dan Ibnu Majah.
Al-Mundziri berkata : Syekh (Guru saya) Abul Hasan Al-Maqdisi mengatakan bahwa sanad dari Hadits ini tidak ada yang mencela diantara ahli hadits yang kenamaan. Saya sendiri belum pernah mengetahui ada suatu hadits yang lebuh baik dari hadits ini yang memperbincangkan soal nama Allah Ta’ala yang teragung itu.
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Inilah yang paling rajih (menang) yang berhubungan dengan hal nama Allah Ta’ala yang teragung (a’dzam) itu, jikalau ditilik dari segi sanadnya. Untuk ini silakanlah mengulangi pembahasannya dalam Kitab Fiqhus Sunnah Jilid II
[4] Orang yang bersembahyang ketika Rasulullah saw masuk masjid itu menurut keterangan Imam Nawawi dengan mengutip ucapan Imam Al-Khatib demikian: Orang yang dimaksud dalam hadits tersebut di atas itu ialah Abu Abbas Zaid bin Shamit Al-Anshari Arriski.
[5] Dzuljalal artinya yang memiliki keagungan dan kemegahan, dzul ikram artinya yang memiliki kemuliaan dan keutamaan karunia yang dilimpahkan kepda hamba-hamba-Nya yang dikasihi serta disayangi.
[6] Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan shahih.
[7] Ada sementara orang yang mengira bahwa dari antara sekian banyak nama-nama Allah yang mulia-mulia dan baik-baik itu ada sebagian nama yang mempunyai khususiat (keistimewaan) yang tertentu, sehingga barangsiapa yang mengekalkan membacanya, maka ia akan memperoleh kebaikan atau rizki yang banyak, serta dapat mengerjakan hal-hal yang ajaib dan perbuatan-perbuatan yang luar biasa. Tetapi penyangkaan yang sedemikian ini sama sekali tidak ada keterangannya dalam agama kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan Hati Seorang Dara

dalam cacatan kecil pada serpihan kertas yang tergeletak di antara tumpukan kertas seorang dara yang telah cukup usia  menuliskan episode pe...